James F Sundah Rilis Lagu Versi Tiga Bahasa

  • 16 Okt 2025 07:40 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta : Komponis, penulis lagu dan produser legendaris Indonesia James F Sundah merilis karya baru berjudul Seribu Tahun Cahaya dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Jepang.

Lagu baru bergenre pop/EDM bukan sekedar eksperimen musikal, tetapi juga persembahan pribadi untuk sang istri, Lia Sundah Santoso yang menjadi inspirasi utama lahirnya karya ini.

"Lagu ini sebenarnya saya buat untuk istri saya sejak 2 dekade lalu, tapi selalu tertunda. Setelah melewati masa kritis karena kanker, istri dan anak merawat saya dengan penuh kesabaran. Sebagai ungkapan syukur, saya merasa harus segera merilis lagu ini," ujar James saat peluncuran lagu baru melalui daring di Jakarta, Rabu (15/10/2025).

Karya ini mulai digarap secara serius oleh James sejak 2007, ketika genre Pop/EDM masih belum terlalu populer di Indonesia. Mendiang Djaduk Ferianto bahkan pernah menilai musiknya “terlalu maju.”

Namun, James tetap percaya pada karyanya dan merekamnya bersama penyanyi muda berbakat Meilody Indreswari (Meilody), juara Bintang Radio RRI 2007. Produksi dimulai pada 2011 dan rampung pada 2013, yang kemudian didaftarkan secara resmi di US Copyright Office.

Meilody mengenang pengalaman uniknya saat menyanyikan lagu ini dalam lima bahasa sekaligus sebagai guide vocal, termasuk akhirnya menjadi penyanyi pertama yang membawakan versi bahasa Jepang.

“Setiap bahasa punya pemenggalan kata berbeda. Saya harus berkali-kali take ulang, Om James sampai meminta bantuan teman native speaker untuk memeriksa lafal saya,” katanya.

Bagi Meilody, keterlibatannya bukan sekadar tugas profesional. “Rasanya saya ikut merasakan pesan lagunya yakni penantian panjang yang akhirnya terjawab bahagia,” ucapnya.

Jika Meilody menjadi fondasi awal perjalanan lagu ini, maka Claudia Emmanuela Santoso (Audi) membawa Seribu Tahun Cahaya ke ranah global. Penyanyi asal Cirebon ini, pemenang The Voice of Germany 2019, dipercaya mengisi versi bahasa Indonesia dan Inggris. Audi mengaku merinding saat pertama kali mendengar lagu tersebut.

“Aku rasa sudah lama tidak ada lagu seperti ini. Liriknya dalam, melodinya puitis, dan penuh rasa,” ujarnya.

James mengaku sengaja memasukkan unsur alat musik berbeda pada tiap versi lagu. “Pada versi bahasa Indonesia ada unsur angklung dan kolintang. Versi Jepang menghadirkan koto dan shakuhachi, dan sentuhan musik outer space yang dimainkan lewat synthesizer pada versi bahasa Inggrisnya,” kata James.

Dengan begitu, Seribu Tahun Cahaya menjadi karya yang menyatukan cinta personal, kolaborasi lintas generasi, dan pesan edukatif tentang industri musik. Dari ketulusan James kepada sang istri, perjalanan panjang Meilody di awal rekaman, hingga suara mendunia Claudia, lagu ini bukan hanya catatan artistik, tetapi juga cermin perjuangan menjaga keadilan di dunia musik.

Lebih dari sekadar lagu cinta, Seribu Tahun Cahaya juga memiliki misi edukatif. James ingin mengingatkan pentingnya menghargai setiap peran dalam proses kreatif musik. Seperti pernah ia katakan kepada Rolling Stone Indonesia pada 2009, “No Song, No Music Industry.”

Dalam produksi ini, James mencatatkan diri sebagai insan musik yang berhak atas hak ekonomi hak cipta karya lagu melalui perannya dari hulu sampai hilir dalam sebuah proses pembuatan fiksasi karya cipta lagu yang mencakup pencipta, pemegang hak cipta, dan pemilik hak terkait.

Ia bertindak antara lain sebagai composer, lyricist, arranger, musisi, publishing musik, pemilik master / produser eksekutif, produser musik, sound, mixing & mastering engineer, dan sebagai videographer dari pre- sampai pasca produksi audiovisual pada karya ini.

“Dengan begitu, saya ingin menegaskan bahwa banyak peran yang sebenarnya memiliki hak ekonomi atas sebuah karya,” ucap James.

Ia juga menyoroti kenyataan pahit di industri musik, di mana beberapa peran sering dipinggirkan oleh klausul kontrak yang tidak adil.

“Saya berharap karya ini menjadi pengingat akan pentingnya transparansi hak ekonomi di era digital, ketika semua data pendapatan sebenarnya sudah tercatat jelas. Semua pihak dalam industri musik Indonesia punya tanggung jawab, hak, dan kewajiban untuk menjaga agar sistem ini berjalan adil dan transparan. Hanya dengan begitu, iklim industri bisa sehat dan berkelanjutan,” ujar pria berdarah Manado dan lahir di Semarang, 1 Desember 1955.

Rilis ini juga mendapatkan penghargaan dari MURI atas rekor “Penerbitan Serentak Single Tiga Bahasa dari Tiga Benua, dengan Peran Terbanyak Berhak atas Hak Ekonomi Hak Cipta Karya Lagu (Seribu Tahun Cahaya)”.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....