Langit Baru David Byrne Menyapa Asia

  • 28 Mei 2026 10:30 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Musisi legendaris sekaligus eks frontman David Byrne kembali menegaskan kreativitasnya yang tak pernah padam. Melalui album terbaru bertajuk Who Is The Sky?, Byrne mengumumkan rangkaian tur dunia sepanjang 2026, termasuk tur Asia yang akan membuka perjalanan regionalnya di Singapura pada 7 Agustus 2026 di The Star Theatre. Pengumuman ini langsung disambut antusias para penggemar musik alternatif dan art rock di berbagai negara.

Album Who Is The Sky? menjadi karya penuh pertama Byrne sejak American Utopia pada 2018, proyek yang berkembang dari album menjadi tur dunia, pertunjukan Broadway, hingga film garapan Spike Lee. Kali ini, Byrne kembali menghadirkan pendekatan musikal yang unik—menggabungkan nuansa teatrikal, orkestrasi intim, serta lirik reflektif yang membahas hubungan manusia di tengah dunia modern yang kacau.

Tur terbaru Byrne juga dirancang dengan konsep pertunjukan yang dinamis. Sebanyak 13 musisi, penyanyi, dan penari akan tampil bersama Byrne, termasuk para personel dari era American Utopia. Seluruh pemain disebut akan bergerak bebas di atas panggung, menciptakan pengalaman konser yang hidup dan imersif. Setelah memulai tur di Amerika Utara, Byrne melanjutkan perjalanan ke Australia, Selandia Baru, Eropa, Inggris, hingga akhirnya tiba di Asia.

Album ini diproduseri oleh peraih Grammy Kid Harpoon yang sebelumnya bekerja bersama Harry Styles dan Miley Cyrus. Aransemen musiknya dikerjakan oleh Ghost Train Orchestra, menghadirkan warna orkestrasi eksperimental yang memperkaya karakter lagu-lagu Byrne. Sejumlah nama besar juga ikut terlibat, seperti St. Vincent, Hayley Williams, hingga drummer Tom Skinner.

Single utama “Everybody Laughs” menjadi gambaran arah musikal album ini. Byrne menyebut lagu tersebut lahir dari pengamatannya terhadap kehidupan manusia di New York—tentang semua orang yang tertawa, menangis, tidur, hingga memandang langit-langit kamar mereka. Di balik lirik yang tampak sederhana, Byrne mencoba menyeimbangkan sisi reflektif dengan groove dan melodi yang tetap terasa hangat dan optimistis.

Menariknya, proses kreatif album ini lahir dari fase kontemplatif Byrne pasca berakhirnya American Utopia pada 2023. Dalam periode tersebut, ia banyak menghabiskan waktu memasak makanan Meksiko dan India, menggambar, serta menuliskan ide-ide kecil tentang kehidupan sehari-hari. Pertanyaan eksistensial tentang makna berkarya dan pentingnya musik perlahan berkembang menjadi fondasi emosional Who Is The Sky?.

Album ini juga menghadirkan sejumlah “lagu cerita” dengan tema unik dan penuh humor. Mulai dari “My Apartment Is My Friend” yang memandang apartemen sebagai sahabat setia, hingga “I Met the Buddha at a Downtown Party” yang membayangkan Buddha justru tertarik pada makanan penutup tidak sehat. Byrne seakan mengajak pendengarnya melihat absurditas hidup dengan cara yang ringan namun tetap menyentuh.

Melalui Who Is The Sky?, Byrne kembali membuktikan bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk merayakan kemanusiaan. Di usia yang semakin matang, ia justru terlihat semakin bebas bereksperimen dan keluar dari zona nyaman. Tur Asia mendatang pun bukan hanya menjadi konser biasa, tetapi juga perjalanan artistik seorang musisi yang terus mencari makna baru di balik setiap nada dan cerita.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....