Anak Terjerat Bullying Digital, Luka yang Tak Terlihat

  • 27 Okt 2025 21:31 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Di balik layar ponsel yang tampak tenang, banyak anak dan remaja tengah berperang dengan kata-kata. Bullying di ruang digital atau cyberbullying kini menjadi bentuk kekerasan baru yang meninggalkan luka tanpa bekas, namun menghantam rasa percaya diri hingga depresi.

Bentuk yang paling umum adalah pelecehan verbal (harassment), pengucilan (exclusion), dan pertengkaran daring (flaming). “Remaja perempuan lebih banyak menjadi korban karena lebih aktif di media sosial,” tulis riset terbaru dari Universitas Karya Husada Semarang yang dipublikasikan dalam Journal Of Nursing Practice.

Di balik layar, kata-kata bisa jadi luka. UNICEF mengingatkan, cyberbullying bisa menyakiti tanpa sentuhan. (Foto: Ilustrasi/unicef)

Para peneliti yang melakukan penelitian terhadap 144 siswa SMA di Jawa Timur ini menunjukkan, 49 persen remaja korban cyberbullying memiliki tingkat kepercayaan diri sedang, bahkan sebagian kecil rendah. Kondisi ini berdampak pada munculnya rasa malu, tidak berdaya, dan keinginan menarik diri dari lingkungan sosial.

Di dunia maya, bentuk kekerasan yang terjadi tidak selalu berupa ancaman langsung. Menurut UNICEF, cyberbullying bisa muncul melalui penyebaran foto memalukan, pesan hinaan di grup WhatsApp, hingga komentar sarkastik di media sosial. Semua itu bisa dilakukan tanpa kehadiran fisik, tapi dengan dampak psikologis yang nyata.

“Yang berbahaya dari cyberbullying adalah jejak digitalnya. Ia tidak hilang begitu saja, dan bisa dilihat ribuan orang,” tulis UNICEF dalam laman edukasinya tentang keamanan digital anak.

Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 189 Jakarta, Puri Fitriani, menilai kekerasan verbal di dunia maya lebih sulit dikendalikan karena sering berada di zona abu-abu. “Kata yang dianggap lucu oleh satu orang bisa sangat menyakitkan bagi orang lain,” ujarnya.

Puri menambahkan, banyak pelaku tidak menyadari bahwa ucapan mereka sudah melukai. “Anak-anak perlu belajar empati digital—memahami bahwa emoji tertawa tidak selalu berarti orang lain ikut tertawa,” kata Puri.

UNICEF, lembaga dunia yang memperjuangkan hak-hak anak menegaskan bahwa setiap anak berhak merasa aman, baik di dunia nyata maupun maya. Dalam panduan globalnya, lembaga ini menekankan pentingnya tiga hal: literasi digital, empati sosial, dan sistem pelaporan yang mudah diakses oleh anak-anak.

Ocha, orang tua siswa SMA di Cibinong, mengaku khawatir dengan tren perundungan daring yang menimpa anaknya. “bullying tidak selalu berupa pukulan atau dorongan, omongan kasar, ejekan, dan hinaan juga termasuk bentuk bullying yang sering terjadi di sekolah," ucapnya.

Kembali ke riset Universitas Karya Husada Semarang, para peneliti menunjukkan, waktu penggunaan internet juga berperan penting. Rata-rata remaja menggunakan media sosial 8–12 jam per hari.

Dampak psikologisnya pun tak bisa diremehkan. Korban cyberbullying berisiko mengalami stres, gangguan tidur, kehilangan minat belajar, bahkan depresi. Dalam beberapa kasus ekstrem, korban merasa hidupnya tidak berharga.

Namun, penelitian juga mencatat sisi positif: hampir separuh responden tetap memiliki harga diri tinggi. Ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dari teman, guru, dan keluarga bisa menjadi benteng penting melawan perundungan digital.

Menurut UNICEF, langkah paling efektif adalah berbicara dengan orang dewasa tepercaya dan tidak membalas pelaku. “Mengabaikan pelaku, melaporkan konten, dan menyimpan bukti adalah langkah yang membantu menghentikan siklus kekerasan,” tulis UNICEF.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....