Mengurai Lumpur: Seni Karantina dan Rahasia Bisnis Cacing Sutra BKT

  • 14 Jul 2026 08:20 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Proses pencarian cacing sutra di dasar Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) barulah sebuah permulaan. Bagi para pencari cacing seperti Luthfi Nugroho (38) dan Ahmad Hanafi (45), perjuangan sesungguhnya justru terletak pada proses setelahnya: memisahkan organisme lembut ini dari pekatnya limbah kota hingga siap dipasarkan.

Cacing sutra yang baru diangkat dari sungai tidak bisa langsung diberikan kepada ikan. Kondisinya masih kotor, bercampur dengan lumpur, sampah, dan berbagai jenis kotoran sungai. Untuk itu, mereka harus membawanya ke lapak untuk melalui proses pemisahan yang unik.

"Kita taruh di bak-bak, nanti diendapkan lalu ditutup. Digelapkanlah bahasa kaminya," kata Luthfi kepada RRI Jakarta, Senin 13 Juli 2026.

Dalam kondisi gelap gulita tanpa cahaya, insting cacing sutra akan bergerak memisahkan diri dari lumpur dalam waktu 2 hingga 3 jam. Secara keseluruhan, dari awal mencari di pagi hari hingga cacing benar-benar bersih dan siap dipindahkan, Luthfi dan Hanafi harus menghabiskan waktu rata-rata 8 jam sehari.

Pentingnya Proses Sterilisasi Demi Kepuasan Pelanggan

Setelah terpisah dari lumpur, cacing-cacing tersebut tidak langsung dijual, melainkan harus masuk ke kolam karantina atau sterilisasi. Di kolam ini, cacing sutra dibilas menggunakan air jernih yang mengalir. Proses pembilasan ini sangat krusial untuk memastikan cacing dalam kondisi higienis dan bebas dari zat beracun.

"Kalau belum disterilisasi lalu kita jual, nanti dikomplain sama peternaknya karena ikan mereka bisa mati. Akhirnya kami harus ganti rugi. Itu yang kami hindari," jelas Luthfi.

Hingga saat ini, belum ada pakan buatan seperti pelet atau pasta yang mampu menandingi efektivitas cacing sutra dalam mempercepat pertumbuhan larva ikan. Hal inilah yang membuat permintaan pasar terus meroket. Di kelompok Luthfi sendiri, permintaan harian mencapai 100 hingga 120 liter per hari. Namun karena keterbatasan alam, mereka baru sanggup menyuplai sekitar 50 sampai 60 liter saja.

Saking tingginya nilai komoditas ini, pasar cacing sutra asal Jakarta kini telah merambah keluar daerah hingga menembus Jawa Timur, Palembang, dan Lampung menggunakan metode pengiriman khusus dengan es batu agar cacing tetap hidup selama perjalanan.

Berbagi Bak, Menjemput Rezeki Masing-Masing

Meski tergabung dalam satu kelompok dan menggunakan fasilitas bak penampungan yang sama, sistem pendapatan para pemburu cacing ini bersifat mandiri. Pendapatan yang dibawa pulang murni berdasarkan volume cacing yang berhasil ditangkap oleh masing-masing individu.

Dalam sehari, jika berhasil mengumpulkan sekitar 15 liter cacing sutra bersih, mereka bisa mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp260.000 hingga Rp280.000. Angka yang cukup menjanjikan ini menjadi alasan kuat mengapa mereka tetap bertahan.

Bagi Ahmad Hanafi yang kini menginjak usia 45 tahun, faktor umur dan sulitnya mencari pekerjaan baru di ibu kota membuatnya membuang jauh-jauh rasa takut saat harus menyelami sungai. Selama fisik masih mampu dan nyali masih ada, derasnya aliran BKT dan pekatnya lumpur akan tetap mereka selami demi menjemput rezeki yang halal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....