Merajut Asa Saat Gen Z Bergotong Royong Membawa Sekolah ke Daerah 3T

  • 19 Jul 2026 15:25 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Bagi sebagian anak, sekolah adalah rutinitas yang dilewati dengan berjalan kaki menyusuri trotoar yang aman atau duduk tenang di dalam kendaraan roda empat. Namun bagi anak-anak di daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T), ruang kelas terkadang adalah sebuah kemewahan yang sarat akan kompromi. Realitas inilah yang mengetuk hati Azahra Putri Santiani, atau yang akrab disapa Wawa, seorang kreator konten sekaligus aktivis muda yang mendedikasikan energinya untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anak di daerah marjinal.

Langkah Wawa di dunia kerelawanan sebetulnya telah dimulai sejak ia masih duduk di bangku SMA dengan mendirikan komunitas "1001 Cita" pada tahun 2019. Pandemi COVID-19 kemudian menjadi momentum yang mengubah arah kreativitasnya. Mengisi waktu luang saat pembatasan sosial, ia mulai merintis jalan sebagai kreator konten edukasi. Isu yang ia angkat terus berkembang, mulai dari sains dasar hingga akhirnya berfokus pada pemerataan akses pendidikan di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, dedikasinya membawanya meraih gelar Mahasiswa Berprestasi Nasional saat berkuliah di IPB, sebuah panggung yang ia gunakan untuk menyuarakan ketimpangan pendidikan di daerah-daerah terluar.

"Fokus kegiatan kita sebenarnya untuk mendampingi anak-anak di daerah 3T, agar adik-adik di sana tidak merasa sendiri dan mereka berani untuk bermimpi," ungkap Wawa. Semangat yang awalnya berupa komunitas kecil itu kini telah bertransformasi menjadi sebuah yayasan resmi sejak tahun 2022.

Menembus Dinding Kesenjangan

Bergerak di lapangan membuka mata Wawa dan timnya bahwa masalah pendidikan di Indonesia sangat kompleks dan bervariasi. Di Pangalengan, Jawa Barat misalnya, timnya berhadapan dengan isu pernikahan usia anak yang dipicu oleh faktor jeratan utang antar-keluarga. Sementara di Ciwidey, mereka menemukan anak-anak yang harus memulai perjalanan ke sekolah sejak jam 4 pagi demi menembus pekat dan dalamnya hutan agar bisa tiba tepat waktu pada jam 7 pagi.

Tak jarang pula, ketiadaan infrastruktur memaksa kegiatan belajar mengajar menumpang di fasilitas seadanya. Wawa mengenang salah satu momen berharga ketika ruang kelas di Ciwidey runtuh saat anak-anak sedang belajar di dalam mushola. Respons cepat pun dilakukan yayasannya melalui penggalangan dana (open campaign) di media sosial untuk melakukan renovasi total.

"Kita harus mengedukasi masyarakat tentang apa yang menjadi hak bagi pendidikan anak, dan apa yang bisa kita berikan sebagai masyarakat untuk meminimalkan hal tersebut," jelas Wawa menekankan pentingnya kesadaran kolektif.

Gotong Royong dari Nol di Riau

Kini, fokus terbesar Yayasan 1001 Cita sedang tertuju pada sebuah proyek revitalisasi sekolah di Provinsi Riau. Di wilayah tersebut, keterbatasan fasilitas membuat sebuah sekolah hanya memiliki tiga ruang kelas saja. Alhasil, anak-anak yang tidak tertampung terpaksa melangsungkan proses belajar di teras sekolah.

Belajar di teras tentu jauh dari kata ideal. Saban hari, fokus anak-anak harus terpecah oleh deru bising, terik matahari, hingga kepulan debu dari truk-truk pengangkut sawit yang lalu lalang di dekat sekolah.

Melihat situasi ini, Wawa tidak tinggal diam. Bergerak bersama jejaring sesama generasi muda, yayasannya merangkul beberapa jenama (brand) lokal dan komunitas bisnis yang seluruhnya dimotori oleh Gen Z. Mereka bahu-membahu menggalang dana untuk membangun satu ruang kelas baru dari nol.

Saat ini, pembangunan fisik ruang kelas tersebut telah mencapai 90 persen. Jika tidak ada aral melintang, peresmian ruang kelas baru ini direncanakan akan berlangsung pada bulan depan. Bagi anak-anak di pesisir Riau, bangunan baru itu bukan sekadar tumpukan bata dan semen, melainkan sebuah ruang aman tempat mereka bisa merajut mimpi-mimpi besar tanpa perlu terganggu debu jalanan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....