Ulos: Doa yang Ditenun, Identitas yang Dihidupi
- 20 Okt 2025 23:53 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Di tengah derasnya arus modernisasi, ulos tetap berdiri sebagai simbol kehidupan dan identitas masyarakat Batak. Lebih dari sekadar kain tenun, ulos adalah bahasa budaya yang menuturkan kasih sayang, doa, dan filosofi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat Batak, ulos bukan sekadar kain adat. Ia adalah simbol kehidupan yang menyertai manusia sejak lahir hingga akhir hayat. “Ulos itu bukan hanya penutup tubuh, tetapi juga penenun nilai, doa, dan kasih sayang antar generasi,” ujar Jery S. Sirait, Sekretaris Jenderal Batak Center, dalam wawancara radio 92,8 Pro4 RRI Jakarta pada Senin 20 Oktober 2025.

Ulos itu bukan cuma kain, tapi doa yang ditenun dan cinta yang diwariskan. (Foto: Ilustrasi/kemdikbud.go.id)
baca juga : Apresiasi Budaya Batak, di Pro4 RRI Jakarta
“Ketika seseorang meninggal, ulos menjadi tanda perpisahan yang penuh doa," Jery S. Sirait, Sekretaris Jenderal Batak Center
Setiap helai ulos memiliki makna. Jery S. Sirait mencontohkan, bayi yang baru lahir diselimuti ulos sebagai tanda kasih dan doa, sementara pada pernikahan, ulos diberikan sebagai simbol restu dan keberkahan. “Ketika seseorang meninggal, ulos menjadi tanda perpisahan yang penuh doa. Artinya, ulos hadir dalam setiap perjalanan hidup orang Batak,” ucapnya.
Data arsip RRI Sibolga menunjukkan, dalam tradisi Batak, ulos dipandang sebagai pelukan hangat yang melambangkan perlindungan dan cinta. “Ketika seseorang memberikan ulos, ia sedang memberikan doa agar penerimanya diberkati dan dijaga,” ucap Anton Silitonga, tokoh budaya Batak di Sibolga. Anton menjelaskan, makna ulos tidak pernah terlepas dari nilai sosial dan spiritual. Ia menjadi tanda kehormatan dalam upacara adat, sekaligus sarana mempererat kekerabatan.
Dalam jurnal ilmiah Nagur: Pendidikan Sejarah, Universitas Simalungun (2024), peneliti Romayani Sinaga dan tim menegaskan bahwa ulos merepresentasikan falsafah hidup masyarakat Batak Toba. Melalui motif dan warna, ulos memancarkan nilai harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Penelitian itu menyebut, Ulos Ragidup melambangkan kehidupan dan harapan panjang, Ulos Maratur mengiringi kelahiran, sementara Ulos Ragi Hotang menjadi simbol keabadian dalam kematian.
Lebih dari itu, ulos juga memiliki nilai pendidikan. Menurut penelitian tersebut, ulos dapat dijadikan sumber belajar sejarah karena mengandung pengetahuan tentang sistem sosial, teknologi tradisional, hingga spiritualitas Batak. “Dengan memahami ulos, siswa dapat belajar tentang sejarah dan nilai budaya leluhurnya,” tulis Romayani dalam laporannya.

Jery S. Sirait, Sekretaris Jenderal Batak Center, menekankan bahwa ulos bukan sekadar kain tradisional, melainkan simbol kehidupan dan identitas masyarakat Batak. (Foto: Batak Center)
Meski begitu, di tengah gempuran budaya global, ulos menghadapi tantangan serius. Jery menilai bahwa generasi muda Batak kini mulai kehilangan kedekatan dengan makna ulos. “Kalau nilai itu hilang, maka hilang pula sebagian jati diri kebudayaan Batak,” kata Jery menegaskan. Ia mengajak kaum muda untuk tidak sekadar memandang ulos sebagai benda adat, tetapi juga sebagai simbol kebanggaan identitas. “Kalau kita mengenakan ulos, kita membawa doa dan semangat leluhur,” ujarnya.
Jery juga mengapresiasi langkah RRI yang terus menghadirkan ruang bagi kebudayaan daerah. Menurutnya, media publik memiliki peran penting dalam menghidupkan kembali pemahaman budaya. “RRI menjadi jembatan antara tradisi dan generasi muda,” ucapnya dengan nada bangga.
Dari sisi ekonomi, ulos juga berkontribusi besar bagi masyarakat perajin di Toba dan Samosir. Pembuatan ulos masih dilakukan dengan alat tradisional dan bahan alami. Proses yang panjang dan teliti ini menjadikan ulos bukan hanya warisan budaya, tapi juga sumber penghidupan.
Ulos kini juga merambah dunia mode modern. Banyak desainer muda Batak yang mengadaptasi motif ulos ke dalam busana kontemporer, tas, dan aksesori. “Ulos bisa menjadi identitas modern yang membanggakan, asal dikemas dengan cara kekinian tanpa kehilangan makna,” ujar Jery.
Sebagai langkah konkret, ia mendorong sinergi antara pelaku budaya, pemerintah daerah, dan komunitas kreatif. “Digitalisasi bisa jadi jembatan pelestarian. Kalau anak muda bangga mengunggah foto memakai ulos di media sosial, itu bentuk promosi budaya yang hidup,” ujarnya.
Peneliti Universitas Simalungun juga menekankan bahwa pelestarian ulos perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan dan pemberdayaan ekonomi. Integrasi pengetahuan tentang ulos ke dalam kurikulum sekolah, misalnya, dapat meningkatkan kesadaran budaya sejak dini.
Pada akhirnya, ulos bukan hanya warisan benda, melainkan warisan nilai. Ia adalah doa yang ditenun menjadi karya seni, cinta yang dijahit menjadi simbol identitas. “Selama kita terus menenun makna ulos dalam kehidupan kita, ulos tidak akan pernah punah. Ia akan terus menjadi simbol kasih, kebersamaan, dan kebanggaan bagi bangsa Batak,” kata Jery S. Sirait.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....