Ritual 'Nadran Larung Sesaji' di Pesisir Utara Jakarta

  • 23 Jul 2025 07:49 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Ritual "Nadran" larung sesaji sedekah laut atau masyarakat Jawa biasa menyebutnya 'Nyadran' digelar oleh para nelayan di pesisir pantai utara Jakarta, tepatnya di Muara Angke, Jakarta Utara. Selasa, (22/7/2025)

Ritual Nadran di laut Jakarta itu menurut informasi dari sejumlah tokoh dan para sesepuh warga setempat, ternyata sudah dua tahun terakhir tidak terlaksana dan baru tahun ini bisa kembali dilaksanakan sebagai wujud sukur kepada tuhan yang maha kuasa, melalui ritual sedekah kepada alam atau laut yang selama ini telah menjadi sumber penghidupan bagi warga atau para nelayan di kawasan Muara Angke dan sekitarnya.

Nadranan sendiri ternyata bagi warga nelayan di Muara Angke sudah menjadi budaya ritual turun-temurun sejak mereka menempati tanah basah di pesisir Jakarta.

Dalam kegiatan itu tampak ratusan masyarakat Muara Angke khususnya yang berprofesi sebagai nelayan, ikut serta turun ke tengah laut dengan prahu perahunya untuk mengikuti prosesi sakral (ritual) pelarungan sesaji.

Bahkan tidak hanya itu, untuk memeriahkan kegiatan tersebut ada juga pertunjukan seni budaya wayang kulit semalam suntuk dan gratis sebagai hiburan warga dan para tamu yang datang.

Dalam ritual larung sesaji ini ada dua replika perahu terbuat dari kayu dan bambu yang tampak sudah terisi berbagai keperluan untuk sesaji, seperti ada buah buahan, aneka makanan/jajanan, bunga warna warni (tujuh rupa), kepala kerbau dan satu lagi terisi dua kepala kambing dan lainnya dilarung ke tengah laut lepas sebagai persembahan atau sesaji. Meski demikian ada juga warga yang nekat nyebur ke laut untuk berebut sesaji.

Januri Heri Suroso (72), juru ruwat dalam ritual adat Nadranan di Muara Angke menjelaskan, bahwa tradisi Nadran sudah ada sejak turun-temurun yang dilakukan oleh masyarakat pesisir, khususnya nelayan, sebagai wujud syukur atas hasil laut dan permohonan keselamatan serta rezeki yang lebih baik di masa mendatang.

"Tradisi ini merupakan perpaduan antara budaya Hindu dan Islam, dengan unsur-unsur seperti sesajen yang diberikan kepada penguasa laut sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan, serta doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa," jelasnya.

Dalam banyak literatur Tradisi Nadran diyakini sudah ada sejak zaman Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-4. Ketika Islam masuk dan Kesultanan Cirebon berdiri, tradisi nadran mengalami akulturasi budaya, di mana unsur-unsur Islam ditambahkan ke dalam ritualnya, seperti pembacaan doa-doa dan sholawat.

Tradisi nadran juga digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam di kalangan masyarakat pesisir melalui ritual dan doa-doa yang dilakukan.

Saat ini tradisi Nadran masih dilakukan hampir di sepanjang pesisir pantai utara Jawa, bahkan ritualnya telah disesuaikan dengan tuntutan zaman.

Pada puncaknya usai seluruh ritual dilakukan juru ruwat merapal mantra dan doa. Fungsi juru ruwat seperti yang dilakukan oleh Januri Heri Suroso merupakn kunci dari ritual ini, sebab juru ruwatlah yang melakukan pembacaan doa-doa dan mantra, sejak pemotongan kepala kerbau hingga dilarungnya sesaji di laut.

Sesaji yang telaga diruwat pada akhirnya di larung ke laut dimana masyarakat mencari nafkah, sebagai bentuk sukur dan persembahan untuk permohonan keselamatan serta hasil tangkapan yang melimpah. (*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....