Nikmatnya Semakok Es Selendang Mayang, Kuliner Khas Betawi

  • 06 Sep 2026 09:59 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA - Di pinggir Jalan Sekda Saipullah, di bawah terik matahari Jakarta yang menyengat, seorang lelaki tua berdiri kokoh di samping gerobak dorong sederhananya. Wajahnya yang dihiasi garis-garis keriput memancarkan ketenangan, sementara tangannya yang renta namun terampil dengan cekatan memotong lapisan tepung hunkwe berwarna-warni. Beliau adalah Pak Jaman, pria kelahiran tahun 1950 salah satu penjaga tersisa dari kuliner legendaris Betawi: Es Selendang Mayang.

Jejak Panjang Puluhan Tahun di Atas Roda Gerobak

Ketika ditanya sejak kapan ia mulai menjajakan minuman tradisional ini, memori Pak Jaman melayang kembali ke masa lalunya.

"Begitu ABRI masuk desa, jalanan udah rapi, saya dibelikan gerobak sama mertua saya... disuruh dorong," kenangnya dengan senyum tipis. Sabtu 6 September 2026.

Puluhan tahun berlalu, dari masa jalanan masih berupa tanah hingga kini dilapisi aspal tebal, Pak Jaman terus melangkah. Dulu, ia bahkan harus berjalan kaki mendorong gerobaknya hingga ke kawasan Kebon Jeruk. Usia yang tak lagi muda tidak menyurutkan semangatnya. Perjalanan puluhan tahun ini bukan sekadar tentang mencari nafkah, melainkan tentang ketabahan seorang kepala keluarga yang menolak untuk menyerah pada keadaan.

"Daripada saya udah tua enggak ngapa-ngapain, saya mangkal. Saya kan masih butuh... buat makan. Siapa lagi yang mau ngasih kalau bukan usaha sendiri?" tegas Pak Jaman.

Dari "Obyo" Menjadi Selendang Mayang: Diplomasi Rasa Betawi

Ada rekam sejarah menarik yang dituturkan Pak Jaman. Banyak masyarakat modern mengenal kuliner ini sebagai Es Selendang Mayang, namun Pak Jaman mengingat betul sebutan aslinya di masa lalu.

"Kalau dulu orang Betawi bilangnya ini 'Obyo'. Begitu berkembang dan ramai di media atau bacaan, baru terkenal dengan nama Selendang Mayang," jelasnya.

Peralihan nama dari Obyo menjadi Selendang Mayang mencerminkan bagaimana kuliner lokal ini beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitas kelezatannya. Perpaduan kenyalnya adonan tepung, gurihnya kuah santan, manisnya gula merah, serta kesegaran es batu tetap menjadi favorit lintas generasi.

Prinsip Kesederhanaan dan Ketulusan Melayani

Di tengah gempuran inflasi dan modernisasi kuliner instan, Pak Jaman tetap mempertahankan kesederhanaan. Semangkuk Es Selendang Mayang buatannya dibanderol dengan harga yang sangat merakyat: cukup Rp5.000,- saja.

"Satu porsi cuma lima ribu. Tapi sekarang mintanya 'porsi goceng' aja. Kalau dikasih mahal-mahal, enggak enak sama orang," tuturnya rendah hati.

Bagi Pak Jaman, kebahagiaan pembeli dan keberkahan rezeki jauh lebih utama daripada mengejar keuntungan semata. Dalam sehari, ia biasanya membawa dua nampan adonan selendang mayang. Satu nampan menghasilkan omzet sekitar Rp150.000, dan tak jarang seluruh dagangannya laku terjual habis membawa pulang rezeki halal sekitar Rp300.000 per hari.

Nilai Inspirasi: Menjaga Martabat di Usia Senja

Kisah Pak Jaman adalah potret nyata tentang etos kerja, ketahanan mental, dan rasa syukur. Di usia yang hampir kepala delapan, ketika banyak orang memilih beristirahat, beliau memilih untuk tetap berkarya dan mandiri. Kehadirannya di sudut Jalan Sekda Saipullah bukan hanya menyegarkan dahaga para pejalan kaki, tetapi juga menjadi pengingat hangat bahwa kearifan lokal dan semangat pantang menyerah adalah warisan terbaik yang terus hidup di tengah dinamika kota Jakarta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....