Energi Gas, Ramah di Darat dan Laut
- 26 Sep 2025 09:11 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: “Tokotokokkotokokokkotok….” Deru suara mesin nelayan nyaring berbunyi, sore itu pukul 17.00 WIB waktunya nelayan pesisir Cilincing, Jakarta Utara menuju bagan guna menjaring ikan di lautan.
Di pesisir Jakarta ada ribuan nelayan pencari ikan yang menggantungkan hidupnya di atas bagan, mencari ikan di laut terdalam demi memenuhi tuntutan. Bergelut dengan anyir dan angin laut, para nelayan hanya menggunakan energi penerangan untuk menjala ikan.
Bagi nelayan pencari ikan di pesisir Cilincing, Jakarta Utara, sebelum energi gas membumi, menjamah kebutuhan nelayan, para nelayan meggantungkan hidup dengan energi lampu patromak, berbahan bakar minyak jenis spiritus yang harga dan penggunaan nya tak terjangkau.
Waktu berganti, alih energi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi gas LPG (Liquefied Petroleum Gas) mulai memenuhi kebutuhan rumah tangga. Jutaan masyarakat terbantu dengan hadirnya energi gas, "Ramah dan murah, " seperti yang dikatakan banyak Ibu Rumah Tangga.

Nelayan pesisir Cilincing menggunakan dua tabung gas melon ukuran 3kg dalam sekali melaut yang digunakan dari jam 18.00 - 06.00 WIB. Selasa (19/8). Foto: RRI/Ilyas.
Kini energi gas LPG mulai menjalar ke semua sektor, tidak hanya darat, energi ini telah menyentuh masyarakat pesisir yang bekerja di laut, menjadi alat penerangan ramah, dan terjangkau bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan nelayan saat mencari ikan dilautan terdalam.
Suara deru mesin belum berhenti, melintasi persatu bagan atau ternak kerang hijau sebagai budidaya unggulan masyarakat pesisir Cilincing. Dalam perjalanan menuju bagan, jarak antara daratan dengan bagan tidaklah terlalu jauh, sekira 2 hingga 3 mil perjalanan (1mil = 1,609344km) jarak antara daratan dan laut. Itulah mengapa masyarakat pesisir menyebutnya bagan pinggir yang memiliki kedalaman 7 – 15 meter.
Ukuran baganpun tidak terlalu besar tergantung dana yang dimiliki nelayan, untuk ukuran pada umumnya sekira 8x8 m/2 dengan biaya pembuatan 30 – 45 juta rupiah. Adapun unsur dari bagan terdiri dari bambu, jaring sebagai penjerat ikan, lampu, dan temali.
25 menit sudah perjalanan dari daratan menuju bagan, perahu pengantar nelayan ditambatkan untuk mengangkat beberapa barang penting yang dibawa dari darat. Dua tabung gas, generator, dan puluhan bolham lampu sebagai penerang. Menurut nelayan alat-alat ini tidak bisa ditinggal di atas bagan begitu saja, sebab selalu ada orang-orang usil yang ingin mengambilnya.
“krak..krak..krak…” suara bambu berbunyi, langkah kaki perlahan menaiki bagan setinggi kurang lebih 3 hingga 4 meter. Hari menjelang malam, Ari (45) salah satu nelayan bagan pesisir Cilincing yang sudah 15 tahun menjadi nelayan bagan mulai menempatkan puluhan bolham lampu ke beberapa titik di atas bagan. Satu penerangan bisa 45 hingga 60 wat berfungsi sebagai penerang untuk menarik ikan berkumpul.
Usai memasang lampu-lampu, Ari menghubungkan tabung gas 3kg dengan mini generator untuk menciptakan energy pijar cahaya. Tidak ada umpan yang diberikan pada ikan, ini berbeda dengan memancing yang membutuhkan umpan dalam menangkap ikan. Dalam menjaring ikan, nelayan bagan cukup memberikan lampu sebagai penerang, dengan penerangan yang cukup, otomatis akan mengundang ikan untuk berkerumun.
Menurut Ari, energi gas akan membantu nelayan bagan saat malam tiba, sebagai penerang guna mengundang ikan untuk mencari makanan dan berinteraksi dengan mahluk hidup lainnya.

Dengan pijat cahaya yang dihasilkan gas LPG, ikan-ikan akan berdatangan dan akan menjadi tangkapan nelayan. Rabu (20/8). Foto: RRI/Ilyas.
“Dengan menggunakan lampu sebagai sumber cahaya, ikan akan lebih mudah memastikan makanan utamanya, selanjutnya ikan akan terperangkap dalam jaring-jaring nelayan bagan,” ujar Ari ketika diwawancarai RRI, Rabu (20/8/2025).
Ari dan ribuan masyarakat nelayan merasa terbantu dengan adanya energi gas LPG, menurutnya energi ini lebih ramah dan murah untuk digunakan sebagai alat penerangan di laut, selain pembakaran LPG menghasilkan emisi yang lebih bersih dibandingkan BBM, sehingga mengurangi dampak polusi udara.
"Gas lah, lebih ramah dan murah, satu tabung 20 ribu rupiah, kita pake 2 tabung semalem itu masih sisa " ujar Ari.
Saat ini sudah lebih dari 10 tahun nelayan di pesisir Cilincing menggunakan energi gas sebagai alat penerang guna menjerat ikan. Kebutuhan gas LPG menurut Ari telah memberi manfaat banyak bagi lapisan masyarakat pesisir. Pemerintah melalui Kementrian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) kini telah gencar melakukan program konversi dari BBM (Bahan Bakar Minyak) ke BBG (Bahan Bakar Gas) untuk kapal nelayan.
“Alhamdulillah… BBG telah mengurangi biaya operasional, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan,” kata Ari.
Dalam sekali melaut para nelayan menurut Ari jika sedang along (banyak ikan) akan mendapatkan nilai yang tidak sedikit, mencapai Rp 500.000,- hingga Rp 2.000.000,- dengan jenis ikan dari ikan teri, bandeng, kakap, hingga alu-alu.
“Yah lumayan kalo lagi dapet dan musimnya ikan bisa jutaan kita dapet uang, yah kurang-kurangnya mah jika tidak ada ikan 200 ribu sudah dikantong,” terang Ari.
Ari bersama ribuan masyarakat nelayan di pesisir Jakarta memiliki harapan besar kepada Kementrian ESDM akan terciptanya energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan yang akan mampu menjadi swasembada energi khususnya bagi nelayan guna menjaga ketahanan dan kedaulatan energi untuk membangun Indonesia lebih baik khusunya bagi masyarakat pesisir.
Hari menjelang pagi, tepat pukul 06.00 WIB para nelayan telah berkemas pulang, perahu jemputan telah tertambat disisi bagan. Dari hasil tangkapan semalam, Ari mendapat 3 loa (tempat ikan terbuat dari anyaman bambu) ikan teri campur dan beberapa ikan kakap putih untuk dijual di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cilincing.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....