Menolak Menyerah Macet: Asa Sopir Truk Kontainer Menjaga Napas Ekonomi Pelabuhan

  • 29 Mei 2026 10:39 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA - Di tengah hiruk-pikuk Pelabuhan Tanjung Priok, di mana debu beterbangan dan deru mesin truk seolah tak pernah berhenti, sosok Jupri (43) tampak tenang di balik kemudi besarnya. Pria yang telah mengabdikan 15 tahun hidupnya sebagai sopir di PT Ratu Prima Raya ini adalah saksi bisu betapa kerasnya aspal Jakarta Timur hingga Utara.

Setiap hari, rute Jupri sudah pasti: dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pulo Gadung. Beban yang dibawanya pun tak main-main—mulai dari billet, besi coil, scrap, hingga wire rod. Jika kargo sedang sepi, ia akan beralih menarik kontainer di JICT.

Namun, bagi Jupri, tantangan terbesar bukanlah beban berat yang ditarik mesin truknya, melainkan "monster" yang selalu mengintai di jalanan: kemacetan total.

“Kalau sudah macet total, kami cuma bisa mengeluh. Apalagi kalau macetnya parah seperti kemarin-kemarin,” ujar Jupri dengan nada getir kepada RRI Jakarta, Kamis 28 Mei 2026.

Bagi masyarakat umum, truk kontainer sering dianggap sebagai biang keladi kemacetan. Padahal, bagi para sopir seperti Jupri, kemacetan adalah musuh utama yang menguras energi dan kantong mereka.

Sistem kerja borongan membuat pendapatan Jupri sangat bergantung pada kelancaran jalan. Dalam kondisi normal, ia bisa mengantongi sekitar Rp100.000 bersih per satu kali jalan (rit) setelah dipotong biaya solar, tol, dan makan.

“Kalau lancar, sehari bisa dapat dua rit. Tapi kalau sudah macet parah sampai dua hari di jalan, uang itu habis cuma buat makan saja,” tuturnya.

Bayangkan, bekerja siang dan malam, bergadang di kabin truk yang sempit, hanya untuk memastikan sisa uang makan bisa dibawa pulang ke rumahnya di Marunda. Jupri adalah satu dari ribuan sopir yang menjadi tulang punggung logistik negeri ini, namun seringkali terlupakan dalam kemacetan yang ia lalui setiap hari.

Harapannya sederhana, namun sangat mendalam bagi kelangsungan hidupnya. Ia tidak meminta kemewahan, ia hanya ingin pemerintah lebih memperhatikan tata kelola lalu lintas di wilayah Tanjung Priok.

“Kalau bisa mohon dibantu supaya kemacetan bisa dikurangi. Kami ini sudah penghasilan kecil, dihajar macet pula tiap hari. Siang malam kami di jalan,” pungkasnya menutup pembicaraan, sebelum kembali bersiap membelah kemacetan Jakarta.

Di balik kemudi truk raksasa itu, Jupri terus melaju. Bukan hanya membawa barang, tapi juga membawa harapan bagi keluarganya di Marunda, di tengah ketidakpastian aspal Tanjung Priok.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....