Merajut Sekolah di Ujung Negeri: Mimpi Relawan Muda Samakan Langkah Anak Pesisir

  • 19 Jul 2026 15:26 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Jalan menuju pendidikan yang merata di Indonesia masih berupa labirin panjang yang penuh kelokan terjal. Di daerah-daerah pedalaman dan wilayah pesisir, akses bukan sekadar tentang ketersediaan buku, melainkan perjuangan fisik melawan cuaca dan jarak. Realitas pahit inilah yang melatarbelakangi lahirnya sebuah mimpi besar dari sebuah yayasan pendidikan mandiri: mendirikan sekolah yang relevan di seluruh provinsi di Indonesia.

"Big dreams kita sih di yayasan, kita sebenarnya pengen bikin sekolah yang ada di seluruh provinsi di Indonesia," ujar Az-Zahrah, seorang relawan muda dengan mata berbinar penuh optimisme. Sabtu 18 Kuli 2026

Namun, sekolah yang mereka impikan bukanlah replika dari sekolah perkotaan yang kaku. Mereka ingin melahirkan kurikulum yang di-customize—disesuaikan dengan kebutuhan geografis dan budaya masyarakat setempat. Baginya, anak-anak pesisir tentu membutuhkan bekal ilmu yang berbeda dengan anak-anak yang tumbuh di kawasan pegunungan. Kesenjangan (gap) pendidikan ini sangat ia rasakan ketika pertama kali merantau dari Riau ke Bogor untuk berkuliah.

Perjalanan mendampingi anak-anak di daerah marjinal sejauh ini murni digerakkan oleh swadaya dan kolaborasi.

"Jujur sih, sejauh ini kalau dari segi materi, kita belum pernah sepersen pun dibantu sama pemerintah," ungkapnya tanpa bermaksud mengutuk keadaan.

Meski bantuan materi nihil, ia mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dalam hal legalitas, pengurusan surat-menyurat, hingga fasilitasi pelepasan relawan ke pulau-pulau terpencil. Langkah birokrasi ini dinilai cukup membantu membuka pintu masuk ke daerah-daerah yang aksesnya sulit.

Menariknya, sang relawan sendiri sebenarnya memiliki latar belakang pendidikan di bidang perhutanan. Alih-alih mendapat cibiran karena dianggap "lintas jalur" saat mengurus pendidikan anak, ia justru menerima respons positif dari masyarakat sekitar. Baginya, inti dari pendidikan tinggi di kampus bukan sekadar materi yang dipelajari di kelas, melainkan bagaimana pola pikir dibentuk, cara berkomunikasi diasah, dan bagaimana ilmu itu diaplikasikan untuk mengabdi di tengah masyarakat.

Melalui pengalaman di lapangan, ia pun menitipkan sebuah pesan dan saran mendalam untuk pembuat kebijakan di pusat. Pemerintah diminta untuk lebih jeli memetakan daerah-daerah luas yang masih sangat kekurangan bangunan sekolah, serta memperbaiki akses transportasi agar anak-anak tidak terisolasi saat cuaca buruk melanda.

Lebih dari itu, ia mengkritik pendekatan pembuatan program yang selama ini sering kali bersifat top-down (dari atas ke bawah). Ide-ide seringkali lahir di parlemen lalu diturunkan begitu saja tanpa melihat kebutuhan riil di akar rumput.

"Kita harap regulasinya itu approach-nya lebih ke bottom-up, dari bawah, dari masyarakat. Gagasan programnya hasil diskusi bersama masyarakat, baru dirancang," pungkasnya berharap.

Sebuah manifesto sederhana agar setiap anak di negeri ini, sekecil apa pun perahu yang mereka tumpangi, memiliki kesempatan yang sama untuk menjemput masa depan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....