Karakter Pandhawa Lima Wayang Golek Sunda
- 22 Apr 2025 21:27 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : Selasa, 22 April 2025, Atep Gunawan memaparkan tentang Pandawa, dalam acara Apresiasi Budaya Sunda, Apdaun, tepat pukul 20.15 WIB, dari Studio Pro 4 RRI Jakarta. Dalam epos Mahabarata dikisahkan tentang Pandawa Lima. Berawal dari Abiyasa yang beristrikan Dewi Ambika, Ambalika dan Dewi Datri. Dari Dewi Ambika lahirlah Destarastra, dari Dewi Ambalika lahirlah Pandudewanata, dan Dewi Datri lahirlah Yamawidura.
Destarastra beristrikan Dewi Gendari mempunyai anak seratus yang di sebut Korawa. Pandudewanata beristrikan Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Dari Dewi Kunti lahirlah Judistira, Bima dan Arjuna, dari Dewi Madrim lahirlah Nakula dan Sadewa.
Judistira mempunyai watak jujur, adil, bijaksana, percaya diri dan sangat taat beribadah. Bima mempunyai sifat pemberani, teguh akan pendirian, patuh, jujur, kuat lahir batin karena terlahir sebagai seorang yang tinggi besar, sehingga dengan hanya melihatnya saja, banyak musuh yang sudah ketakutan. Suaranya kasar tetapi jiwanya sangat lembut.
Pandawa nomer tiga adalah Arjuna. Mempunyai sifat pendiam tidak banyak bicara, lemah lembut, sopan dan santun, teliti dan selalu melindungi orang yang lemah. Nakula dan Sadewa karena terlahir kembar, cenderung mempunyai sifat yang sama. Jujur, pandai menjaga rahasia dan selalu membalas kebaikan orang.
Kelima Pandawa mempunyai watak protagonis. Dalam masyarakat sering menggunakan nama Pandawa untuk nama anaknya, dengan keinginan supaya anak tersebut berwatak seperti Pandawa. Bahkan banyak masyarakat yang mengharap semua pemimpin mencontoh dari semua sifat Pandawa. "Bahkan sangking Pandhawa adalah nama yang bagus dan dianggap membawa berkah, nama sebuah Perusahaan besar di Jawa Barat banyak yang memakai nama dari tokoh Pandawa." timba Sri Wilasti menambah dari paparan Atep Gunawan.
Dalam pertunjukan wayang Golek Sunda, Kelima tokoh Pandhawa mempunyai suara yang berbeda-beda. Ilmu yang di kuasai oleh seorang dalang, salah satunya adalah Amardawa Lagu, yang artinya paham akan titi laras (nada) gamelan. Hanya dengan dua nada gamelan yang sering di sebut dengan istilah surupan, sudah bisa di pakai sebagai patokan suara masing-masing tokoh wayang. Judhistira dan Arjuna bermuka mununduk yang biasa dikenal dengan istilah satriya lungguh mempunyai karakter suara yang sangat dekat. Untuk membedakannya, suara Judistira dibuat lebih tinggi dari Arjuna. Nakula berkarakter satriya gagah, bermuka menengadah berkarater suara tinggi dan dalam penyampaiannya cenderung cerewet. Sedangkan Sadewa sedikit lebih halus.
Dalam pengkarakteran Bima, suaranya tidak ada dalam titi laras (nada) gamelan. Suaranya cenderung sangat rendah dan berat.
Salah satu sifat antagonis dari Pandhawa adalah pada sifat Judistira yang suka bermain dadu. Sifat jelek Judistira di manfaatkan oleh Kurawa untuk membuangnya di dalam hutan selama dua belas tahun, dengan filsafat, setiap kebaikan selalu ada keburukannya, begitu juga dengan keburukan pasti selalu tersisip kebaikan, walaupun dalam prosentase yang tidak berimbang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....