Tradisi Tali Asih Banyumasan RRI Jakarta Angkat Nilai Kepedulian

  • 04 Apr 2026 16:17 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID.Jakarta: Tradisi tali asih kembali menjadi sorotan dalam program Apresiasi Budaya Banyumasan yang disiarkan Pro 4 RRI Jakarta pada Jumat, 3 April 2026. Bertempat di Studio Seni Jawa lantai 2, acara tersebut menghadirkan narasumber Eko Indiarto, Ketua Pelaksana Santunan Anak Yatim Piatu dan Duafa 2026. Dipandu oleh host Dermawan Ismail bersama Kang Jori Guplak, suasana dialog berlangsung hangat, penuh nilai kemanusiaan dan kearifan lokal yang masih kuat dijaga hingga kini.

Dalam pandangannya, Eko Indiarto menegaskan bahwa tradisi tali asih bukan sekadar kegiatan berbagi secara materi, melainkan bentuk nyata dari kepedulian sosial yang berakar pada budaya gotong royong masyarakat Banyumas. Ia menjelaskan, santunan kepada anak yatim piatu dan kaum duafa menjadi medium untuk mempererat hubungan antarsesama, sekaligus menghidupkan kembali nilai empati di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis.

Lebih lanjut, Eko menyampaikan bahwa kegiatan santunan yang ia koordinatori pada tahun 2026 ini tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga membangun kebersamaan. “Tali asih adalah jembatan rasa. Di situ ada keikhlasan, ada kebersamaan, dan ada harapan untuk saling menguatkan,” ujarnya. Menurutnya, tradisi ini mampu menciptakan ruang pertemuan lintas kalangan, sehingga memperkokoh persaudaraan tanpa memandang latar belakang sosial.

Host Dermawan Ismail dan Kang Jori Guplak turut menggali lebih dalam bagaimana relevansi tradisi tali asih di era sekarang. Eko menilai bahwa di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup modern, nilai-nilai seperti kepedulian dan kebersamaan justru harus semakin diperkuat. Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial yang sarat makna tersebut.

Menutup perbincangan, Eko Indiarto mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus melestarikan tradisi tali asih sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Ia menekankan bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari kemajuan ekonominya, tetapi juga dari kepedulian terhadap sesama. Melalui tradisi ini, tali persaudaraan diyakini akan tetap terjaga, bahkan semakin erat di tengah dinamika zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....