Antara Ombak dan Limbah: Kisah Nelayan Gen-Z Menjaga Asa di Tengah Lautan Jakarta
- 03 Jul 2026 15:33 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Menjadi nelayan di usia muda bukanlah perkara mudah, terutama di tengah kondisi lingkungan pesisir Jakarta yang kian memprihatinkan. Putra, seorang nelayan berusia 19 tahun yang beroperasi di kawasan Ancol, mengungkapkan berbagai tantangan berat yang ia hadapi setiap hari, mulai dari ancaman limbah pabrik hingga kenaikan biaya operasional.
Dalam sebuah wawancara RRI Jakarta baru-baru ini, Putra menceritakan bahwa penghasilannya sebagai nelayan sangat bergantung pada kondisi alam. Namun, faktor manusia seperti pencemaran lingkungan kini menjadi ancaman yang lebih nyata daripada ombak besar.
Limbah Pabrik Mematikan Rezeki
Putra mengeluhkan maraknya limbah pabrik yang sering ia temukan saat melaut di sekitar perairan Ancol. Limbah tersebut muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari cairan berwarna putih hingga hitam pekat yang mengeluarkan aroma tidak sedap.
"Limbah pabrik paling sering ditemuun di daerah Ancol. Bentuknya ada yang putih, ada yang hitam, dan bau. Itu nyiksa banget, ikan-ikan sama kerang jadi pada mati kalau ada limbah itu," ujar Putra dengan nada prihatin. Rabu 1 Juli 2026.
Kematian biota laut ini berdampak langsung pada hasil tangkapan nelayan. Tak jarang, Putra harus pulang dengan tangan hampa atau "kosong" karena area tangkapannya telah tercemar.
Harga Solar yang Terus Meroket
Selain masalah lingkungan, nelayan kecil seperti Putra juga terhimpit oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Dalam dua bulan terakhir, harga solar per jeriken mengalami kenaikan yang cukup signifikan, dari kisaran Rp260.000 - Rp270.000 menjadi Rp350.000.
Dengan kebutuhan operasional rata-rata satu jeriken solar per hari, kenaikan ini otomatis memotong margin keuntungan bersih yang bisa dibawa pulang untuk kebutuhan sehari-hari.
"Harapannya solar bisa turun harganya. Sekarang Rp350 ribu satu jeriken, padahal biasanya cuma Rp260-an. Ini kerasa banget buat kita," tambahnya.
Kurangnya Perhatian Pemerintah
Meski menghadapi berbagai kendala, Putra mengaku sejauh ini belum pernah mendapatkan bantuan, pelatihan, maupun pendampingan dari pihak pemerintah. Ia dan kakaknya masih mengandalkan kemampuan mandiri untuk bertahan hidup di sektor bahari.
Di tengah segala keterbatasan tersebut, Putra tetap memiliki mimpi besar untuk terus berkembang. Ia bercita-cita untuk menabung agar bisa membeli perahu tambahan guna meningkatkan hasil tangkapannya di masa depan.
Putra menutup wawancara dengan pesan sederhana namun menyentuh kepada pemerintah. Selain menurunkan harga solar, ia juga berharap harga kebutuhan pokok lainnya, termasuk minyak goreng dan barang konsumsi lainnya, bisa lebih terjangkau bagi rakyat kecil seperti dirinya.
Kisah Putra menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kedaulatan pangan dan kesejahteraan nelayan di pesisir Jakarta masih terancam oleh pencemaran lingkungan dan beban ekonomi yang kian berat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....