Bengkel Tari Ayu Bulan Tampilkan Palegongan Satua Calonarang
- 10 Nov 2025 19:24 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : Bengkel Tari Ayu Bulan kembali menghadirkan karya dramatari penuh makna berjudul “Palegongan Satua Calonarang” di Teater Blackbox Salihara, Pasar Minggu. Jakarta Selatan. Minggu, (09/11/2025).
Karya yang pertama kali diciptakan oleh mendiang Dr. A.A. Ayu Bulantrisna Djelantik pada tahun 2015 ini tampil dalam versi baru yang lebih panjang, disempurnakan dengan iringan gamelan dan juru tandak secara langsung. Pementasan ini menjadi refleksi satu dekade sejak produksi perdananya dan menawarkan tafsir segar terhadap sosok legendaris Calonarang.
Pertunjukan ini mengangkat kisah Dayu Datu yang kemudian dikenal sebagai Calonarang atau Walunata ing Dirah sebagai sosok perempuan berilmu yang kerap disalahpahami. Dikisahkan, setelah berpisah dari suaminya, Mpu Kuturan, Calonarang kembali ke Kabikuan Dirah bersama putrinya, Ratna Manggali. Namun, ketika wabah misterius melanda desa, ia dituduh sebagai penyebab bencana karena ilmu hitamnya, terutama setelah kain jimat merah miliknya hanyut di sungai.
Melalui garapan ini, Bengkel Tari AyuBulan menyampaikan pesan moral yang tajam dan relevan: tidak semua yang tampak hitam adalah kejahatan, dan tidak semua yang terlihat putih adalah kebenaran. “Tak semua hitam & putih apa yang terlihat salah belum tentu salah, benar belum tentu benar,” demikian pesan yang diusung dalam pementasan tersebut. Calonarang digambarkan bukan sebagai penyihir jahat, melainkan sebagai guru, pemimpin, dan penyembuh yang dihormati, namun nasibnya berujung pada fitnah dan pengkhianatan.

Para pendukung Karya Dramatari “Palegongan Satua Calonarang” di Teater Blackbox Salihara, di Pasar Minggu. Minggu, (9/11/2025). FOTO: (RRI/Dermawan Ismail)
https://rri.co.id/jakarta/hobi/1956807/majelis-musikal-puitisasi-shiroothol-mustaqiim-padukan-seni-dan-dakwah
https://rri.co.id/jakarta/hobi/1956785/paguyuban-asmari-kerta-jaya-perkuat-jaringan-alumni-nasional
Konflik mencapai puncaknya ketika Mpu Baradah dan putranya, Bahula, merencanakan tipu daya melalui pinangan palsu terhadap Ratna Manggali demi mencuri ajian kesaktian Calonarang. Babak kelima menjadi titik klimaks: pertempuran dahsyat antara Walunata Dirah dan Mpu Baradah digambarkan begitu intens dan simbolik, melambangkan pertarungan abadi antara kebenaran dan kekuasaan.
Nyoman Trianawati atau disapa mba Nana,Pimpinan Bengkel Tari AyuBulan mengatakan, "Puji Syukur kepada Tuhan karena pementasan kemarin berjalan lancar, syahdu dan taksu seperti yang diharapkan. Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak, penari dan pendukung acara atas dedikasi dan kepedulian mereka yang tak kenal lelah dan tanpa pamrih berusaha memberi yang terbaik utk mengangkat budaya Nusantara khususnya Bali. Saya berharap kami dpt terus berkarya dengan tulus hati", ujar Nana. Nana percaya bahwa berkesenian tiada henti akan menjaga jiwa dan kekuatan bangsa kita.Dengan koreografi anggun dan kekuatan narasi yang puitis “Palegongan Satua Calonarang” berhasil menantang pandangan tradisional tentang perempuan, ilmu, dan kekuatan. “Karya ini adalah kilas balik tentang kisah yang terlereng tentang amarah yang tak terbuang, tentang perempuan yang berani menentang stigma. Dramatari ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan refleksi mendalam atas makna keberanian, kebenaran, dan kemanusiaan dalam Bingkai Budaya Nusantara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....