Kugadaikan Cintaku: Cerita Lagu Gombloh yang Terinspirasi dari Radio

  • 11 Sep 2024 11:41 WIB
  •  Jakarta

PADA Tahun 1985, Gombloh, musisi legendaris Indonesia, merilis sebuah lagu yang hingga hari ini masih melekat di hati banyak orang, "Kugadaikan Cintaku". Lagu ini menjadi simbol kebesaran radio sebagai medium yang tak lekang oleh waktu. Di balik kisahnya yang sederhana, lagu tersebut lahir dari interaksi Gombloh dengan radio—sebuah medium yang terus berkembang, termasuk di Hari Radio Nasional yang kita peringati hari ini.

Menurut Pardi Atin, gitaris yang kerap menemani mendiang Gombloh di atas panggung, "Kugadaikan Cintaku" lahir secara spontan dalam perbincangan santai di rumah. “Ngobrol aja sehingga menjadi sesuatu. Waktu itu, ngobrolnya ngalir begitu saja, tidak ada kepentingan apapun,” kata Pardi menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan Binda Umar dan Tediy Junianto penyiar 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta pada Rabu (11/9/2024) pagi. Lagu ini kemudian meledak, disambut hangat oleh para pendengar radio. “Radio pada zaman itu adalah wadah utama untuk mendengarkan lagu-lagu favorit, sering kali disertai salam-salam dari pendengar,” kata Pardi yang menambahkan karena lagu ini terkenal permintaan manggung datang dari mana-mana.

Gombloh, yang bernama asli Soedjarwoto Soemarsono, adalah sosok sederhana dengan gaya khas rambut gondrong dan gitar kopong yang selalu menempel di pundaknya. Ia adalah salah satu musisi yang sukses memperkenalkan kota Surabaya, Jawa Timur di kancah musik nasional. Musiknya yang dipenuhi kritik sosial dan cinta tanah air menarik perhatian banyak pendengar di masanya, terutama lewat media radio.

Pardi juga mengingat bahwa di era 80-an, radio merupakan salah satu media utama yang mempertemukan musisi dan pendengar. "Waktu itu, radio adalah platform yang memberi ruang bagi musisi untuk mempromosikan lagu-lagu mereka. Sebagai contoh, *Kugadaikan Cintaku* berhasil membius jutaan telinga berkat diputar secara rutin di stasiun radio,” ucapnya.

Pada peringatan Hari Radio Nasional, 11 September 2024, Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia, I Hendrasmo, menyampaikan pesan penting tentang relevansi radio di era digital. “Radio kini menjadi multiplatform yang menghadirkan berbagai konten inspiratif dan berdampak bagi masyarakat,” ujar Hendrasmo dihadapan para broadcaster RRI dalam sebuah upacara bendera peringatan hari jadi ke 79 tahun RRI di halaman Gedung RRI Jl. Merdeka Barat, Jakarta pada Rabu (11/9/2024). Beliau menekankan bahwa meskipun masyarakat kini memiliki banyak pilihan media, radio tetap memberikan pengaruh positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. RRI, lanjutnya, berkomitmen untuk terus menjadi media terpercaya yang menyebarkan inspirasi dan cinta tanah air.

Di sisi lain, Puji Hartoyo, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi DKI Jakarta, dalam wawancara terkait Hari Radio Nasional, menekankan peran radio sebagai alat pemersatu bangsa. “Radio bukan hanya soal hiburan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi yang efektif dalam menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat, termasuk soal budaya dan sejarah,” kata Puji.

Melalui radio, Gombloh mampu menyebarkan karyanya dan menyentuh hati jutaan pendengar di seluruh negeri. Lagu "Kugadaikan Cintaku" menjadi bukti bagaimana media ini mampu membangun ikatan yang erat antara musisi dan penikmat musik. Hingga kini, radio terus memainkan peran penting, tidak hanya dalam mempromosikan karya seni, tetapi juga dalam menjaga identitas bangsa.

Pardi Atin yang dihubungi melalui telepon dari Jakarta menutup wawancara dengan mengatakan: “Berkaryalah tanpa lelah, karena karya akan selalu dikenang, meski sang pencipta telah tiada. Lagu-lagu Gombloh adalah bukti nyata bahwa karya yang lahir dari hati akan selalu hidup dalam setiap generasi.”



Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....