Potret Para Pengukir Nama TPU Budi Darma, Menjaga Kenangan di Atas Batu Nisan

  • 15 Sep 2026 08:04 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Pak Manto, pengrajin nisan berusia 57 tahun, telah menghabiskan lebih dari 20 tahun karirnya di Tempat Pemakaman Umum Budi Dharma Jakarta dengan mengukir batu nisan menggunakan semen, pasir, dan granit.
  • Ia menetapkan harga terjangkau berkisar Rp400.000 hingga Rp500.000 untuk ukuran standar dan tidak pernah memanfaatkan situasi duka keluarga untuk menaikkan tarif, karena baginya rasa saling membantu lebih utama.
  • Dalam sebuah bulan, Manto dan belasan perajin nisan lainnya di kawasan TPU Budi Dharma mampu memproduksi hingga 30 nisan atau sekitar satu nisan per hari, meski pesanan sangat bergantung pada kebutuhan ahli waris.

RRI. CO. ID, JAKARTA — Di tengah sunyinya area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Budi Dharma, deru semen dan ketukan pahat batu menjadi irama harian bagi Pak Manto. Pria berusia 57 tahun warga Kampung Sungai Begog ini telah menghabiskan lebih dari 20 tahun hidupnya sebagai pembuat batu nsan—sebuah pekerjaan yang tak hanya menuntut ketelitian, tetapi juga keikhlasan hati.

Bagi Pak Manto, mengukir nisan bukan sekadar soal mengolah semen, pasir, dan potongan granit menjadi penanda makam. Lebih dari itu, pekerjaan ini adalah cara membantu keluarga yang sedang berduka agar memiliki penanda tempat peristirahatan terakhir bagi kerabat tercinta.

"Saya cuma bantu bikin tenaga doang. Kalau ada orang datang bilang, 'Pak, tolong bikin batu nama, saya cuma ada uang sekian,' ya saya bikin," ujar Pak Manto ketika ditemui RRI Jakarta, Senin 14 September 2026.

Ia mengaku tak pernah mematok harga tinggi atau memanfaatkan situasi keluarga yang tengah berduka. Bagi Manto, rasa saling membantu antar sesama jauh lebih utama.

Secara umum, harga batu nisan buatan Manto dan rakan-rakannya berkisar antara Rp400.000 hingga Rp500.000 untuk ukuran standar, dan bisa mencapai Rp700.000 jika terdapat kerumitan bahan atau kenaikan harga material dasar seperti semen dan pasir. Namun, angka-angka tersebut tidak pernah menjadi patokan kaku baginya.

Dalam sebulan, Manto bersama belasan perajin nisan lainnya di kawasan TPU Budi Dharma rata-rata bisa memproduksi hingga 30 nisan, atau sekitar satu nisan per hari. Pekerjaan ini tidaklah menentu, mengingat pesanan sangat bergantung pada kebutuhan ahli waris yang datang.

Meski pekerjaannya berurusan dengan duka dan kematian, Pak Manto tetap menyimpan harapan sederhana untuk masa depannya. Dengan nada rendah namun penuh optimisme, ia berharap usahanya tetap bisa bertahan dan membawa keberkahan.

"Mudah-mudahan sih biar sukses, bisa maju terus," tutup Manto sembari kembali melanjutkan pekerjaannya mengaduk semen dan menata granit demi mengukir sebuah nama yang tak akan pernah dilupakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....