Kilau Kenangan RRI Angkat Sejarah Kota Tua Jakarta di Udara

  • 13 Apr 2026 08:11 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Program siaran Kilau Kenangan yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia pada Minggu malam, 12 April 2026, menghadirkan sajian nostalgia yang dikombinasikan dengan penguatan narasi sejarah Kota Tua Jakarta. Disiarkan pukul 21.00 hingga 24.00 WIB melalui RRI Digital, DAB+, dan 91,2 FM RRI Pro 1 Jakarta, program ini mengangkat Kota Tua sebagai ruang memori kolektif sekaligus situs historis.

Dipandu oleh penyiar Mika Kartika, siaran ini mengajak pendengar tidak hanya menikmati lagu-lagu era 60 hingga 90-an, tetapi juga merefleksikan pengalaman personal mereka terkait Kota Tua. Interaksi melalui pesan pendengar menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki makna yang beragam, mulai dari tempat rekreasi, ruang sosial, hingga lokasi yang menyimpan kenangan masa lalu.

Mika Kartika Penyiar Kanal Kenangan RRI. Foto: RRI/Yanti

Dalam konstruksi narasinya, siaran ini menempatkan Kota Tua Jakarta sebagai kawasan yang memiliki akar sejarah kuat sejak abad ke-17. Pada masa itu, wilayah ini dikenal sebagai Batavia dan berfungsi sebagai pusat pemerintahan serta perdagangan Hindia Belanda. Aktivitas ekonomi, administrasi, dan sosial terpusat di kawasan ini, menjadikannya sebagai episentrum perkembangan kota pada masa kolonial.

Jejak historis tersebut masih dapat dilihat melalui bangunan-bangunan kolonial yang kini berstatus cagar budaya. Keberadaan museum, arsip, serta dokumentasi visual menjadi medium penting dalam menjaga kontinuitas sejarah sekaligus memperkuat literasi publik terhadap perkembangan kota.

Baca Juga:

Kilau Kenangan RRI: Lagu Queen Bikin Merinding!

Salah satu bangunan yang memiliki peran sentral adalah Museum Fatahillah. Pada masa kolonial, bangunan ini berfungsi sebagai Balai Kota Batavia (Stadhuis), yang menjadi pusat administrasi pemerintahan dan aktivitas peradilan. Selain itu, ruang bawah tanahnya digunakan sebagai penjara bagi tahanan pada masa tersebut. Fungsi ini menunjukkan bahwa bangunan tersebut tidak hanya menjadi simbol kekuasaan administratif, tetapi juga bagian dari sistem kontrol sosial kolonial.

Selain aspek historis, siaran ini juga menyoroti transformasi Kota Tua Jakarta dalam konteks kontemporer. Kawasan yang sempat mengalami degradasi kini berkembang menjadi destinasi wisata berbasis ekonomi kreatif. Aktivitas seperti bersepeda ontel, fotografi, hingga eksplorasi kuliner menjadi bagian dari praktik pemanfaatan ruang yang baru.

Partisipasi pendengar dalam berbagi pengalaman memperlihatkan bahwa Kota Tua tidak hanya dimaknai sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai ruang simbolik yang menyimpan memori kolektif. Pengalaman tersebut terbentuk melalui interaksi sosial yang berlangsung lintas waktu, dari masa lalu hingga masa kini.

Pada bagian reflektif, siaran ini menegaskan pentingnya pelestarian kawasan Kota Tua sebagai warisan budaya. Upaya menjaga kebersihan, tidak merusak fasilitas, serta menghargai nilai sejarah menjadi bagian dari tanggung jawab publik dalam mempertahankan identitas kota.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....