Crocodile Tears Kisah Cinta Keluarga Berbalut Teror Psikologis
- 16 Mar 2026 05:50 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Film Crocodile Tears akhirnya siap menyapa penonton Indonesia setelah menempuh perjalanan panjang di berbagai festival film dunia. Dari akun Instagram @Talamedia_co, diumumkan bahwa film ini akan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 7 Mei 2026.
Sebelum dirilis di tanah air, film karya sutradara Tumpal Tampubolon ini telah diputar di lebih dari 30 festival internasional. Penayangan perdananya berlangsung di Toronto International Film Festival 2024, kemudian berlanjut ke berbagai ajang bergengsi lainnya di berbagai negara.
Beberapa festival besar yang turut memutar film ini antara lain BFI London Film Festival, Adelaide Film Festival, Torino Film Festival, hingga Red Sea International Film Festival. Perjalanan panjang tersebut membuat Crocodile Tears semakin dikenal oleh penonton internasional.
Dari trailernya, cerita film ini berfokus pada kehidupan Johan yang diperankan Yusuf Mahardika. Ia tinggal bersama ibunya, Mama yang diperankan Marissa Anita, di sebuah taman buaya tua yang sudah lama terbengkalai. Taman itu bukan hanya rumah bagi Johan, tetapi juga dunia kecil tempat ia membangun seluruh hidupnya.
Sejak kecil Johan hidup di bawah pengawasan ketat sang ibu. Mama memiliki cara yang keras dalam melindungi anaknya. Seiring waktu, Johan mulai merasa terkurung dan ingin mengetahui dunia di luar tempat tinggalnya.
Keinginan tersebut membawanya bertemu dengan Arumi yang diperankan Zulfa Maharani. Gadis itu membuka pandangan baru bagi Johan tentang kehidupan dan kebebasan. Namun kedekatan mereka justru membuat hubungan Johan dengan sang ibu mulai retak.
Mama tidak menyetujui hubungan tersebut. Penolakannya perlahan berubah menjadi sikap yang aneh. Johan pun harus menghadapi pilihan sulit antara mengikuti keinginannya sendiri atau tetap berada dalam keluarga yang selama ini melindunginya.
Menariknya, inspirasi cerita film ini muncul dari sebuah tayangan dokumenter tentang seekor induk buaya yang menyimpan anak-anaknya di dalam rahang untuk melindungi mereka dari pemangsa. Bagi Tumpal Tampubolon, momen itu terasa menakutkan sekaligus lembut, sehingga memunculkan pertanyaan tentang cinta, pengorbanan, dan hubungan keluarga yang bisa berubah menjadi beban.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....