James F Sundah Wafat, Warisan Musiknya Melintasi Generasi
- 08 Mei 2026 19:16 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- James F. Sundah meninggal dunia di New York pada Kamis, 7 Mei 2026.
- Karyanya seperti “Lilin-Lilin Kecil” dan “September Ceria” menjadi penanda penting musik Indonesia lintas generasi.
- Selain komposer, James dikenal aktif memperjuangkan hak cipta dan pembenahan ekosistem musik nasional.
RRI.CO.ID, Jakarta – Dunia musik Indonesia kehilangan salah satu komponis paling berpengaruhnya. Musisi senior James F. Sundah meninggal dunia di New York, Amerika Serikat, Kamis, 7 Mei 2026, pukul 11.28 waktu setempat dalam usia 70 tahun.
Sosok yang dikenal lewat karya-karya seperti Lilin-Lilin Kecil, September Ceria, hingga Ironi itu bukan sekadar pencipta lagu populer. Ia juga dikenal sebagai produser, mentor, dan pejuang hak cipta yang membentuk arah industri musik Indonesia modern sejak era 1970-an.
Pengamat musik Indonesia Wendi Putranto mengenang James sebagai sosok hangat yang mencintai musik dan kemanusiaan. “Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi dunia musik Indonesia,” ujar Wendi dalam keterangan kepada kantor berita ANTARA di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.
Menurut Wendi, dedikasi James membuatnya dihormati bukan hanya sebagai pencipta lagu, tetapi juga mentor bagi banyak musisi lintas generasi. Ia menyebut karya-karya James telah menjadi “soundtrack kehidupan” masyarakat Indonesia selama puluhan tahun.
Nama James F. Sundah mulai dikenal luas ketika lagu “Lilin-Lilin Kecil” memenangkan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada 1977. Dalam wawancara bersama penyiar RRI Jakarta, Yudi Ismail, James pernah mengungkap bahwa lagu itu lahir dari kegelisahannya melihat manusia membutuhkan harapan kecil di tengah situasi gelap. Wawancara itu kemudian diulas dalam program siaran musik informasi "Warta Musik Indonesia" di Pro 3 RRI.
“Saya melihat kalau lilin satu saja tidak bisa menjadi arti apa-apa, tapi kalau lilin-lilin, banyak orang bersama-sama saling solidaritas, dunia yang tadinya sekusut apa pun akan jadi lebih baik,” ucap James kala itu.
Lagu tersebut kemudian dipopulerkan oleh Chrisye dan menjadi salah satu karya paling ikonik dalam sejarah musik Indonesia. Majalah Rolling Stone Indonesia bahkan menempatkan “Lilin-Lilin Kecil” dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa pada 2009.
Dalam wawancara yang sama, James mengaku tidak pernah menyangka lagu pertamanya justru menjadi tonggak kariernya di industri musik. “Saya masih SMA waktu itu, di SMA 3 Jakarta. Kehidupan bermusik sangat kondusif dan banyak melahirkan musisi besar,” ujarnya.
Karier James kemudian berkembang melampaui peran sebagai pencipta lagu. Ia ikut membangun warna musik sejumlah penyanyi besar Indonesia seperti Vina Panduwinata, Januari Christy, Ruth Sahanaya, hingga Krisdayanti.
Salah satu karya pentingnya bersama Vina adalah lagu “September Ceria”. James menyebut lagu itu lahir bertepatan dengan hadirnya Undang-Undang Hak Cipta di Indonesia pada 1982. “Saya mulai paham bahwa hak cipta sangat berkaitan erat dengan karya-karya cipta,” kata James.
Kesadaran terhadap pentingnya hak cipta membuat James aktif memperjuangkan perlindungan karya musisi Indonesia. Ia kemudian menjadi bagian dari Lembaga Manajemen Kolektif Nasional bersama sejumlah musisi lain untuk mengawal distribusi royalti dan perlindungan hak ekonomi pencipta lagu.
Perjuangan itu tidak lepas dari kegelisahannya melihat Indonesia pernah dicap sebagai salah satu negara pembajak musik terbesar di dunia pada era 1980-an. James bahkan menjadi penggerak proyek album “Suara Persaudaraan” yang melibatkan puluhan musisi Indonesia sebagai simbol solidaritas industri musik nasional.
“Musik itu ternyata punya kekuatan untuk menolong,” ujar James dalam wawancara bersama RRI. Ia menilai kebersamaan para musisi saat itu menjadi jawaban moral atas tuduhan pembajakan yang dialamatkan kepada Indonesia.
Di luar karya-karya nasional, James juga tercatat ikut menulis lagu internasional “When You Came Into My Life” bersama personel grup musik rock Jerman Scorpions. Lagu tersebut masuk dalam album “Pure Instinct” dan memperlihatkan kiprahnya yang melintasi batas industri musik Indonesia.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, James tetap aktif berkarya meski berjuang melawan kanker paru-paru sejak 2024. Ia merilis lagu terakhir berjudul “Seribu Tahun Cahaya” pada Oktober 2025 yang dinyanyikan Claudia Emmanuela Santoso.
Sebulan setelah perilisan lagu tersebut, James menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dalam ajang Anugerah Musik Indonesia Awards 2025. Penghargaan itu menjadi penegasan atas jejak panjangnya dalam membentuk sejarah musik populer Indonesia.
Rencananya, keluarga akan menggelar ibadah penghiburan pada Minggu, 10 Mei 2026, di Schwartz Brothers Memorial Chapel, New York. Prosesi pemakaman dilanjutkan Senin, 11 Mei 2026, di St. John Cemetery, Amerika Serikat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....