Pengabdi Sunyi di Balik Api Kremasi Cilincing

  • 27 Jul 2026 09:21 WIB
  •  Jakarta

DI BALIK suara mesin pembakaran dan hawa panas yang tak pernah benar-benar padam di sebuah krematorium di Cilincing, Jakarta Utara, ada pekerjaan yang jarang terlihat publik. Para petugas kremasi bukan hanya mengoperasikan tungku pembakaran, tetapi juga menjadi orang terakhir yang memastikan proses perpisahan seseorang berlangsung dengan hormat.

Profesi itu sering dipandang sebelah mata karena identik dengan kematian. Padahal, bagi mereka yang menjalaninya, pekerjaan tersebut lebih dekat dengan pelayanan kemanusiaan dibanding sekadar pekerjaan teknis.

Seorang petugas kremasi berdiri di depan tungku pembakaran di Krematorium Cilincing, Jakarta. Pekerjaan ini tidak hanya menuntut ketelitian dan kesiapsiagaan menghadapi suhu tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari pelayanan kemanusiaan bagi keluarga yang mengantar orang tercinta ke peristirahatan terakhir. Foto: RRI/ IG syamsudinilyas)
Di Balik Pekerjaan yang Tak Banyak Dikenal

Krematorium kerap dipahami hanya sebagai tempat pembakaran jenazah. Yang jarang diketahui, setiap proses di dalamnya melibatkan orang-orang yang bekerja dengan ketelitian tinggi sekaligus menjaga perasaan keluarga yang sedang berduka.

Agus (48), petugas kremasi di Cilincing, telah mengabdikan puluhan tahun di tempat itu. Hampir setiap hari ia berdiri di depan tungku bersuhu tinggi, memastikan seluruh proses berjalan sesuai prosedur hingga keluarga menerima abu jenazah kerabat mereka.

Risiko pekerjaan itu tidak ringan. Paparan panas, kemungkinan terkena luka bakar, hingga menghadapi berbagai kondisi jenazah menjadi bagian dari rutinitas yang harus dihadapi tanpa banyak diketahui masyarakat.

"Dari awal kita mengerjakan jenazah sampai selesai, terus keluarga mengucapkan terima kasih. Wah, luar biasa. Seperti dihargai banget. Ada kepuasan tersendiri," ujar Agus kepada RRI Jakarta, Jumat (25/7/2026).

Ucapan sederhana itu menjadi penjelasan mengapa ia tetap bertahan. Di balik pekerjaan yang identik dengan kesunyian, penghargaan dari keluarga menjadi bentuk pengakuan yang menurutnya jauh lebih berarti dibandingkan angka di slip gaji.

Upah Batin yang Sulit Diukur

Secara ekonomi, Agus mengakui penghasilannya masih berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Namun, ia memilih bertahan karena merasa pekerjaannya memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Bersama istrinya yang berdagang, Agus membangun kehidupan keluarga dengan penghasilan yang sederhana. Salah seorang anaknya bahkan telah berhasil menyelesaikan pendidikan, sesuatu yang menurutnya menjadi kebanggaan terbesar selama bekerja di krematorium.

"Kalau dipikir-pikir lagi, kalau kerja jauh harus ngontrak, makan, belum lagi biaya ongkos. Ending-endingnya sama saja. Di sini dekat, dengan gaji segitu bisa utuh untuk keluarga," ucap Agus.

Perhitungan itu terdengar sederhana, tetapi menunjukkan bahwa keputusan bertahan bukan hanya soal pendapatan. Ada pertimbangan biaya hidup, kedekatan dengan keluarga, hingga rasa memiliki terhadap pekerjaan yang sudah dijalani selama bertahun-tahun.

Agus petugas ruang kremasi Cilincing Jakarta Utara, puluhan tahun iklas mengabdi menemani keluarga yang berduka. (Foto: Dok. Agus)
Pelayanan yang Tidak Berhenti pada Proses Kremasi

Bagi masyarakat, proses kremasi mungkin selesai ketika abu jenazah diserahkan kepada keluarga. Namun bagi para petugas, pelayanan sesungguhnya dimulai sejak jenazah tiba hingga seluruh prosesi berakhir.

Mereka harus memastikan keluarga memperoleh informasi yang jelas, membantu proses administrasi, hingga menjaga agar seluruh tahapan berlangsung dengan hormat. Dalam situasi duka, ketenangan petugas sering kali menjadi penyangga emosional bagi keluarga yang kehilangan.

Layanan itu juga tidak hanya ditujukan kepada masyarakat yang mampu. Menurut Agus, krematorium di Cilincing tetap melayani warga kurang mampu melalui fasilitas Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), sehingga keluarga tetap dapat memberikan penghormatan terakhir kepada anggota keluarganya.

Ketika Kematian Menjadi Rutinitas

Bekerja setiap hari dengan jenazah membuat banyak orang membayangkan petugas kremasi akan terbiasa dengan kematian. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Yang berubah bukan rasa hormat mereka terhadap orang yang meninggal, melainkan cara memaknai kehidupan setelah bertahun-tahun berada di ruang perpisahan.

