Belajar Hidup Berkelanjutan dari Arsitektur Karo

  • 28 Okt 2025 01:29 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Ketika dunia modern sibuk mencari konsep sustainable living, masyarakat Karo sejatinya telah lebih dulu mempraktikkannya sejak berabad-abad lalu. Melalui rumah adatnya yang disebut Siwaluh Jabu, mereka mengajarkan bagaimana manusia hidup selaras dengan alam, menjaga keseimbangan sosial, dan menanamkan nilai kebersamaan yang kuat.

Rumah adat Karo berdiri megah di antara kabut dataran tinggi Sumatra Utara. Bentuknya panggung, beratap runcing, dan seluruh konstruksinya disusun tanpa paku—hanya dengan sistem pasak dan ikatan rotan. Valentino Barus, Wakil Ketua Umum Batak Center, menyebut rumah ini sebagai cerminan hubungan harmonis antara manusia, leluhur, dan alam.

“Leluhur kita sudah menerapkan prinsip keberlanjutan jauh sebelum istilah sustainable living dikenal,” ujar Valentino dalam wawancara siaran radio 92,8 FM Pro4 RRI Jakarta, awal pekan diakhir bulan Oktober 2025.

Dalam konsep arsitektur Siwaluh Jabu, delapan keluarga tinggal di bawah satu atap tanpa sekat fisik. Setiap ruang dibagi berdasarkan sistem adat, mencerminkan struktur sosial yang disebut merga silima dan rakut si telu. Di sana, nilai gotong royong dan kesetaraan dijaga tanpa batas ego. “Delapan keluarga bisa hidup harmonis karena memahami peran sosialnya. Tak ada yang lebih tinggi, semua saling menopang,” ucap Valentino.

Dari sisi ekologis, menurut penelitian yang dipublikasi Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa menunjukkan bahwa rumah adat Karo dibangun dengan prinsip keseimbangan antara manusia dan alam. Struktur panggung menjaga kelembaban tanah dan melindungi dari binatang buas, sementara penggunaan bahan alami seperti kayu ulin dan ijuk memperkuat daya tahan tanpa merusak lingkungan. Filosofinya jelas: alam bukan untuk dieksploitasi, tapi diajak bersahabat.

Selain itu, rumah adat juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan hukum adat. Di dalamnya, setiap jabu atau ruang keluarga memiliki hak dan kewajiban yang diatur oleh adat. Keputusan penting, seperti perkawinan, warisan, hingga penyelesaian konflik, dilakukan lewat musyawarah di bawah atap yang sama. “Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, tapi pusat pendidikan karakter dan demokrasi tradisional,” kata Valentino menegaskan.

Dari data laman indonesia.travel yang kami akses pada Kamis 30 Oktober 2025, keunikan Siwaluh Jabu juga terletak pada ornamen dan ukiran yang sarat simbol. Motif geometris dan warna merah-hitam melambangkan keberanian, putih untuk kesucian, dan hijau untuk kesuburan. Keseluruhan desain menunjukkan bagaimana masyarakat Karo menempatkan seni, fungsi, dan filosofi dalam satu kesatuan yang utuh.

Namun, tantangan terbesar kini datang dari modernisasi. Banyak generasi muda Karo mulai kehilangan kedekatan dengan warisan leluhur. “Banyak yang mengenal rumah adat hanya dari foto, tanpa memahami makna di baliknya,” kata Valentino. Ia menilai perlu ada strategi edukasi budaya yang konkret agar generasi muda dapat belajar langsung dari sumbernya. Batak Center bersama lembaga pendidikan di Tanah Karo mengembangkan program kunjungan budaya dan integrasi pengetahuan lokal dalam kurikulum sekolah.

Media digital pun menjadi sarana baru. Valentino menyebut kampanye budaya di media sosial penting untuk menarik minat generasi muda. “Budaya harus dikomunikasikan dengan cara modern agar tetap hidup di hati anak muda,” ujarnya. Batak Center kini mendorong pembuatan video dokumenter pendek dan tur virtual Siwaluh Jabu agar lebih mudah diakses publik luas.

Penelitian dalam jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa juga menegaskan bahwa struktur ruang di dalam Siwaluh Jabu memuat sistem hukum dan moral tersendiri. Setiap penghuni memiliki tanggung jawab menjaga keharmonisan rumah, sebagaimana hukum adat yang menekankan musyawarah dan keseimbangan hak. Ini memperlihatkan bahwa rumah adat tidak hanya arsitektur, tapi juga “konstitusi sosial” masyarakat Karo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....