Kuda Renggong Dari Sumedang
- 25 Mar 2025 22:45 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : “Kota leutik can pelenik, najan leutik tapi reusik, ngaliwatkeun Cadas Pangeran, Kota Sumedang.”
Sepenggal syair lagu tentang Kota Sumedang yang di kenal akan kebersihannya, membawa angan kita untuk mengunjunginya, melihat kebersihannya dan tentunya keseniannya yang terkenal yaitu 'Kuda Renggong'.
Apdaun, Apresiasi Budaya Sunda, Selasa, 24 Maret 2025, dari Studio Pro 4 RRI Jakarta menghadirkan narasumber Didi Supardi, mantan PNS di RRI Jakarta yang sekarang tinggal di Kecamatan Darmaraja Sumedang, dengan tema “Kuda Renggong.”
Berdasarkan sumber dari Disbudpar Sumedang, Kuda Renggong diciptakan pada masa pemerintahan Bupati Soerja Atmaja atau yang lebih di kenal juga dengan nama Pangeran Mekah. Saat itu kuda selalu di gunakan untuk alat transpotasi dan alat perang. Pentingnya kuda dalam kehidupan masyarakat saat itu membuat Bupati Soerja Atmaja meluangkan waktu khusus sehingga perkembangan kuda semakin baik, dengan cara beliau selalu memilih bibit unggul dari daerah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Kuda Renggong bermula dari seorang anak laki-laki pengasuh kuda Bupati Sumedang yang bernama Sipan, yang berasal dari Dusun Ciburubuk, Kec.Buah Dua, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Sipan selalu mengamati kuda, terutama berbagai gerakan kuda dari gerakan kepala dan kaki. Melihat hal tersebut Bupati Soerja Atmaja memerintahkan supaya Sipan melanjutkan melatih kuda-kuda piaraannya.
Kata Renggong berasal dari Ronggeng. Ronggeng adalah bentuk gerakan menari untuk manusia, maka untuk gerakan menari untuk kuda di namakan Renggong. Adapun bentuk gerakan tarian kuda terbagi dalam lima jenis. Adean adalah gerakan kuda berjalan melintang ke arah pinggir. Sedangkan saat kuda melangkah pendek-pendek di sebut dengan Torolong. Berikutnya adalah Congklang, yaitu gerakan kuda berjalan dengan cepat dengan kaki menjulur ke depan seperti layaknya kuda pacu. Jagrog, tidak lari namun bergerak agak cepat, lebih cepat dari berjalan, tetapi tidak secepat lari. Anjing minggat adalah gerakan ragam gerak terakhir, yaitu gerak langkah setengah berlari. Dalam perkembangannya lahir gerakan baru yaitu kuda silat. Kuda seperti bersilat dengan dipandu pelatih dengan gerak silat juga.
Musik pengiring awal mula hanya kendang pencak dengan repertoar lagu-lagu tradisi seperti Rayak-rayak, Rereogan, Ayu Nambing dan Buah Kawung. Seterlah Tardug (gitar bedug), musik tanjidor, dan musik modern, tampil lagu-lagu kekinian seperti: Pria Idaman, Goyang Dombret dan jagu kekinian yang lain.
Kuda Renggong awal mula di tampilkan saat Bupati Sumedang Soerja Atmaja mengkhitan cucu. Kuda Ronggeng pertama bernama Si Cengek dan Si Dengek. Sebelum di khitan cucu sang Bupati menunggang Kuda Renggong megelilingi alun-alun Sumedang.
Setelah masa berlalu akhirnya Kuda Renggong di tirukan oleh masyarakat Sumedhang, termasuk format helaran, arak-arakannya. Anak yang di khitan naik kuda yang sedang menari di iringi musik mengelilingi jalanan di kampung. Karena sudah menjadi tradisi yang di gelar turun-temurun, naik Kuda Renggong menjadi impian anak-anak yang hendak di khitan. Anak yang di khitan berpakaian indah. Ada yang berpakaian dengan pakaian adat Sunda, berpakaian seperti tokoh Wayang Gathutkaca, bahkan ada yang berpakaian seperti Polisi dan Tentara. Peristiwa ini menumbuhkan semangat pendewasaan anak laki-laki yang di sunat. Dengan memakai pakaian tokoh heroik dan menunggangi keperkasaan kuda renggong memotivasi, menginspirasi dan menjadi catatan yang tidak terlupakan. Tidak hanya anak laki-laki yang hendak di khitan, tetapi anak perempuan juga ada yang naik dengan memakai pakaian seperti putri raja Sunda,maupun princess di kerajaan Barat.
Selain untuk pengantin sunat, Kuda Ronggeng sekarang dipakai sebagai tunggangan pengantin. Bahkan Penyambutan tamu di pemerintah kabupaten Sumedang, Hari Jadi Kabupaten Sumedang, Karnaval Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dan Festival menjadi kegiatan wajib dan rutin, karena Sumedang setiap kecamatan mempunyai kesenian Kuda Renggong.
Dalam perkembangannya ada yang sedikit hilang dalam rangkaian arak-arakan pengantin sunat. Di tahun 70-an, barisan terdepan adalah kuda kosong. Kuda yang didandanin tapi tidak di naikin dan tidak menari seperti kuda renggong, dan kuda-kuda tersebut diperuntukan untuk penghormatan kepada karuhun leluhur yang telah tiada.
Selain penghormatan kepada leluhur, kesenian Kuda Renggong merupakan bentuk interaksi antar makluk Tuhan. Kesadaran pelatih kuda renggong, yang cenderung memanjakan, memposisikan kuda sebagai makluk kuda yang di manja, baik dari makanan, pakaian, dan tempat. Dalam pertunjukannya, kuda Ronggeng juga tampil secara teatrikal saat kuda berinteraksi dengan pelatihnya, terlihat jelas akan keperkasaan dan keindahan juga kepiwaian pelatihnya. Kuda merupakan bagaian dari hidup manusia dalam hidup. Simbul kekuatan kejantanan dan kewibawaan.
Setelah tokoh kaki Sipan, pelatihan Kuda Renggong dilanjutkan oleh putranya yang bernama Sukriya. Lalu berlanjut pada anaknya juga yang bernama Haji Ali. Karena Haji Ali tidak perputra, ilmu melatih Kuda Renggong di turunkan ke murid-muridnya dan berkembang sampai sekarang ini sehingga menyebar di seluruh Kabupaten Sumedang.
Semoga tradisi yang sarat makna dan filosofi tetap membumi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....