Agus mengaku setiap jenazah membawa cerita yang berbeda. Ada keluarga yang datang dalam keheningan, ada pula yang tak mampu menahan tangis ketika pintu tungku kremasi mulai tertutup. Dalam situasi seperti itu, petugas dituntut tetap tenang agar seluruh prosesi berjalan dengan baik.

Sikap profesional itu lahir dari pengalaman panjang. Mereka memahami bahwa di balik setiap jenazah ada keluarga yang sedang kehilangan orang tua, pasangan, saudara, atau anak. Karena itu, pekerjaan mereka bukan sekadar mengoperasikan mesin, tetapi juga menjaga martabat seseorang hingga akhir perjalanan hidupnya.

Menjaga Api, Menjaga Kepercayaan

Di ruang kremasi, kesalahan sekecil apa pun tidak boleh terjadi. Proses pembakaran dilakukan mengikuti prosedur yang ketat, mulai dari penerimaan jenazah, persiapan sebelum kremasi, hingga penyerahan abu kepada keluarga.

Bagi Agus, kepercayaan keluarga menjadi tanggung jawab yang jauh lebih berat dibanding panasnya tungku pembakaran. Sekali kepercayaan itu hilang, pelayanan yang telah dibangun selama bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap.

"Yang penting keluarga merasa tenang dan percaya sama pelayanan kami. Itu yang selalu kami jaga," kata Agus.

Kepercayaan itu pula yang membuat petugas bekerja dengan penuh ketelitian. Mereka memastikan setiap tahapan dilakukan sesuai prosedur sehingga tidak menimbulkan kekeliruan yang dapat melukai perasaan keluarga.

Profesi yang Masih Diselimuti Stigma

Di tengah masyarakat, pekerjaan sebagai petugas kremasi masih sering dipandang sebelah mata. Tidak sedikit orang yang mengaitkannya dengan hal-hal mistis atau memilih menjaga jarak karena menganggap profesi tersebut menyeramkan.

Pandangan itu berbeda jauh dengan kenyataan di lapangan. Bagi Agus dan rekan-rekannya, lingkungan kerja justru dibangun atas dasar kedisiplinan, kebersihan, serta penghormatan terhadap keluarga yang datang.

Stigma tersebut perlahan memudar ketika masyarakat melihat langsung bagaimana pelayanan diberikan. Banyak keluarga datang dengan kecemasan, tetapi pulang dengan rasa lega karena prosesi berlangsung secara tertib dan manusiawi.

Tempat penitipan abu jenazah di Wan Lin Chie, Cilincing, Jakarta Utara. Ruangan ini menjadi tempat penyimpanan sementara abu jenazah sebelum keluarga memutuskan prosesi pelarungan. (Foto: RRI/Ilyas)
Rumah Abu, Tempat Duka Belum Selesai

Tidak jauh dari ruang kremasi terdapat tempat penitipan abu jenazah. Ruangan sederhana itu menjadi saksi bahwa proses kehilangan tidak selalu selesai ketika kremasi berakhir.

Deretan guci abu tersimpan rapi di dalam lemari penyimpanan. Sebagian berada di sana selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, menunggu keluarga benar-benar siap melepasnya.

"Semua yang nitip di sini kan pasti masih ada keterikatan sayang sama kerabatnya, makanya dititip. Belum bisa lepas," ujar Deni, penjaga tempat penitipan abu jenazah di Cilincing, Senin (27/7/2026).

Menurut Deni, dalam ajaran Hindu maupun Buddha, abu jenazah pada umumnya dilarung ke laut sebagai bagian dari penyempurnaan prosesi. Namun, sebagian keluarga memilih menitipkan abu karena belum siap berpisah sepenuhnya dengan orang yang mereka cintai.

Fenomena itu menunjukkan bahwa rumah abu bukan sekadar ruang penyimpanan. Tempat tersebut menjadi ruang transisi, ketika rasa kehilangan perlahan berubah menjadi penerimaan.

Mengajarkan Makna Kehidupan

Ironisnya, orang yang setiap hari bekerja paling dekat dengan kematian justru banyak berbicara tentang kehidupan. Agus mengatakan pekerjaannya membuat ia belajar menghargai waktu bersama keluarga dan tidak menunda berbuat baik kepada sesama.

Pengalaman menghadapi berbagai kisah hidup juga mengubah cara pandangnya terhadap pekerjaan. Baginya, tidak ada profesi yang rendah selama dijalankan dengan jujur dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Di tengah kepungan panas tungku kremasi, keterbatasan fasilitas, dan penghasilan yang sederhana, Agus memilih bertahan karena merasa pekerjaannya menghadirkan ketenangan bagi keluarga yang sedang berada pada fase paling sulit dalam hidup mereka.

Di ruang yang identik dengan akhir kehidupan itu, Agus justru menemukan makna tentang ketulusan. Bahwa penghormatan terakhir kepada seseorang bukan hanya dilakukan oleh keluarga, tetapi juga oleh mereka yang bekerja dalam sunyi agar setiap perpisahan berlangsung dengan penuh martabat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....