Sisindiran, Pantun Masyarakat Sunda
- 24 Des 2024 22:54 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : Tradisi sastra lisan adalah pesan jelas maupan pesan tersamar yang berupa ucapan, nyanyian, dongeng, pantun, cerita rakyat, nasihat, maupun balada. Dalam budaya Sunda, pantun di sampaikan dalam bentuk sisindiran. Merupakan tradisi lisan yang disampaikan secara turun temurun oleh masyarakat berbahasa Sunda.
Sisindiran berasal dari kata "sindir" yang berarti tidak berkata langsung maupun terus terang. Tujuannya untuk menghormati yang diajak bicara supaya tidak tersinggung. Sisindiran terdiri dari cangkang atau yang biasa disebut dengan sampiran, dan eusi atau isi yang penyajiannya diatur dalam rima dan irama.
Sisindiran Sunda dituturkan dalam suasana santai maupun formal. Suasana formal biasa di pakai dalam upacara adat perkawinan sesi lamaran. Dalam suasana santai, Sisindiran di gunakan untuk mengungkapkan perasaan, situasi masyarakat, isu sosial yang sedang terjadi, bahkan sebagai bahan humor bersayap. Di sebut bersayap karena di balik rangkaian katanya yang lucu terselip sindiran.
Sisindiran memiliki tiga jenis, yaitu: Rarakitan, Paparikan dan Wangsalan. Rarakitan mempunyai ciri di awal baris pertama diulang di baris ketiga, baik rima maupun sampirannya. Sedangkan baris kedua dan empat berupa paparan isinya. Paparikan sama sekali tidak terikat pada peraturan seperti pada Rarakitan. Tidak ada aturan, atau bisa di katakan pantun bebas. Yang ketiga adalah Wawangsalan yang berisi kalimat silih asih, kisah cinta atau kasih sayang, piwuruk pesan, petuah, dan sésébréd humor, lelucon, jenaka, atau kritik terbalut pantun.
Bagi Juru Kawih Pesinden yang sudah senior, isi hatinya bisa diketahui sedang merasakan apa, karena tercemin dalam rangkaian kalimat syair yang disampaikan. “Juru kawih panginten nuju raos manahna, ata pinuju kasengsem kapi gandrung tyasa sisindiranana silih asih, nuju senang sisindiranna sésébréd, umpami nuju sedih panginten lebetna piwuruk.” ujar Sri Wilastri menekankan.
Ada keunikan tersendiri di dalam wangsalan karena artinya di sembunyikan, berupa sinonim dan bahasa plesetan yang ada di kalimat isi. Salah satu contoh. Rebab jangkung barja awak, nalangsa Saumur-umur. Rebab, alat musik gesek instrument gamelan, jangkung tinggi. Rebab tinggi artinya Tarawangsa.Di sebut dalam jawabanya nalangsa. Tarawangsa di plesetkan menjadi nelangsa. Sisindiran tersebut kadang di pakai untuk menyindir apabila ada lawan bicaranya sedang mengalami nelangsa, sehingga akan menimbulkan gelak tawa. Apalagi bila sisindirannya di sampaikan dalam sebuah acara ngariung berkumpul. Salah satu isi dari sebuah toleransi adalah rasa kegembiraan bersama. Untuk memecah susana supaya tidak tertalu tegang, sisindiran di perlukan dalam sebuah pertemuan bersama. Fenomena sekarang ini banyak pemangku jabatan, sebelum menyampaikan sambutan pidatonya, di awali dengan pantu. Bisa juga untuk membuat fresh audien apabila ada sambutan berturut-turut, supaya kembali tersenyum dan semangat lagi.
Semua dimensi kesenian, baik seni sastra, seni gerak, seni suara, seni rupa selalu ada pesan sindiran. Alangkah baiknya apabila bentuk sindiran itu membuat masalah, membuat tersinggung, bahkan yang di sindir akan tertawa karena memakai pola bahasa seni semuanya akan indah dan damai. Seperti yang di contohkan leluhur kita lewat budaya Sisindiran Sunda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....