Kisah Anggi, Menembus Batas di Puncak Binaiya

  • 19 Jul 2026 07:38 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Bagi Anggi, mendaki gunung bukan sekadar perkara menaklukkan ketinggian geomorfologis. Dari hampir 30 gunung yang telah ia daki—termasuk mencapai Everest Base Camp di Nepal—ada satu nama yang selamanya memiliki tempat paling sakral di hatinya: Gunung Binaiya di Maluku.

Binaiya sering dijuluki oleh para pendaki sebagai medan di mana "mental dibina, fisik dianiaya." Namun bagi pemuda disabilitas ini, Binaiya adalah tempat di mana ia menemukan arti terdalam dari penerimaan sesama manusia.

Perjalanan itu dimulai dengan skeptisisme. Ketika Anggi tiba di desa adat di kaki Gunung Binaiya, masyarakat setempat diselimuti kekhawatiran besar. Kondisi fisik Anggi memicu ketakutan akan keselamatan dirinya, mengingat jalur Binaiya terkenal sangat terjal dan sulit. Bahkan, sempat ada keraguan besar dari kepala adat untuk memberikan izin.

Sebelum mendaki, Anggi harus melewati prosesi adat dan ritual khusus yang dipimpin oleh tetua desa. Di tengah perdebatan dan negosiasi agar izin mendaki keluar, ego muda Anggi sempat bergejolak. Ia merasa kesal dan dongkol. Mengapa karena kondisinya, ia harus dipandang sebelah mata? Padahal, gunung yang lebih sulit dari Binaiya pun sudah pernah ia lalui.

Namun, gunung selalu punya cara tersendiri untuk meruntuhkan keangkuhan hati manusia.

Rasa dongkol yang dibawa Anggi sepanjang jalur pendakian seketika luruh tanpa sisa saat ia melangkah turun dan kembali ke desa. Ia mendapati sebuah kenyataan yang membuatnya tak mampu membendung air mata.

Hari itu adalah hari Minggu. Di saat Anggi sedang berjuang di atas jalur pendakian yang ganas, seluruh jemaat gereja di desa tersebut sedang melaksanakan ibadah. Di dalam rumah ibadah itu, mereka tidak sedang meratapi keterbatasan Anggi, melainkan menyatukan suara. Seluruh jemaat bersujud, melangitkan doa-doa khusus demi keselamatan dan perlindungan Anggi selama berada di gunung.

"Yang awalnya aku dongkol, ketika mendengarkan itu aku langsung nangis," kenang Anggi dengan suara bergetar. Sabtu 18 Juli 2026.

"Di situ aku langsung merasa... ini adalah salah satu tempat, satu-satunya momen, di mana diriku sendiri merasa dianggap layaknya manusia."

Toleransi dan kasih sayang yang tulus dari masyarakat Binaiya membekas begitu dalam. Alih-alih mengubur mimpi Anggi karena rasa takut, warga desa memilih menjadi pelindung lewat jalur spiritual—menjaga Anggi dengan kekuatan doa tertinggi yang mereka miliki.

Kisah magis di Binaiya inilah yang kemudian dituangkan Anggi ke dalam buku yang tengah ia susun. Melalui coretan kisahnya tentang "Sepatu Kanan dan Gunung Binaiya," Anggi ingin dunia tahu bahwa di salah satu sudut pedalaman Indonesia, ada sebuah tempat penuh kasih yang tidak melihat keterbatasan sebagai dinding pemisah, melainkan sebagai jembatan untuk saling mendoakan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....