Cerita Suka Duka Pak Anton sang Tukang Cukur Keliling Cilincing

  • 15 Agt 2026 14:21 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, Jakarta - Menjadi tukang cukur keliling adalah pilihan hidup yang diakui Pak Anton (57) memiliki dinamika tersendiri. Pria kelahiran tahun 1969 ini telah bertahun-tahun mengayuh sepeda menyusuri lorong-lorong gang di Tanah Merdeka, membawa peralatan sederhananya, mulai dari gunting, silet, sisir, bedak, hingga mesin clipper digital.

Melakoni profesi ini tentu tak sepi dari duka. Pak Anton pernah mengalami momen pahit ketika pisau sisip peralatannya lenyap disikat orang. Padahal baginya, alat sekecil apa pun sangat berharga untuk menyambung hidup.

Tak hanya itu, Ia juga sempat menjajal keliling menggunakan sepeda motor. Sayangnya, kendaraan itu terpaksa harus dijual karena mesinnya rusak dan biaya perbaikannya di bengkel membengkak. Tanpa rasa patah semangat, Pak Anton kembali mengayuh sepeda manualnya demi memastikan dapur tetap ngebul.

"Kerjanya santai, enggak berburu-buru," ucapnya kepada RRI Jakarta, Sabtu 15 Agustus 2026.

Menjadi tukang cukur keliling memberinya kebebasan penuh tanpa tekanan seorang bos. Ia bebas mengatur jam kerjanya sendiri. Pelanggannya pun beragam, meski sebagian besar adalah para orang tua.

Untuk anak-anak kecil, Pak Anton harus pandai menyesuaikan alat. Jika ada anak yang takut dengan suara desing mesin, Ia akan beralih menggunakan gunting manual agar sang anak tenang.

Seiring bertambahnya usia, kayuhan sepeda Pak Anton mungkin tak secepat dulu. Namun, di antara gumpalan rambut yang berguguran dan deretan alat di tasnya, Ia terus mengayuh sepeda dengan rasa syukur, membuktikan bahwa kejujuran dan kerja keras adalah modal paling mulia untuk bertahan hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....