Kisah Inspiratif Anak Nelayan Muara Gembong Jadi Pelaut Internasional
- 17 Mar 2026 09:09 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA– Darah pelaut tampaknya sudah mengalir deras di nadi seorang pria asal Muara Gembong ini. Lahir dari kedua orang tua yang merupakan nelayan tulen, Wardani (35) kini berhasil mengangkat derajat keluarga dengan bertransformasi dari nelayan pesisir menjadi pelaut kapal niaga yang melanglang buana hingga ke Benua Afrika.
Kisah perjalanannya tidaklah instan. Sejak masih duduk di bangku sekolah, ia sudah terbiasa melaut dan menjaring ikan. Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, ia memutuskan untuk merantau ke kawasan Kalibaru dan mulai serius menekuni dunia pelayaran profesional.
"Awalnya saya merantau ke Kalibaru, kebetulan ada kawan-kawan yang kumpul dengan pelayar. Saya tanya-tanya, akhirnya saya ambil pendidikan jalur umum (non-reguler) dan kursus diklat di STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) untuk mendapat sertifikasi," ungkapnya saat diwawancarai RRI Jakarta Senin 16 Maret 2026.
Berbekal sertifikasi tersebut, ia memulai karier pelayarannya pada tahun 2016. Pada awal kariernya, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun melayani rute lokal, membawa kapal dari kawasan Marunda menuju Kalimantan dan Sumatera. Namun, berkat ketekunannya, dalam empat tahun terakhir ia berhasil menembus rute luar negeri dengan tujuan pelayaran hingga ke Afrika.
Saat ini, ia bekerja di atas kapal Tugboat yang bertugas menarik tongkang berisi muatan tambang nikel. Bekerja jauh dari Tanah Air tentu bukan tanpa rintangan. Baginya, tantangan terberat sebagai seorang pelaut adalah menahan rasa rindu kepada keluarga, terutama kepada sang buah hati.
Meski demikian, kecanggihan teknologi saat ini menjadi pelipur lara di tengah lautan. "Suka dukanya ya jauh dari keluarga dan anak, pasti kangen. Tapi zaman sekarang semua terjamin, di kapal sudah dilengkapi Starlink. Jadi kalau mau di tengah laut atau di mana pun, internet aman dan komunikasi lancar," ceritanya.
Profesi pelaut menuntut komitmen waktu yang luar biasa. Ia menjelaskan bahwa sistem kerjanya menggunakan rotasi 6 bulan berlayar dan 2 bulan cuti. Sistem inilah yang membuat momen hari raya sering kali harus dilewatkan di atas lautan.
Oleh karena itu, bisa merayakan Lebaran di rumah bersama keluarga merupakan sebuah kemewahan dan kebetulan yang sangat ia syukuri tahun ini.
"Lebaran di rumah itu tidak mesti. Kadang-kadang kalau jadwal cutinya habis pas bulan puasa, dan H-2 Lebaran waktunya berangkat, ya kita tetap harus berangkat. Makanya Lebaran kali ini momen kebetulan saja pas sedang jadwal cuti di rumah. Dalam dua tahun terakhir, baru kali ini bisa dapat (Lebaran) di rumah, sebelumnya ya nggak pernah dapat," pungkasnya sambil tersenyum.
Kisah pelaut asal Muara Gembong ini menjadi bukti nyata bahwa kegigihan, kemauan untuk terus belajar meningkatkan kompetensi, serta keikhlasan dalam bekerja mampu membawa seseorang meraih kesuksesan, dari pesisir utara Bekasi hingga menyeberangi samudra menuju Afrika.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....