Asa Petani Rorotan-Marunda, Menjaga Lumbung Pangan Terakhir di Ibu Kota
- 29 Agt 2026 13:49 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA — Di tengah riuh pembangunan dan laju modernisasi metropolitan, hamparan hijau sawah di kawasan Marunda Rorotan, Jakarta Utara, perlahan mulai terkikis. Pembangunan infrastruktur mulai dari tempat pemakaman, fasilitas pengolahan sampah (RDF), hingga deretan perumahan membuat luasan lahan pertanian di kawasan ini kian menyusut dari tahun ke tahun.
Bagi para petani setempat, bentang lahan yang tersisa bukan sekadar tempat mengadu nasib, melainkan benteng pertahanan terakhir keberlangsungan hidup dan ketahanan pangan ibukota. Sebagian besar dari mereka telah menggantungkan hidup pada tanah garapan ini sejak era sebelum lahirnya Banjir Kanal Timur (BKT).
"Dulu sebelum ada BKT air tergenang terus, tapi hama cuma tikus. Sekarang pasca ada BKT air bisa diatur, tapi lahannya yang terus kepakai buat perumahan, makam Covid, sampai fasilitas sampah," ujar Warsih (54) salah satu petani Rorotan saat ditemui RRI Jakarta di lokasi garapannya. Jum'at 28 Agustus 2026.
Dilema terbesar yang dihadapi warga adalah status kepemilikan lahan. Mayoritas petani menggarap tanah milik pihak ketiga atau perusahaan swasta (PT).
Ketika lahan tersebut dialihfungsikan untuk proyek pengembang, para petani garapan kerap tak berdaya. Modal puluhan juta rupiah yang digelontorkan untuk membeli hak garap hilang begitu saja tanpa adanya penggantian yang memadai.
"Kita beli lahan garapan puluhan juta, tapi kalau lahan mau dibangun ya tak bisa berbuat apa-apa. Kalau sawah habis, ya orang kecil tambah susah. Pilihannya cuma pulang kampung," lanjutnya dengan terkekeh getir.
Kini, ancaman pengalihan fungsi lahan baru kembali menghantui seiring munculnya rencana pembangunan depo jalan kereta hingga fasilitas logistik di kawasan tersebut. Uji coba teknis seperti pemboran tanah pun sudah mulai terlihat di beberapa titik.
Meski terhimpit oleh pembangunan yang dirasa tidak berimbang, para petani Rorotan tetap memelihara asa. Mereka menaruh harapan besar kepada pemerintah agar menyisakan ruang hijau dan menetapkan kawasan pertanian Marunda Rorotan sebagai lahan pertanian abadi.
Langkah ini dinilai sangat krusial, bukan hanya demi menyambung napas para petani kecil yang tidak memiliki keahlian di sektor formal, tetapi juga menjaga pasokan pangan lokal dan keseimbangan ekosistem di tengah kepungan beton Jakarta Utara.
"Petani mah kerjanya cuma bisa nanam. Harapannya ya tanah ini dijadiin lahan abadi aja buat pertanian, biar kita tetap bisa kerja dan Jakarta masih punya sawah," ujarnya.
Sementara ketua Kelompok Tani Maju Bersama Pak Asmat (62) ketika diwawancarai RRI Jakarta saat melakukan uji coba pertamanya dengan mesin modern menjelaskan, hasil panen dari dua kelurahan Rorotan dan Marunda tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan di Jakarta Utara, menurutnya hal itu dikarenakan semakin berkurangnya lahan pertanian di kawasan Cilincing.
Menurut Asmat saat ini lahan persawahan di Marunda tinggal ratusan hektar tersisa, dari ribuan hektar yang pernah ada, beberapa area persawahan telah digunakan pengembang untuk perumahan, rusun, hingga pelebaran jalan.
"Saat ini di Rorotan tinggal 317 hektar lahan yang tersisa, sementara lahan persawahan di Marunda hanya 40 hektar lahan yang masih di garap, " kata Asmat.
Sebagai ketua kelompok tani yang mewadahi 8 kelompik Tani di Rorotan, Asmat berharap bahwa lahan persawahan yang semakin berkurang di Cilincing tetap menjadi persawahan yang menjadi mata pencaharian sebagian warga Jakarta.
Asmat memiliki harapan Sawah yang tersisa di Ibu Kota ini dapat menjadi lumbung meski hanya sekala kecil yakni dapat memenuhi kebutuhan pokok di Jakarta Utara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....