Mengabdi Tanpa Jaminan: Dedikasi Sunyi Penjaga Rumah Abu Bergaji Pas-pasan
- 27 Jul 2026 15:21 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA — Di sebuah ruang penyimpanan abu jenazah yang tenang, waktu seolah berjalan lambat. Tempat ini hanya ramai tiga kali dalam setahun saat momen Imlek, Ceng Beng, dan Chit Ngee (Bulan Tujuh). Sisanya, kesunyian menjadi kawan setia sang penjaga.
Namun, di balik sepinya tempat tersebut, tersimpan kisah pengorbanan luar biasa dari seorang perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat rumah terakhir para arwah, namanya Deni.
Menjadi penjaga abu atau yang akrab disebut kuncen bukanlah pekerjaan yang bergelimang materi. Dengan penghasilan kotor sekitar Rp2 juta lebih per bulan, sang penjaga harus menanggung sendiri seluruh biaya hidupnya: makan, minum, tempat tinggal, hingga biaya berobat saat sakit, tanpa ada jaminan kesehatan atau tunjangan dari pemilik tempat. Untuk menyambung hidup, ia menyambi menjual perlengkapan sembahyang seperti dupa (hio), lilin, dan kertas hio.
Meski dengan keterbatasan ekonomi, ketulusannya tak bernilai uang. Ia bahkan rela mengeluarkan uang pribadi hingga kurang lebih Rp50 juta untuk menguruk lantai bangunan yang dulunya kerap terendam banjir. Uang puluhan juta itu ia kumpulkan dan cicil sedikit demi sedikit selama lebih dari satu tahun.
"Saya minta permohonan sama bos enggak bisa, ditolak terus. Daripada bengong, ya inisiatif sendiri. Saya cicil setahun lebih baru kelar," kenang Deni kelada RRI Jakarta, Senin 27 Juli 2026.
Pengurukan itu dilakukan bukan dengan puing biasa, melainkan menggunakan adonan semen molen agar bangunan tidak berlubang dan abu yang dititipkan tidak lagi terancam genangan air.
Bagi sang penjaga, pengorbanan besar tersebut bukanlah bentuk rasa memiliki, melainkan bentuk 'tahu diri'. Tempat itu punya sejarah panjang dalam hidupnya.
Sejak kecil, ia tumbuh di sana bersama ayah dan ibunya yang juga bekerja sebagai penjaga dan pedagang di area tersebut. Hasil kerja di rumah abu itulah yang membesarkan dan menghidupinya hingga kini.
Selain menguruk lantai, ia juga telaten mengecat meja dan merawat sudut-sudut ruangan agar tetap bersih dan layak. Bagi keluarga yang menyimpan abu kerabatnya, tempat ini mungkin sekadar tempat menitipkan kenangan.
Namun bagi sang penjaga, merawat tempat ini adalah bentuk niat baik dan bakti sebuah pengabdian tulus untuk memberi kenyamanan bagi mereka yang telah berpulang, sekaligus membalas tempat yang telah menghidupi keluarganya lintas generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....