Dari Garasi Sempit, Umi Yati Bangun Asa Ratusan Anak Jakarta

  • 05 Agt 2026 08:11 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Umi Yati, seorang mantan pustakawan berusia 40 tahun, meninggalkan kariernya pada tahun 2014 untuk membangun ruang aman bagi anak-anak di lingkungan dengan persoalan sosial.
  • Tempat belajar yang awalnya dimulai dari garasi rumah kontrakan berukuran 3x5 meter kini telah berkembang menjadi gedung empat lantai yang dilengkapi berbagai fasilitas pembelajaran.
  • Di ruang belajar tersebut, anak-anak dapat melakukan berbagai aktivitas positif seperti membaca buku, belajar mengaji, dan membuat kerajinan tangan dalam lingkungan yang aman dan mendukung.

SUARA tawa anak-anak terdengar bersahutan dari sebuah bangunan empat lantai di kawasan Koja, Jakarta Utara. Di dalamnya, sebagian anak sibuk membaca buku, sementara yang lain berlatih mengaji dan membuat kerajinan tangan. Sulit membayangkan bahwa tempat belajar itu bermula dari sebuah garasi rumah kontrakan berukuran 3x5 meter.

Di balik perubahan tersebut berdiri sosok Yati Suryati atau yang akrab disapa Umi Yati. Perempuan berusia 40 tahun itu memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai pustakawan pada 2014 demi sebuah keyakinan sederhana, yakni menghadirkan ruang aman bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan berbagai persoalan sosial.

Saat itu, modal yang dimilikinya hanya sekitar 100 judul buku dan sebuah rak yang diberikan kerabat. Garasi rumah sewanya kemudian disulap menjadi Tempat Bacaan Masyarakat atau TBM Rumah Baca Cahaya Ilmu, tempat anak-anak datang bukan hanya untuk membaca, tetapi juga belajar, bermain, dan menemukan lingkungan yang lebih positif.

Keputusan itu lahir dari kegelisahan yang ia rasakan setiap hari. Umi Yati melihat banyak anak menghabiskan waktu di jalan tanpa kegiatan yang terarah, sehingga ia memilih membuka pintu rumahnya agar mereka memiliki tempat untuk belajar sekaligus membangun karakter.

Perlahan, garasi kecil itu mulai dipenuhi anak-anak. Jumlah peserta didik yang awalnya hanya sekitar sepuluh orang terus bertambah hingga mencapai ratusan anak. Perkembangan tersebut mendorong Umi Yati mendirikan yayasan resmi pada 2021 agar kegiatan pendidikan memiliki dasar hukum yang lebih kuat.

Melalui yayasan itu, berbagai program pendidikan lahir, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini hingga Taman Pendidikan Al-Qur'an. Dalam waktu hanya tiga bulan, kedua lembaga tersebut berhasil memperoleh Nomor Pokok Sekolah Nasional, membuka jalan bagi pengembangan layanan pendidikan yang lebih terstruktur.

Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Pada 2023, bangunan lama yang selama ini mereka tempati mengalami kerusakan parah hingga akhirnya roboh. Bagi banyak orang, peristiwa itu mungkin menjadi akhir dari sebuah perjuangan, tetapi bagi Umi Yati justru menjadi titik awal untuk membangun kembali mimpi yang lebih besar.

Alih-alih mengandalkan proposal bantuan, ia memilih mempertahankan prinsip untuk membangun secara mandiri. Hasil usaha percetakan yang dikelolanya di Jakarta Pusat dipadukan dengan tabungan, doa, dan sedekah subuh menjadi sumber kekuatan untuk melanjutkan pembangunan.

Setahun kemudian, bangunan baru seluas sekitar 500 meter persegi berdiri di lokasi yang sama. Dua lantai di antaranya dikhususkan sebagai ruang belajar gratis bagi anak-anak, sementara lantai lainnya dimanfaatkan untuk mendukung berbagai aktivitas yayasan.

"Kami tidak ingin menumpang dari uang yayasan, tetapi ingin yayasan ini terus memberi manfaat. Semua pembangunan ini murni keberkahan dan ikhtiar mandiri agar anak-anak punya tempat belajar yang aman dan layak," ujar Umi Yati kepada RRI Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.

Perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat pada bangunan. Lingkungan sekitar perlahan ikut berubah seiring semakin banyak anak menghabiskan waktu untuk belajar dibanding berkeliaran di jalan. Kebiasaan berbicara kurang santun mulai berganti dengan sikap yang lebih tertib dan saling menghargai.

Dampak lainnya mulai terlihat ketika enam anak binaan dari keluarga kurang mampu berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur beasiswa. Sebagian dari mereka merupakan anak yatim maupun anak buruh harian yang sebelumnya tidak pernah membayangkan bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Perubahan itu kini memasuki babak baru. Sembilan alumni angkatan pertama yang telah menjadi mahasiswa memilih kembali ke Rumah Baca Cahaya Ilmu untuk mengajar adik-adik mereka secara sukarela. Mereka bukan lagi sekadar penerima manfaat, melainkan bagian dari mata rantai yang meneruskan semangat berbagi ilmu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....