Suka Duka Supir Bus, Mengaspal di Jalur Mudik
- 14 Mar 2026 09:43 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan kehangatan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun, kemewahan tersebut nyatanya tidak bisa dirasakan oleh semua orang. Salah satunya adalah Yayat (52), seorang sopir bus antar-kota antar-provinsi (AKAP) yang harus merelakan momen berharga tersebut demi mengantarkan ribuan pemudik.
Menjadi pengemudi bus sejak tahun 2000, pria asal Tasikmalaya ini mengaku sudah lebih dari dua dekade selalu merayakan malam takbiran di atas aspal jalanan. Tuntutan profesi membuatnya tak pernah sekalipun mengambil cuti saat musim mudik Lebaran tiba.
"Setiap tahun selalu merayakan Lebaran (takbiran) di jalan. Selama lebih dari 20 tahun selalu seperti itu. Sedih banget rasanya, pengin kumpul sama keluarga, tapi biasanya baru bisa kumpul lima sampai tujuh hari setelah Lebaran," ungkap Yayat dengan mata yang sedikit berkaca-kaca saat ditemui belum lama ini. Kamis 12 Maret 2026.
Meski harus menahan rindu pada keluarga, Yayat tetap menjalankan tugasnya secara profesional. Ia biasanya mengendarai bus jurusan Terminal Tanjung Priok menuju Banjar, Jawa Barat, dengan waktu tempuh sekitar delapan jam jika lalu lintas normal. Selama musim mudik yang bisa memakan waktu hingga dua minggu (H-7 hingga H+7), ia harus siap siaga penuh.
Di balik pengorbanan besar para sopir bus, realita kesejahteraan mereka seringkali luput dari perhatian. Yayat menjelaskan bahwa dirinya tidak mendapatkan gaji bulanan seperti pekerja kantoran. Pendapatannya murni bergantung pada sistem ritase (jumlah perjalanan).
"Kita sistemnya tidak ada gaji bulanan. Kalau berangkat dapat uang, kalau libur ya tidak dapat," jelasnya.
Untuk satu kali perjalanan (rit), Yayat mengantongi upah sekitar Rp 200.000. Dalam sebulan, ia rata-rata bisa menyelesaikan 15 kali perjalanan. Saat musim mudik Lebaran, perusahaan tempatnya bekerja memang memberikan insentif atau bonus, namun jumlahnya sekadar setara dengan bayaran satu kali jalan.
Menjadi sopir bus lintas provinsi menuntut stamina yang prima. Untuk menjaga kebugarannya, Yayat memiliki prinsip hidup sehat yang cukup ketat. Ia menghindari minuman berasa, memperbanyak minum air putih, dan tidak merokok.
Sebelum berangkat, pihak perusahaan (PO) dan terminal juga selalu melakukan pemeriksaan kesehatan ketat, meliputi cek tekanan darah hingga gula darah. Selain itu, sistem kerja diatur sedemikian rupa agar sopir mendapatkan waktu istirahat satu hari penuh setelah menyelesaikan satu kali perjalanan pulang-pergi.
Bagi Yayat, hidup di jalanan adalah pilihan yang membawa suka dan duka tersendiri. Sukanya, ia merasa hidupnya lebih bebas dan tidak terikat aturan kaku layaknya pegawai kantoran. Namun, dukanya pun tak kalah berat, terutama jika armada bus mengalami kendala teknis di tengah jalan.
"Dukanya banyak banget. Salah satunya kalau mobil trouble (mogok) di jalan. Itu masalah banget, karena susah juga menjelaskannya ke penumpang. Apalagi kalau tidak ada mobil bantuan di belakangnya, repot," ceritanya. Beruntung, selama 26 tahun mengaspal, ia belum pernah menjadi korban tindak kejahatan jalanan seperti bajing loncat.
Di usia yang tak lagi muda, Yayat menaruh harapan agar pemerintah dan perusahaan otobus (PO) semakin memperhatikan kesejahteraan dan jaminan kesehatan para sopir bus. Ia bersyukur perusahaan tempatnya bernaung saat ini sudah memfasilitasi BPJS Ketenagakerjaan bagi para pengemudinya, sebuah perlindungan yang sangat berarti bagi mereka yang mempertaruhkan nyawa di jalan raya demi mengantarkan masyarakat bertemu keluarga tercinta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....