Empati untuk Gaza di Sekolah Alam Indonesia Cipedak

  • 02 Mar 2026 18:02 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Genosida yang terjadi di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 112.000 korban jiwa, serta menghancurkan rumah, sekolah, rumah sakit, dan berbagai infrastruktur vital lainnya. Perampasan hak-hak warga Palestina terus berlangsung di tengah krisis kemanusiaan yang mendalam. Ramadan yang dahulu identik dengan ketenangan, kini di Gaza dijalani dalam suasana penuh ketegangan dan duka.

Warga Gaza melaksanakan salat Tarawih di reruntuhan masjid atau di tempat salat darurat yang didirikan dari tenda nilon dan kayu. Mereka beribadah di tengah kehancuran besar yang menyisakan puing-puing dan keterbatasan. Hidangan iftar dan sahur pun tak lagi mencerminkan kelimpahan seperti sebelumnya. Kelangkaan pangan, harga yang melambung, pemadaman listrik, serta krisis air bersih menjadikan aktivitas sehari-hari sebagai perjuangan berat bagi keluarga-keluarga di sana.

Orangtua dan siswa berkunjung ke stand-stand untuk pameran lorong waktu Palestina dari masa ke masa. (Foto : Sekolah Alam Indonesia Cipedak)

Kondisi tersebut menjadi bahan refleksi yang ingin ditanamkan kepada siswa-siswi Sekolah Alam Indonesia Cipedak. Melalui sebuah pameran bertajuk “We are (also) Palestinian”, para siswa diajak memahami sejarah dan realitas Palestina melalui pendekatan kolaboratif lintas jenjang. Acara ini berlangsung pada Sabtu, 28 Februari 2026, pukul 14.00 hingga 18.00 WIB, di Kampus Mampang, Depok, Jawa Barat, dan dihadiri lebih dari seribu anggota komunitas sekolah yang terdiri atas siswa, fasilitator, orang tua, serta alumni.

Suasana stand kehangatan keluarga Palestina (SD 1). (Foto : Sekolah Alam Indonesia Cipedak)

Ratusan karya dipamerkan, mulai dari sejarah Palestina, potensi sumber daya alam, hingga peta wilayah yang disusun oleh siswa TK, SD, SL, dan BLESS. Selain booth pameran, panggung pertunjukan turut menampilkan teatrikal diplomasi Palestina yang menggambarkan perjuangan dan harapan akan kemerdekaan. Ketua Panitia selebrasi Project Based Learning, Zulkipli, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pendidikan empati yang nyata. “Kita ingin menjadi ahlul filistin yang terus menyuarakan kemerdekaan Palestina dan menanamkan empati pada siswa,” ujarnya.

Acara ini juga menghadirkan Muhammad Syarief, Lc., MH dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) serta Luthfie Maula Alfianto, S.Si. dari Palestine Research Center (PRC). Kehadiran para narasumber tersebut memperkaya wawasan peserta tentang sejarah dan dinamika Palestina. Melalui lorong waktu sejarah yang disuguhkan, Sekolah Alam Indonesia Cipedak berharap empati tidak berhenti pada simpati, tetapi tumbuh menjadi kepedulian dan doa yang terus mengalir bagi rakyat Palestina.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....