Bung Hatta Pernah Peringatkan Dunia Jangan Ulang Penjajahan
- 07 Jun 2025 11:05 WIB
- Jakarta
JIKA Mohammad Hatta masih hidup hari ini dan diminta menulis tentang kondisi dunia, mungkin ia hanya perlu mencetak ulang pidatonya yang disampaikan menjelang peringatan satu tahun kemerdekaan Indonesia. Kala itu, pada 16 Agustus 1946, dari balik mikrofon radio di Jakarta, Bung Hatta menegaskan:
“Alangkah anehnya dalam dunia internasional sekarang, jika sekiranya suatu negara yang telah merdeka dipaksa menjadi jajahan kembali! … Dunia yang semacam itu akan dimurkai oleh Tuhan, dan oleh karena itu tidak akan lama umurnya.”
Pidato itu lahir dalam suasana revolusi yang bergolak. Indonesia baru saja merdeka, tetapi masih menghadapi tekanan berat dari luar dan dalam negeri. “Termasuk pertentangan internal yang melemahkan perjuangan melawan Belanda,” kata Hatta. Namun ia tetap percaya, kekuatan utama bangsa justru lahir dari semangat persatuan rakyat.

Halaman depan buku karya Bung Hatta. Bung Hatta dalam pidato radio 1946 menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia tak bisa dicabut kembali. (Foto: RRI/Budi Prihantoro)
Satu Tahun Merdeka, Sebu ah Titik Balik
“Pendengar yang terhormat!
Merdeka!”...
Demikian seruan Bung Hatta membuka pidato radio yang kemudian dibukukan dalam tulisan berjudul Republik Indonesia Satu Tahun". “Tengah malam ini bermulalah hari baru. Hari baru yang ditunggu-tunggu dengan hati berdebar-debar oleh seluruh rakyat Indonesia. Tanggal 17 Agustus 1946... maka genaplah satu tahun kita merdeka.”
Dalam pidatonya, Hatta menegaskan bahwa rakyat Indonesia telah menjadi tuan di negerinya sendiri. “Amat sukar rasanya bagi rakyat kita akan hidup kembali sebagai rakyat jajahan,” ujarnya.
Wakil Presiden RI yang pertama mendampingi Presiden Soekarno ini dengan nada penuh keyakinan. Bagi Hatta, satu tahun pertama adalah bukti bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri.
“Republik semakin hari semakin kuat kedudukannya,” ucap Hatta, (halaman 111 Buku Karya Lengkap Bung Hatta: Kemerdekaan dan Demokrasi, terbitan LP3ES). Karena itu, lanjutnya, menjadi sangat janggal jika ada kekuatan internasional yang masih berusaha memutar balik sejarah dan menjadikan bangsa merdeka sebagai jajahan kembali.

Penyiar Pro1 RRI Jakarta Farid Kurniawan (kiri) sedang mewawancarai Halida Nuriah Hatta, putri bungsu sang proklamator (kanan) di Studio RRI, Selasa (3/6/2025). (Foto: RRI/Maulana Yusuf)
Empat Kebebasan
Hatta juga mengutip prinsip-prinsip universal yang harus ditegakkan setelah berakhirnya Perang Dunia II, seperti yang disampaikan oleh Presiden AS Franklin D. Roosevelt: kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, bebas dari rasa takut, dan bebas dari kesengsaraan hidup.
“Kalau dunia benar-benar ingin damai, tak mungkin ia menghilangkan kembali kemerdekaan suatu bangsa,” ujar Hatta.
Bung Hatta tidak sekadar berbicara secara normatif. Ia menyampaikan bukti konkret, seperti keberhasilan Indonesia memulangkan tawanan perang (APWI) dan mengirim bantuan beras ke India. “Ini bukti bahwa Republik kita tidak dapat dibatalkan begitu saja,” ucapnya.
Dalam pidato itu, Hatta juga mengecam rekayasa politik Belanda di Malino yang mencoba memecah-belah Indonesia melalui proyek negara boneka. “Sampai ke sidang konferensi Malino itu terdengar jeritan rakyat meminta diizinkan mengibarkan bendera Sang Merah Putih,” kata Hatta..

Halida Nuriah Hatta, putri bungsu sang proklamator (tengah) berfoto bersama dengan penyiar radio RRI PRo1 Jakarta Farid (kiri) dan Kepala LPP RRI Jakarta Agung Prasetya Umar (kanan) di Studio RRI, Selasa (3/6/2025). (Foto: RRI/Maulana Yusuf)
Suara Pemimpin yang Tumbuh dari Luka Bangsanya
Apa yang membuat pidato Bung Hatta tahun 1946 begitu menggugah bukan sekadar kata-kata yang ia pilih, melainkan posisi moral yang ia pegang teguh. Ia tidak bicara sebagai pemimpin yang meminta belas kasihan dunia, tetapi sebagai representasi bangsa yang sudah membuktikan dirinya dalam badai sejarah.
“Perjuangan kita belum selesai. Tetapi setahun merdeka adalah bukti bahwa dasar hidup bangsa kita telah tertanam,” ujar Hatta.
Ia menggambarkan bahwa selama setahun, Indonesia telah berhasil membangun organisasi negara, membentuk pemerintahan, dan memupuk disiplin di tengah masyarakat. Bahkan di tengah percobaan kudeta politik dari sebagian elit yang tak sabar, rakyat justru menunjukkan kebulatan hati. “Keadaan yang sehat telah kembali dalam beberapa minggu saja,” ucapnya.
Hatta juga menyoroti ironi global: saat dunia menyerukan damai, justru Indonesia — yang ingin damai — disodori perang. “Damai diserukan bagi dunia, tetapi perang diajukan kepada bangsa Indonesia yang ingin damai,” ucanya.
Hatta dan Kita: Menyuarakan Pikiran yang Tak Pernah Usang
Kini, pidato-pidato Hatta yang dibukukan dan tulisan-tulisan lainnya kembali digaungkan lewat program dokumenter radio bertajuk Hatta dan Kita yang disiarkan RRI Jakarta bersama Yayasan Bung Hatta. Dalam siaran perdana pada Selasa, 3 Juni 2025, Halida Nuriah Hatta, putri bungsu sang proklamator ingn menghidupkan kembali pemikiran ayahnya.
“Bung Hatta, saat menulis, selalu melakukan analisis, menggabungkan ilmu pengetahuan dengan kepekaan hati,” ujar Halida.
Ia menceritakan bagaimana Bung Hatta menulis karena kegelisahan, bukan untuk kepentingan pribadi. Sejak usia muda, ia sudah menulis cerita pendek “Nasibmu Hindaria” yang menggambarkan Indonesia sebagai perempuan cantik yang dijajah dan kehilangan martabat.
Halida juga mengenang masa kecil Bung Hatta yang menyaksikan kerabatnya diborgol oleh kolonial Belanda. “Ketidakadilan itu sangat mengusik hatinya,” ucap Halida. Dari pengalaman itulah tumbuh nasionalisme yang tajam dan konsisten.
“Kebenaran dan keadilan dapat diperkosa dan ditindas sementara waktu, lambat laun ia akan berlaku juga,” tulis Hatta dalam buku kumpulan pidatonya.
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....