Menjaga Asa Lapak Warisan: Cerita Abdullah Menyusuri Pasang Surut Pasar Ikan Asin
- 31 Jul 2026 17:06 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA - Di usianya yang sudah menginjak 57 tahun, Pak Abdullah masih sigap menyapa setiap pengunjung yang melintas di depan lapaknya. Tubuhnya masih tampak bugar, sepadan dengan semangatnya mengelola usaha ikan asin yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak puluhan tahun lalu.
Usaha ini bukan baru dirintisnya kemarin sore. Pak Abdullah melanjutkan bisnis keluarga yang diturunkan secara temurun sejak era 1970-an.
"Orang tua saya dulu nelayan, ibu pengasin. Tahun 70-an tempat ini sudah ada, bahkan sebelum kawasan Muara Angke berkembang seperti sekarang," kenangnya sembari mengingat masa-masa awal pasar ini berdiri sebagai pusat grosir ikan asin di Jakarta. Jum'at 31 Juli 2026.
Pada masa kejayaannya—sekitar era 70, 80, hingga 90-an—pasar ini tak pernah sepi. Pembeli dari berbagai daerah seperti Bogor, Bandung, Sukabumi, hingga Cirebon datang khusus untuk kulakan. Transaksi yang terjadi pun bukan dalam hitungan kilogram kecil. "Dulu mah enggak ada pembeli eceran begini. Sekali beli bisa 50 kilo, 70 kilo, sampai satu kuintal," tutur Pak Abdullah.
Namun, zaman telah berubah. Kini pembeli dari luar daerah nyaris tak ada lagi. Pembeli yang datang didominasi warga lokal Jabodetabek atau pengusaha katering, dengan kuantitas belanja yang jauh berkurang paling banyak hanya sekitar 10 kilogram atau bahkan eceran kiloan.
Perubahan situasi ini bukan tanpa alasan. Menurut Pak Abdullah, salah satu pemicu utamanya adalah semakin sulit dan langkanya pasokan ikan segar dari laut.
"Dulu cari ikan di pinggir laut saja gampang, ada ikan belanak, kerapu, apa saja ada. Sekarang kalau lihat laut di pinggir, airnya sudah tercemar limbah dan sampah. Cari ikan jadi susah, makanya harganya jadi mahal," jelaskannya.
Kelangkaan ini membuat harga beberapa jenis ikan asin melonjak drastis dibanding era tahun 2000-an ke bawah. Ikan kalapan, misalnya, kini bisa menyentuh harga Rp200.000 per kilogram, padahal dulu termasuk jenis ikan yang sangat murah. Begitu pula ikan gabus asin yang dulunya hanya ratusan rupiah hingga Rp1.000 per kilo, kini sudah menembus Rp110.000 per kilogram.
Meski harus menghadapi lesunya kunjungan pasar dan melambungnya harga bahan baku, Pak Abdullah tetap bersyukur. Di tengah kondisi pedagang lain yang mengalami penurunan omset signifikan, ia mengaku pendapatannya terbilang masih cukup stabil—mencapai Rp7 juta hingga Rp10 juta per hari saat pasar ramai.
"Nama pedagang dalam satu pasar kan rezekinya beda-beda, tak bisa disamakan. Yang penting kita jalani dan syukuri," tutup Pak Abdullah dengan senyum optimis di balik remah-remah ikan asin warisan orang tuanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....