Potret "Aki Gaul" Petani Sawah Garapan di Pesisir Jakarta
- 29 Agt 2026 13:50 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA - Di balik pesatnya pembangunan gedung dan modernisasi yang kian menghimpit kawasan Rorotan, aroma tanah basah dan jerami kering masih menjadi napas kehidupan bagi Pamita atau yang lebih akrab disapa Aki Gaul. Sudah sekitar 10 tahun lamanya Aki Gaul setia bergulat dengan lumpur, mengolah lahan penggarapan di pinggir hutan kota yang kian menyempit.
Dahulu, wilayah ini hanyalah hamparan hijau yang membentang luas. Kini, pemandangan beton bertingkat mulai mengepung. Namun, hal itu tak menyurutkan langkah kaki Aki Gaul dan para pengarit lainnya untuk terus bekerja. Dengan sistem bagi hasil 6:1 di mana setiap 6 kuintal hasil panen, Aki membawa pulang 1 kuintal keringat yang ia kucurkan tetap menjadi tumpuan hidup keluarga.
Musim panen kali ini membawa angin segar yang langka. Wajah Aki Gaul dan rekan-rekan petaninya memancarkan kegembiraan yang tak bisa disembunyikan. Harga gabah di tingkat petani melonjak hingga Rp700.000 per kuintal, jauh meningkat dibandingkan musim sebelumnya yang kerap bertahan di angka Rp400.000-an.
"Alhamdulillah, sekarang petani lagi pada maju semua," ujar Aki Gaul kepada RRI Jakarta, Jum'at 28 Agustus 2026.
Kenaikan harga ini bak bahan bakar yang membakar kembali semangat para penggarap. Bahkan, optimisme itu menular hingga ke generasi muda yang tak lagi malu untuk turun ke sawah, meski isu tengkulak atau calo masih menjadi tantangan klasik yang harus dihadapi.
Di tengah terbatasnya lahan yang tersisa, semangat Aki Gaul dan para petani Rorotan menjadi bukti ketangguhan masyarakat pinggiran kota. Mereka tidak hanya memanen padi, tetapi juga merawat harapan agar dapur tetap mengepul dan profesi petani tetap dihargai di tanah mereka sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....