Menghitung Hari jelang Piala Dunia, Mengenang Drama, Kontroversi, hingga Mitos 'Kutu

  • 29 Mei 2026 18:37 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Demam Piala Dunia kini mulai kembali dirasakan oleh jutaan pasang mata di seluruh penjuru dunia. Menyambut momentum pesta sepak bola sejagat yang sudah berada di depan mata, program siniar Bolcast menghadirkan obrolan mendalam bersama pengamat sepak bola nasional, Bung Kus, guna membedah alasan di balik besarnya pesona turnamen empat tahunan tersebut.

Bung Kus memaparkan bahwa keistimewaan utama Piala Dunia yang membedakannya dengan kompetisi lain—seperti Piala Eropa atau Liga Champions—adalah kemampuannya dalam menghadirkan drama di atas lapangan. Faktor drama inilah yang magnet utamanya sukses menyedot perhatian hingga miliaran penonton televisi di seluruh dunia secara konsisten.

Kilas Balik Momen Ikonik dan Sentuhan 'Tangan Tuhan'

Dalam sejarahnya, turnamen ini melahirkan banyak sekali momen legendaris yang melekat erat di memori kolektif publik lintas generasi:

  • Rambut Gondrong Mario Kempes (1978): Gaya rambut ikonik penyerang legendaris Argentina ini sempat menjadi tren global yang digilai para penggemar sepak bola pada masanya.
  • Tangisan Roberto Baggio (1994): Kegagalan eksekusi penalti sang maestro asal Italia di partai final menjadi salah satu momen paling memilukan sekaligus emosional yang terus diingat.
  • Gol Tangan Tuhan Maradona (1986): Terjadi pada 22 Juni 1986 saat Argentina bersua Inggris. Melalui kecerdikan mencuri momentum lompatan terhadap kiper Peter Shilton, Maradona menciptakan gol yang secara teknis dinilai mustahil, namun tetap disahkan oleh wasit.
  • Goal of the Century: Tercipta hanya berselang 5 menit setelah gol tangan Tuhan. Maradona melakukan aksi solo run sejauh 68 meter dari area pertahanan sendiri selama 11 detik, melewati 5 hingga 6 pemain top Inggris termasuk Terry Butcher, Terry Fenwick, Glenn Hoddle, hingga kiper Peter Shilton.

Tragedi Sad Ending Zinedine Zidane di Final 2006

Drama Piala Dunia tidak selalu berakhir dengan senyuman indah (happy ending). Tragedi tandukan Zinedine Zidane kepada bek Italia, Marco Materazzi, pada menit ke-110 di Final Piala Dunia 2006 menjadi bukti nyata tingginya tensi pertandingan.

Laga tersebut merupakan 'one last dance' alias tarian terakhir Zidane sebelum gantung sepatu. Meski berakhir tragis dengan kartu merah dan kegagalan Prancis mengangkat trofi, masyarakat Prancis secara luar biasa tetap memaafkan sang maestro. Berdasarkan jajak pendapat media lokal saat itu, mayoritas publik menganggap kontribusi besar Zidane sepanjang kariernya jauh lebih berharga dibanding satu kesalahan di laga pamungkas.

Dongeng Korea Selatan 2002 dan Mitos 'Kutukan' Juara Bertahan

Menanggapi kontroversi kesuksesan Korea Selatan menembus babak semifinal pada tahun 2002 setelah menumbangkan tim raksasa seperti Italia lewat gol emas Ahn Jung-hwan, Bung Kus mengajak publik untuk melihatnya secara objektif.

Menurutnya, kejutan luar biasa tersebut tidak lepas dari faktor status mereka sebagai tuan rumah serta buah manis dari proses persiapan panjang dan berdarah-darah selama 2 tahun di bawah asuhan Guus Hiddink.

Selain kejutan tim minor, Piala Dunia juga kerap diwarnai oleh fenomena "kutukan juara bertahan" yang langsung tersungkur di fase grup pada edisi berikutnya. Salah satu contoh paling mencolok adalah saat Prancis yang berstatus jawara 1998 harus takluk 0-1 dari tim debutan Senegal lewat gol Papa Bouba Diop pada laga pembuka Piala Dunia 2002. Absennya Zidane karena cedera serta pemahaman mendalam para pemain Senegal yang mayoritas merumput di Liga Prancis menjadi kunci runtuhnya sang raksasa kala itu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....