Kisah Pak Dani Sulap Gang di Koja Menjadi Kawasan Urban Farming Produktif

  • 11 Mei 2026 08:27 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA– Berawal dari keresahan terhadap lahan kosong yang terbengkalai dan rawan menjadi tempat pembuangan sampah, Pak Dani (51) berhasil mengubah wajah sebuah gang di Jakarta Utara menjadi kawasan hijau yang produktif. Kini, lokasi tersebut dikenal sebagai "Proklim Gang Hijau Cemara", sebuah oase pertanian perkotaan (urban farming) di tengah padatnya pemukiman.

Terletak di RW 01, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, kawasan ini telah dikembangkan sejak tahun 2016. Pak Dani, yang merupakan pendiri sekaligus ketua gerakan ini, menceritakan bahwa motivasi awalnya adalah untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan sosial.

“Dulu ini lahan kosong, lahan 'tidur'. Kami manfaatkan untuk kegiatan anak-anak remaja supaya ada kesibukan positif. Dulu juga sempat jadi lapangan bulu tangkis, tapi karena sering banjir sepinggang, akhirnya kami alihkan fungsinya menjadi kolam budidaya ikan,” ujar Pak Dani ketika ditemui RRI Jakarta, Minggu, 10 Mei 2026.

Di atas lahan seluas kurang lebih 200 meter persegi tersebut, Pak Dani dan komunitasnya membudidayakan berbagai jenis ikan, mulai dari lele, nila, patin, gurame, hingga pembesaran ikan koi. Salah satu keunggulan dari budidaya ini adalah kemandirian dalam penyediaan pakan.

Pak Dani berhasil mengolah sampah organik dari lingkungan sekitar menjadi pakan ikan berkualitas. “Sekarang pakan ikan kami buat sendiri dari hasil sampah organik yang kami kelola. Hasilnya pun signifikan, ikan lebih cepat gemuk dan pertumbuhan nutrisinya bisa kami atur sendiri,” tambahnya.

Secara ekonomi, hasil panen ini memberikan tambahan pendapatan bagi kelompok tani. Dengan harga lele sekitar Rp24.000 per kilogram dan nila Rp35.000 per kilogram, sekali panen (setiap 3-4 bulan) kelompok ini bisa menghasilkan sekitar Rp2.000.000 dari penjualan ikan saja.

Tak hanya fokus pada pertanian dan perikanan, Gang Hijau Cemara kini juga berkolaborasi dengan dunia pendidikan, khususnya gerakan Pramuka. Wilayah ini ditetapkan sebagai Basecamp Kampung Pramuka Kwartir Cabang Jakarta Utara.

Kehadiran unit usaha ini juga merambah ke penjualan tanaman hias, bibit anggur, hingga pupuk hasil olahan sendiri. Melalui kolaborasi ini, Pak Dani berharap semangat menjaga lingkungan dan kemandirian pangan dapat tertular ke generasi muda.

“Kami ingin masyarakat merasa memiliki lingkungan mereka sendiri. Dari yang dulu tempat buang sampah sembarangan, sekarang menjadi tempat yang bermanfaat bagi warga sekitar,” pungkasnya.

Kisah Pak Dani dan Gang Hijau Cemara menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan lahan di Jakarta bukanlah penghalang untuk menciptakan ketahanan pangan berbasis komunitas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....