Cerita Halal Bihalal yang Bikin Haru di Kilau Kenangan
- 30 Mar 2026 07:51 WIB
- Jakarta
Mika Kartika siaran program Kilau Kenangan(Dok: Kanal Kenangan RRI)
RRI.CO.ID, Jakarta - Malam Minggu, 29 Maret 2026, terasa lebih hangat bersama program Kilau Kenangan yang mengudara selama tiga jam penuh, mulai pukul 21.00 hingga 24.00 WIB. Dipandu oleh Mika Kartika, program ini tidak sekadar menghadirkan lagu-lagu nostalgia, tetapi juga membuka ruang berbagi cerita yang menyentuh hati tentang tradisi halal bihalal pasca-Lebaran.
Siaran ini dapat dinikmati melalui berbagai platform, mulai dari DAB+, aplikasi RRI Digital, hingga siaran radio 91,2 FM RRI Pro 1 Jakarta, menjadikannya mudah diakses kapan pun dan di mana pun.

Makna Halal Bihalal: Lebih dari Sekadar Tradisi
Dalam perbincangan yang mengalir hangat, Kilau Kenangan mengajak pendengar memahami makna halal bihalal secara lebih mendalam. Secara konseptual, istilah “halal” dimaknai sebagai kondisi terbebas dari dosa, sehingga halal bihalal merepresentasikan proses saling memaafkan dengan ketulusan hati.
Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan simbol rekonsiliasi sosial—ruang untuk memperbaiki hubungan, menghapus kesalahpahaman, dan mempererat kembali ikatan antarmanusia.
Asal Usul Halal Bihalal: Dari Istana hingga Tradisi Rakyat
Kilau Kenangan juga mengulas akar historis halal bihalal yang menarik. Salah satu versi menyebutkan bahwa tradisi ini dipopulerkan oleh Soekarno pada tahun 1948. Saat itu, pertemuan halal bihalal menjadi strategi sosial-politik untuk meredakan konflik dan memperkuat persatuan bangsa pasca-kemerdekaan.
Namun, jejak tradisi ini ternyata lebih tua. Dalam catatan sejarah Jawa, praktik silaturahmi pasca-Lebaran telah dilakukan sejak masa Mangkunegara I di Surakarta, di mana masyarakat dan abdi dalem berkumpul sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan.
Fakta Menarik Halal Bihalal yang Jarang Diketahui
Tidak hanya historis, program ini juga mengangkat sejumlah fakta menarik yang memperkaya pemahaman pendengar:
Halal bihalal bukan kewajiban dalam ajaran Islam, tetapi dipandang sebagai praktik baik karena mendorong silaturahmi dan saling memaafkan.
Tradisi ini pernah ditiadakan secara resmi di Istana Negara pada masa Soeharto tahun 1987 sebagai bagian dari kebijakan penghematan nasional.
Sejak era 1980-an, halal bihalal juga identik dengan perayaan kuliner Nusantara, mulai dari sop buntut hingga sate padang, yang memperkuat dimensi budaya dalam praktik ini.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa halal bihalal tidak hanya bersifat religius, tetapi juga memiliki dimensi sosial, budaya, dan bahkan politik.
Cerita Haru dari Pendengar
Sesuai dengan semangat partisipatifnya, Kilau Kenangan menghadirkan berbagai cerita pendengar yang sarat emosi dan kenangan.
Salah satu kisah datang dari Ibu Siska di Condet, yang mengenang momen halal bihalal di rumah sang nenek. Seluruh keluarga besar berkumpul, dari generasi tertua hingga anak-anak, menciptakan suasana hangat yang kini hanya bisa dirindukan.
Cerita lain dari Pak Azhar di Bekasi menggambarkan kebersamaan warga lingkungan yang berkumpul beberapa hari setelah Lebaran. Sederhana, namun penuh makna—makan bersama, berbagi cerita, dan mempererat hubungan sosial.
Tak kalah menyentuh, Pak Andi di Tangerang mengingat bagaimana halal bihalal menjadi momen langka untuk menyapa tetangga yang jarang ditemui, sementara Ibu Rina di Bogor merasakan bahwa tradisi ini adalah satu-satunya kesempatan bertemu keluarga jauh.
Rangkaian cerita ini memperlihatkan bahwa halal bihalal bukan sekadar acara formal, tetapi ruang emosional yang menyimpan kenangan kolektif masyarakat Indonesia.
Selama tiga jam siaran, Kilau Kenangan berhasil menghadirkan perpaduan antara nostalgia, edukasi, dan kedekatan emosional. Program ini tidak hanya menghidupkan kembali lagu-lagu kenangan, tetapi juga mengangkat nilai-nilai sosial yang tetap relevan di era digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....