Kisah Pak Sugiyo Menjaga Memori Rumah Tuan Tanah Cilincing Masa Kolonial

  • 18 Mei 2026 08:38 WIB
  •  Jakarta

DI Sebuah sudut pesisir Jakarta yang kini sesak oleh pemukiman, sebuah bangunan tua berdiri dengan keanggunan yang tak luntur dimakan usia. Dindingnya yang tebal dan atap gentengnya yang mulai berlumut seolah menjadi portal waktu, membawa siapa pun yang memasukinya kembali ke masa ketika Jakarta masih bernama Batavia.

Di sana, di bawah naungan atap peninggalan kolonial, hiduplah Pak Sugiyo. Di usianya yang telah menginjak 72 tahun, langkahnya mungkin tak lagi secepat dulu, namun ingatannya tentang gedung ini tetap tajam. Bagi Sugiyo, gedung ini bukan sekadar bangunan cagar budaya; ia adalah rumah, saksi bisu masa kecil, dan warisan dari sang ayah.

“Tahun 1961, Bapak saya dikirim ke sini,” kata Pak Sugiyomengenang masa-masa lalunya kepada RRI jakarta dengan tatapan menerawang. Minggu 17 Mei 2026.

Ayahnya adalah anggota Batalyon 10 yang bermarkas di Lapangan Banteng. Karena situasi negara yang sedang bergejolak pasca-revolusi, para prajurit dipindahkan untuk menempati gedung kosong peninggalan Belanda tersebut.

Dahulu, gedung ini merupakan Kantor Koperasi Produksi Perikanan Bebas Tugas Kodam V Jaya. Pak Sugiyo menceritakan betapa luasnya kawasan ini di masa lalu. “Dulu ini lapangan semua, plong sampai ke sana. Orang luar nggak sembarangan bisa lewat, penjagaannya ketat,” ujarnya.

Kini, kemegahan lapangan itu telah berganti menjadi deretan rumah dan perkantoran yang padat.

Meski lingkungan sekitarnya berubah drastis, bangunan utama tempat Pak Sugiyo tinggal tetap mempertahankan "tulang punggung" aslinya. Struktur "besi citak" atau baja cetak zaman dulu masih berdiri kokoh menopang gedung. Genteng-genteng tua di atas kepala mereka pun masih asli sejak zaman Belanda, meskipun beberapa bagian sudah ditambal dengan asbes oleh warga.

Keunikan lain yang masih tersisa adalah sumur bor tua yang airnya tak pernah kering. “Belanda dulu minumnya air sumur, sampai sekarang sumurnya masih aktif,” tambah Ibu RT setempat yang turut mendampingi.

Saat ini, gedung tersebut dihuni oleh sekitar 30 Kepala Keluarga yang terbagi dalam 24 pintu. Mereka adalah keturunan dari para veteran dan purnawirawan yang telah menetap selama tiga generasi. Kehidupan di sini berlangsung sederhana namun hangat. Kamar mandi yang digunakan bersama atau komunal menjadi ruang interaksi sosial antarwarga, sebuah gaya hidup yang mungkin mulai hilang di apartemen-apartemen modern Jakarta.

Meski statusnya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya, Pak Sugiyo dan warga lainnya berharap gedung ini tetap bisa menjadi tempat bernaung bagi mereka. Di balik besi-besi tua dan pintu-pintu kayu yang masih asli, tersimpan ribuan cerita tentang pengabdian, keluarga, dan sejarah panjang yang tak boleh terlupakan.

Rumah Tuan Tanah di Cilincing adalah bukti bahwa sejarah tidak pernah selesai. Ia bisa berubah, beradaptasi, dan menemukan makna yang baru. Dari tempat kekuasaan kolonial, kini rumah itu menjadi tempat yang melindungi para pahlawan bangsa—sebuah perubahan yang mungkin tak terbayangkan 90 tahun lalu.

Di tengah padatnya kehidupan Cilincing, rumah tua itu tetap berdiri. Tidak lagi sebagai simbol masa lalu yang kelam, tetapi sebagai ruang penghargaan, kepedulian, dan ingatan kolektif sebuah bangsa.

Bagi Pak Sugiyo, setiap sudut gedung ini adalah bagian dari dirinya. Selama ia masih bernapas, ia akan terus menjaga memori itu tetap hidup, di sela-sela denting air sumur Belanda dan kokohnya besi-besi citak yang menolak menyerah pada waktu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....