Kisah Perjuangan Gembong Menaklukkan Laut Tanpa Kaki Kanan
- 28 Jun 2026 14:16 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, JAKARTA – Di tengah ancaman limbah dan cuaca yang tidak menentu di perairan Cilincing, Andi atau Mang Gembong (41), tetap memaksakan diri melaut. Dengan kondisi fisik yang terbatas dan peralatan yang jauh dari kata layak, ia setiap hari bertaruh nyawa demi menghidupi istri dan keempat anaknya.
Setiap pagi pukul 07.00 WIB, Mang Gembong berangkat dari dermaga untuk mencari kerang hijau dan baru kembali sekitar pukul 12.00 WIB. Pekerjaan ini ia lakoni dengan penuh risiko, terutama saat musim angin barat tiba.
"Susahnya kalau lagi baratan, ombak besar kita tidak bisa ke laut," ujarnya kepada RRI Jakarta, Sabtu 27 Juni 2028.
Keuntungan yang Kian Menipis
Hasil dari melaut pun tidaklah menentu. Rata-rata Mang Gembong bisa membawa pulang 3 hingga 4 karung kerang hijau dalam sehari. Dengan harga jual Rp60.000 per karung, ia mengantongi pendapatan kotor sekitar Rp200.000 per hari.
Namun, pendapatan tersebut masih jauh dari kata cukup. Ia harus mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp100.000 untuk membeli 10 liter solar. Belum lagi pengeluaran untuk makan, air minum, dan rokok saat di laut. "Pendapatan itu pas-pasan, sementara anak sekarang sudah empat," tambahnya. Meski anak pertamanya sudah bekerja, beban ekonomi keluarga masih terasa berat.
Melaut dengan Nyawa sebagai Taruhan
Hal yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi perahu milik Mang Gembong. Ia mengaku perahunya sudah tidak layak operasi karena banyak bagian yang patah dan bocor. Untuk menahan air masuk, ia terpaksa menyumpal lubang-lubang di perahunya menggunakan kaos tangan bekas atau kain.
"Kadang ngeri juga, perahunya cuma ditambal kaos tangan. Kalau kaos tangannya lepas, air masuk. Pernah air sampai naik ke mesin karena telat menyumpal lubang," ceritanya dengan nada getir. Baginya, setiap hari di laut adalah taruhan nyawa, namun ia tidak punya pilihan lain karena laut adalah satu-satunya sumber penghidupan yang ia kuasai.
Harapan Sederhana kepada Pemerintah
Meski hidup dalam keterbatasan, Mang Gembong memiliki harapan sederhana. Ia berharap adanya perhatian dari pemerintah, terutama bantuan untuk memperbaiki perahunya agar lebih aman saat digunakan melaut. Selain itu, ia juga mendambakan kaki palsu baru berbahan karet yang lebih awet digunakan untuk menyelam.
"Kaki palsu yang sekarang tidak bisa dipakai menyelam karena karatan. Saya ingin yang karet supaya bisa dipakai kerja di air lagi," harapnya.
Kisah Mang Gembong adalah potret nyata perjuangan nelayan kecil di pesisir Jakarta yang harus berhadapan dengan kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan minimnya fasilitas keselamatan kerja. Di tengah segala keterbatasan itu, semangatnya untuk tidak mengemis dan tetap bekerja keras menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....