Kampung Bengek: Menyemaikan Kebersamaan di Tengah Keterbatasan Hidup

  • 08 Agt 2026 23:25 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA — Di kawasan paling ujung Kampung Bengek sebuah pemukiman yang berbatasan langsung dengan dinding pembatas lahan, hidup puluhan keluarga yang menggantungkan nasibnya pada kesederhanaan.

Salah satunya adalah Ibu Suhaena, atau yang lebih akrab disapa Bu Meli oleh warga sekitar, mengambil nama dari anak perempuannya.

Telah tinggal lebih dari 20 tahun di pemukiman ini, Bu Meli menyaksikan sendiri bagaimana anak-anaknya tumbuh besar hingga kini telah berumah tangga.

Meski kini tinggal seorang diri sembari menunggu anak bungsunya melangkah ke jenjang pernikahan, Bu Meli enggan beranjak. Bagi Bu Meli dan warga lainnya, suasana kekeluargaan yang hangat menjadi alasan utama mereka bertahan.

"Kalau sore di sini alhamdulillah ramai. Ibu-ibu pada ngobrol, anak-anak main bola, main layangan. Kalau hari Minggu sudah kaya di taman rekreasi. Tetangga di sini baik-baik, kebersamaannya kuat sekali," ungkap Bu Meli dengan nada penuh kehangatan kepada RRI Jakarta, Sabtu 8 Agustus 2026.

Kehidupan di area ujung Kampung Bengek ini penuh dengan perjuangan fisik dan ketabahan. Karena berdiri di atas lahan milik PT Pelindo, warga dilarang membangun rumah permanen dari batu bata. Alhasil, deretan hunian warga hanya terbuat dari papan kayu dan bahan seadanya yang saling berdempetan.

Tak hanya bangunan yang serba darurat, pasokan air bersih dan listrik pun kerap menjadi persoalan kritis. Warga kerap harus menghadapi pemadaman listrik serta penghentian aliran air hingga berminggu-minggu jika ada pemeriksaan. Saat air mati, harga air galon melambung tinggi dari Rp7.000 menjadi Rp10.000 per galon, di mana satu keluarga membutuhkan hingga tiga galon setiap harinya.

"Pernah sampai dua minggu tidak mandi karena air mati dan listrik padam. Kalau orang di perumahan mati lampu sejam saja sudah gerah, kami sampai dua minggu. Tapi ya dinikmati saja, ada angin laut," kenang Bu Meli terkekeh mengingat masa-masa sulit tersebut.

Meski diterpa keterbatasan fasilitas dan menyadari posisi mereka yang sewaktu-waktu dapat digusur oleh pemilik lahan, warga Kampung Bengek tidak berkecil hati. Mereka memahami status tanah yang ditumpangi dan siap menerima keputusan apa pun dari pemerintah atau pengelola lahan di kemudian hari.

Bagi mereka, Kampung Bengek bukan sekadar tempat bernaung dari panas dan hujan, melainkan sebuah ruang sosial di mana rasa aman, kejujuran, dan kebersamaan antar warga menjadi benteng terkuat dalam menjalani kerasnya kehidupan di tepi kota.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....