Menyambung Hidup di Lapak Warisan: Suara Hati Pedagang di tengah Sepinya Pembeli
- 02 Agt 2026 10:46 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA - Aroma khas pasar tradisional dan deretan lapak yang berjajar tak lagi seramai dulu. Di salah satu sudut pasar, seorang pria paruh baya berdiri menanti pembeli yang tak kunjung datang. Lapak yang ditempatinya bukan sekadar tempat mengadu nasib, melainkan sebuah peninggalan bernilai sejarah bagi keluarganya.
"Ini peninggalan orang tua. Merekanya sudah meninggal dua-duanya, sudah wafat. Jadi ini warisan yang dibagi-bagi untuk keluarga," ujarnya sembari menunjuk area sekitar kepada RRI Jakarta, Jumat 31 Juli 2026.
Lapak tersebut kini dikelola bersama saudara-saudaranya, menjadi tumpuan hidup bersama setelah kedua orang tua mereka tiada.
Berbeda dengan persepsi umum bahwa pasar tradisional menjadi penyuplai utama restoran-restoran besar, kenyataan di lapangan berkata lain. Pria tersebut mengungkapkan bahwa restoran hampir tidak pernah membeli bahan baku dari lapaknya. Penopang utama usahanya selama ini adalah para pemilik katering.
"Kalau restoran itu jarang, bahkan enggak pernah ada. Tapi kalau katering banyak. Rata-rata pelanggan di sini ya katering, mereka ambil bahan seperti cumi, teri, gabus, atau sotong," jelasnya.
Namun, mengandalkan pelanggan katering saja kini tak lagi cukup untuk menjamin kelancaran usahanya. Pasar yang kian hari kian sepi membuat para pedagang harus mengelus dada. Kondisi ekonomi yang menantang membuat aktivitas jual beli tak segairah dulu.
Saat ditanya mengenai harapannya, raut wajahnya berubah menjadi penuh keseriusan. Ada desakan dan harapan mendalam yang ingin ia sampaikan kepada para pembuat kebijakan.
"Ya untuk pemerintah, tolonglah turun tangan langsung ke lapangan. Jangan lihat ke atas terus, jangan lupa sama masyarakat pedagang kayak kita," tegasnya.
Bagi mereka, kehadiran pemerintah yang benar-benar memahami kondisi di tingkat bawah sangat dibutuhkan. Sepinya pembeli bukan sekadar angka statistik, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi saban hari demi menyambung hidup keluarga.
"Supaya tahu keadaan kita ini bagaimana. Tiap hari pedagang di sini masyaAllah... lagi sepi, sepi banget," pungkasnya dengan nada lirih.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....