Hujan, Lagu, dan Kenangan di Kilau Kenangan
- 02 Feb 2026 09:17 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, JAKARTA - Awal Februari selalu membawa irama yang khas. Langit Jakarta lebih sering menurunkan hujan, jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota, dan suasana menjadi sedikit lebih lambat—seolah memberi ruang bagi kenangan untuk muncul ke permukaan. Momentum inilah yang diangkat program Kilau Kenangan pada Minggu malam, 1 Februari 2026, dengan tema lagu-lagu yang terinspirasi dari hujan.
Disiarkan setiap Minggu pukul 21.00–23.00 WIB, Kilau Kenangan hadir melalui Kanal Kenangan RRI Digital, pemancar DAB+, serta relay 91,2 FM RRI Pro 1 Jakarta. Dipandu penyiar Ika Damayanti, edisi kali ini mengajak pendengar menelusuri hubungan antara hujan dan ekspresi musikal lintas generasi, dari era 1960-an hingga 1990-an. Seluruh pendengar dari berbagai daerah dapat ikut terlibat secara aktif dengan mengirimkan salam dan request lagu nostalgia favorit melalui WhatsApp di nomor 081250001933, sebuah ruang interaksi yang menjadi ciri khas program ini.

Penyiar Ika Damayanti. (Foto: Dokumen pribadi)
Hujan dalam musik tidak sekadar latar cuaca. Ia sering menjadi metafora kerinduan, kesedihan, kontemplasi, bahkan penerimaan diri. Di era 1960-an, hujan hadir lembut melalui “Rhythm of the Rain” dari The Cascades. Dirilis tahun 1963, lagu ini menempatkan hujan sebagai medium pengakuan rasa, seolah setiap tetesnya menyampaikan pesan yang tak sanggup diucapkan langsung. Nuansa romantik yang sederhana ini memperlihatkan bagaimana musik populer kala itu memaknai emosi secara jujur dan puitik.
Memasuki 1970-an, hujan menjadi simbol suasana batin yang lebih kompleks. “Rainy Days and Mondays” dari The Carpenters menggambarkan perasaan murung yang datang tanpa sebab jelas. Lagu ini kerap dibaca sebagai refleksi kondisi psikologis, jauh sebelum istilah kesehatan mental menjadi wacana populer. Melodi lembut Karen Carpenter berpadu dengan lirik yang introspektif, menghadirkan hujan sebagai ruang sunyi untuk berdialog dengan diri sendiri.
Era 1980-an membawa pendekatan yang berbeda. Eurythmics lewat “Here Comes the Rain Again” menempatkan hujan sebagai siklus emosi yang berulang—datang, pergi, lalu kembali. Lagu ini memotret ketidakpastian perasaan dalam bahasa pop yang modern, sejalan dengan karakter dekade tersebut yang lebih ekspresif dan eksperimental. Hujan tidak lagi pasif, melainkan aktif membentuk suasana batin.
Puncak emosi hujan di era 1990-an hadir melalui “November Rain” dari Guns N’ Roses. Lagu berdurasi panjang ini menjadikan hujan sebagai metafora perjalanan cinta, kehilangan, dan keteguhan. Dengan orkestrasi megah dan visual ikonik, hujan tampil dramatis—bukan sekadar cuaca, melainkan fase kehidupan yang tak terelakkan.
Selain alur musik, Kilau Kenangan juga diramaikan partisipasi pendengar dari berbagai daerah. Sapaan hangat datang dari Ibu Eka di Tebet, Rifat di Semarang, Ibu Truli Kinarsih di Palangkaraya, Aris di Bekasi, dan banyak pendengar lainnya. Melalui pesan WhatsApp yang terus mengalir sepanjang siaran, pendengar tidak hanya menjadi audiens pasif, tetapi bagian dari narasi siaran itu sendiri.
Menjelang perayaan Imlek yang kerap beriringan dengan musim hujan, Kilau Kenangan menjadi ruang reflektif yang relevan dengan konteks waktu. Hujan tidak diposisikan sebagai gangguan, melainkan sebagai penanda siklus—akhir dan awal, duka dan harap, diam dan musik. Dalam lanskap media digital yang serba cepat, program ini menunjukkan bahwa radio masih memiliki kekuatan menghadirkan pengalaman mendengarkan yang intim dan partisipatif.
Kilau Kenangan tidak sekadar memutar lagu lama. Ia merawat ingatan kolektif, menghubungkan cuaca, musik, dan emosi dalam satu alur siaran yang hangat. Di tengah rintik hujan awal Februari, nada-nada nostalgia itu kembali hidup, menemani malam, dan membuka ruang bagi siapa pun untuk berbagi kenangan melalui lagu-lagu favoritnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....