Dari Bedak Pengantin ke Debu Kotak Abu: Dedikasi Penjaga Rumah Abadi Lintas Agama
- 27 Jul 2026 15:30 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA - Kehidupan kerap menyajikan jalan berliku yang tak pernah terduga. Hal ini dirasakan betul oleh Deni, seorang wanita energik yang kini usianya mendekati 60 tahun. Dahulu, tangannya lihai memoles wajah anggun para mempelai sebagai perias pengantin (makeup artist). Kini, jemari yang sama telaten memegang kain lap dan sapu untuk merawat ribuan kotak tempat penyimpanan abu jenazah.
Deni tidak pernah menyangka akan melakoni profesi ini. Namun baginya, takdir adalah misteri yang tak bisa ditolak. Kehadirannya di rumah abu ini bukanlah hal acak, melainkan pengabdian turun-temurun. Ia merupakan generasi kelima dalam keluarganya yang meneruskan tugas menjaga tempat tersebut.
"Tadinya kakek saya jadi wakil ketua, terus ayah saya kerja, ibu saya kerja, paman saya kerja... udah pada meninggal semua. Saya yang kelima," tutur Deni lugas dengan gaya bicaranya yang ceplakan dan penuh gelak tawa. Senin 27 Juli 2026.
Tak lama setelah paman yang mendahuluinya wafat pada Oktober 2024, sang pemilik tempat menawarkannya untuk meneruskan tugas keluarga. Meski awalnya sempat ragu karena tidak memiliki kemampuan bahasa Mandarin yang biasanya menjadi syarat mutlak untuk membaca nama dan data pada kotak abu ia tetap diterima dengan hangat oleh pengelola tempat.
Di gedung yang mampu menampung hingga 3.000 kotak abu tersebut, bersemayam kenangan dari pelbagai latar belakang kepercayaan: Konghucu, Buddha, Katolik, hingga Kristen. Bahkan, beberapa kotak abu telah dititipkan di sana sejak gedung tersebut pertama kali berdiri pada tahun 1976—hampir setengah abad yang lalu. Berbeda dari tempat penyimpanan abu pada umumnya yang menerapkan biaya perawatan bulanan, tempat ini menggunakan sistem "beli putus".
Meskipun tugas utamanya secara resmi hanya menjaga keamanan area, Bu Deni memilih tidak berdiam diri. Di tengah sepinya gedung dan ketiadaan penambahan abu baru dalam dua tahun terakhir, ia secara sukarela membersihkan dan merawat ruangan serta ribuan kotak abu yang ada.
Bagi Bu Deni, merawat kebersihan tempat ini bukan sekadar rutinitas kerja, melainkan bentuk ibadah dan penghormatan setulus hati kepada mereka yang telah mendahului.
"Daripada kerja bengang-bengong, mending bersihin. Kebersihan itu kan sebagian dari iman. Kalau kebersihannya enggak ada, imannya dipertanyakan," ujarnya diselingi tawa khasnya.
Di usianya yang hampir menyentuh kepala enam, semangat Bu Deni tak sedikit pun surut. Di antara ribuan kotak kenangan dan keheningan ruangan, ia terus menjalankan tugasnya: menyapu debu, mendoakan para pendahulu, dan memastikan warisan pengabdian keluarganya tetap terjaga dengan baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....