Sosok Inspiratif: Ahmad Sulap Limbah Jadi Musholla dan Fasilitas Umum bagi Warga
- 13 Jun 2026 15:05 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Di tengah keterbatasan hidup, kepedulian terhadap sesama tetap bisa tumbuh subur. Hal ini dibuktikan oleh Ahmad (42), seorang warga pesisir Jakarta yang berhasil membangun fasilitas ibadah dan sanitasi bagi masyarakat dengan memanfaatkan limbah dan barang-barang bekas.
Ahmad, yang merupakan korban kebakaran di wilayah Kalibaru beberapa tahun lalu, kini tinggal di lahan milik Pelabuhan di Jakarta Utara. Meski hidup di rumah sederhana berukuran 3x7 meter yang ia bangun sendiri dari kayu dan asbes bekas, semangatnya untuk memberi manfaat bagi lingkungan tak pernah padam.
Musholla Terbuka dari Barang Bekas
Salah satu karya Ahmad yang paling mencolok adalah sebuah ruang shalat terbuka (musholla) yang terletak tepat di depan tempat tinggalnya. Menggunakan material sisa seperti kayu papan, triplek, dan batu kerikil, ia menciptakan ruang ibadah yang nyaman bagi para pekerja pelabuhan, nelayan, hingga warga yang sedang memancing di sekitar dermaga.
"Kalau waktu Maghrib enak shalat di sini, anginnya sepoi-sepoi karena ruang terbuka. Bahannya semua dari sampah, kayu papan saya susun, kerikil saya taruh di situ. Sajadahnya juga saya sediakan," ujar Ahmad ketika diwawancarai RRI Jakarta, Sabtu 12 Juni 2026.
Keberadaan musholla ini sangat dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar, terutama karena jarak ke masjid terdekat cukup jauh, harus melewati sekitar tiga gang. "Banyak yang pakai, mulai dari kuli bangunan, orang dari laut, sampai yang lagi mancing," tambahnya.
Membangun Sanitasi untuk Kebersihan Lingkungan
Tak hanya tempat ibadah, Ahmad juga secara mandiri membangun fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) umum. Langkah ini ia ambil sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan pesisir dari kebiasaan warga yang seringkali buang air sembarangan.
"Dulu banyak yang kencing atau buang air sembarangan. Makanya saya buatkan WC ini supaya lingkungan tetap bersih," jelas Ahmad.
Hebatnya, hampir seluruh material bangunan WC tersebut, mulai dari paku hingga kayu, didapatkan dari barang bekas. "Pakunya saja saya ambil dari kotak-kotak buah bekas yang dibuang, saya cabuti satu-satu. Kayunya juga kayu bakar yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit," tuturnya. Satu-satunya barang yang ia beli hanyalah gembok untuk keamanan.
Resiliensi dan Kreativitas
Sehari-harinya, Ahmad bekerja serabutan sebagai tukang kayu dan buruh proyek. Keterampilannya dalam bertukang ia manfaatkan sepenuhnya untuk menciptakan fasilitas publik di lingkungannya. Area di depan rumahnya kini juga menjadi tempat berkumpul (nongkrong) warga, terutama saat akhir pekan ketika banyak orang datang untuk berenang atau memancing.
Kisah Ahmad menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk berbuat baik. Dengan kreativitas dan kepedulian, limbah yang dianggap tak berguna bisa diubah menjadi fasilitas yang meningkatkan kualitas hidup dan kenyamanan beribadah bagi masyarakat banyak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....