Tak Menyerah pada Keterbatasan, Anggie Wahyuda Taklukkan Puncak Gunung

  • 19 Jul 2026 07:33 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA — Keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya. Prinsip hidup inilah yang dibuktikan oleh Anggie Wahyuda, seorang pemuda berusia 25 tahun asal Binjai, Sumatera Utara. Meski harus kehilangan salah satu kakinya akibat kecelakaan tragis, Anggie kini aktif sebagai atlet rekreasi, konten kreator, hingga bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister (S2).

Titik Terendah Akibat Kecelakaan Tragis

Perjalanan hidup Anggie berubah drastis pada tahun 2015. Akibat kabut asap tebal kiriman dari Riau yang mengganggu jarak pandang di daerahnya, sepeda motor yang dikendarai Anggie tertabrak oleh sebuah truk tangki dari arah berlawanan. Kecelakaan tersebut memaksa tim medis untuk mengamputasi kakinya.

Pasca-kejadian, Anggie mengaku sempat mengalami depresi berat selama 2,5 tahun. Ia kehilangan rasa percaya diri, takut bertemu orang banyak, hingga selalu sengaja datang terlambat ke sekolah agar tidak menjadi pusat perhatian. Namun, fase ikhlas perlahan ia temukan sejak awal amputasi, meski proses penerimaan diri diakuinya tetap berjalan seiring waku.

Bangkit Lewat Panggung Stand-Up Comedy

Titik balik kehidupan Anggie terjadi saat ia menduduki bangku kelas 3 SMA semester akhir. Sadar nilai akademisnya kurang maksimal karena sering absen, Anggie diajak oleh seorang temannya untuk bergabung dengan komunitas *Stand-Up Comedy.

Siapa sangka, dunia komedi tunggal menjadi obat penyembuh baginya. Hanya dalam waktu 6 bulan mendalami stand-up, Anggie berhasil lolos dalam ajang kompetisi bergengsi SUCI 4 di Indosiar. Momen inilah yang benar-benar membangunkan kembali kepercayaan dirinya yang sempat runtuh.

Merambah Dunia Kreatif dan Pendakian Gunung

Sejak tahun 2018, Anggie aktif menjadi konten kreator dengan fokus awal pada konten social experiment. Namun, saat pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020, pembatasan aktivitas membuatnya kesulitan memproduksi konten di tempat umum.

Anggie kemudian memutar haluan dengan mencoba aktivitas luar ruangan yang baru: mendaki gunung. Sejak tahun 2020 hingga kini, ia telah aktif menjadi pendaki gunung dan merambah menjadi atlet rekreasi seperti olahraga lari.

"Semakin kita memikirkan hal yang negatif, ya semakin kita mundur," ungkap Anggie optimis saat menceritakan caranya menghadapi cibiran atau pandangan negatif orang lain krpada RRI Jakarta. Sabtu 18 Juli 2026.

Kini, di usianya yang ke-25, Anggie membuktikan bahwa ruang gerak seorang disabilitas tidak terbatas. Selain aktif berolahraga ekstrem dan membuat konten, ia juga tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah S2, membuktikan bahwa semangat juang mampu menembus segala keterbatasan fisik.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....