Pulau untuk Sang Elang
- 29 Mei 2025 12:15 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Seekor burung elang bondol yang diselamatkan terekam sedang hinggap santai di puncak pohon cemara di pusat rehabilitasi dan suaka Elang Bondol di Pulau Kotok Besar, Kepulauan Seribu.
Benfika—pendiri JAAN—berdiri di bawahnya. Tangannya menggenggam ponsel. Di dalamnya, suara rekaman elang bondol diputar pelan. Bukan untuk hiburan. Tapi sebagai cara berkomunikasi. Menguatkan ikatan antara burung dan alam barunya.

Elang bondol liar tertangkap kamera sedang beristirahat di puncak pohon cemara. (Foto: RRI/Yanti Yusfid)
Elang Bondol menggunakan suara mereka sebagai alat komunikasi untuk berinteraksi dan menanggapi lingkungan sekitar.
"Sudah empat tahun dia tinggal di sini. Itu sarangnya. Kalau ditanya lagi ngapain, ya biasanya jam segini memang waktunya istirahat. Nanti kalau angin mulai turun, dia baru mulai soaring lagi—terbang tinggi di atas sini, cari makan," kata Mirzan seorang perawat hewan yang menjadi relawan untuk proyek konservasi JAAN.
Di Pulau Kotok, Benfika menceritakan salah satu kisah paling mengharukan tentang elang bondol bernama Gojlek dan Rani. Keduanya pasangan elang hasil rehabilitasi. Mereka menetaskan sembilan anak, sebelum akhirnya berpindah ke pulau lain dan… menghilang.
"GojLek dan Rani ini sempat punya keturunan sampai empat kali. Total anaknya itu kurang lebih sembilan ekor, karena pada penetasan terakhir, mereka menghasilkan tiga anak.
Itu cukup mengejutkan buat kami, karena biasanya elang bondol hanya bertelur dua butir setiap kali musim berkembang biak. Tapi waktu itu, ternyata mereka bisa bertelur sampai tiga, dan semuanya menetas," kata Benfika.
Setelah itu, GojLek dan Rani pindah pulau. Soalnya, waktu itu ada elang laut yang mulai menguasai wilayah Pulau Kotok ini, jadi mungkin mereka merasa terancam atau nggak nyaman.
"Akhirnya, Gojek dan Rani pindah ke pulau lain—kalau nggak salah ke Pulau Jagung. Kami sempat melakukan observasi juga di sana. Mereka masih bersama sebagai pasangan, dan sempat bertelur lagi satu kali. Kalau nggak salah, hasilnya dua anak.
Tapi setelah itu… kami kehilangan jejak GojLek dan Rani," kata Benfika.
Tahun 2012, Rani ditemukan dalam kondisi lemah… dan tak lama kemudian mati. GojLek… tak pernah terdengar lagi.
"Kami pernah menerima seekor elang dari seorang nelayan. Katanya, elang itu ditemukan di laut dan kemudian dibawa ke sini. Setelah kami periksa—karena semua elang yang ada di sini sudah kami pasangi chip penanda untuk memudahkan identifikasi—ternyata elang itu adalah pasangannya si GojLek, yaitu Rani.
Sayangnya, waktu itu kondisi Rani sudah sangat lemah dan akhirnya nggak tertolong," ujar Benfika menjelaskan.
Sejak saat itu, tidak diketahui ke mana perginya GojLek. Karena memang burung pemangsa ini termasuk tipe yang setia. Kalau pasangannya mati atau pergi, dia biasanya tidak akan mencari pasangan baru.
Saat artikel ini ditulis, sebanyak 47 burung pemangsa yang sedang menunggu proses pelepasliaran dari pusat rehabilitasi di Pulau Kotok dipindahkan ke Pulau Sumatera, keluar wilayah Jakarta tepatnya di Kalianda Lampung. Sejak program rehabilitasi ini dimulai pada tahun 2004, JAAN telah berhasil melepasliarkan 115 elang Bondol dan Elang Laut ke habitat aslinya di Kepulauan Seribu.

Dermaga Pulau Kotok Kepulauan Seribu Jakarta Utara. (Foto: RRI/Yanti Yusfid)
Suaka bagi Burung yang Tak Bisa Kembali ke Alam
Tidak jauh dari area rehabilitasi, terdapat kandang khusus untuk beberapa ekor elang yang tidak dapat dilepasliarkan karena ketidakmampuan mereka bertahan hidup di alam liar. Dulu, sebelum mereka dipindahkan ke Kalianda -basecame nya JAAN- sebanyak 47 ekor tinggal di dekat bungalow suaka burung di pulau Kotok Para aktivis JAAN menyebut mereka sebagai "duta proyek", karena kehadiran mereka mengingatkan pentingnya konservasi.
Tidak ada lagi sambutan khas mereka yang terdengar nyaring dari dalam kandang berjaring saat perahu kami merapat ke dermaga pada medio April 2025.
Padahal selama 20 tahun, burung-burung yang tidak beruntung menjadi penghuni kandang-kandang di pulau ini. Mereka tidak bisa terbang lagi. Sayap mereka telah dipotong hingga ke tulang oleh pedagang satwa liar untuk mencegah mereka melarikan diri.
"Tujuan kita di sini kan untuk melepasliarkan mereka kembali ke alam. Tapi kalau sudah cacat seperti itu, otomatis nggak bisa dilepasliarkan. Akhirnya, elang-elang seperti itu akan masuk ke semacam "panti jompo" untuk elang. Jadi, mereka dirawat di sini seumur hidup," ucap Mirzan.
JAAN mempekerjakan tiga orang staf penuh waktu di pulau tersebut, salah satunya Mirzan untuk merawat burung-burung ini.
Selain kandang-kandang yang ada di bagian depan pulau Kotok, menurut Mirzan, ada pula kandang lain yang tersembunyi - agar elang-elang ini tidak sering melihat manusia. Ini dilakukan supaya mereka dapat cepat beradaptasi di alam liar.
"Kita ke sana hanya ketika memberi makan, dan itu pun ketika mereka 'tidur'".

Benfika, aktivis konservasi Jakarta Animal Aid Network - JAAN sedang melihat keatas langit mencari sumber suara elang Bondol. (Foto: RRI/Yanti Yusfid)
Persiapan untuk Kembali ke Alam
Selain itu, ada kandang lain yang berada di atas laut di pinggir pulau yang digunakan sebagai tempat terakhir sebelum Elang ini dilepaskan.
"Kalau untuk sampai dilepasliarkan itu tak bisa kita tentukan, tergantung dari kesiapan elang tersebut. Dalam proses rehabilitasi kita hanya mengatur jalurnya saja," kata Mirzan menjelaskan tahapan yang harus dilalui elang-elang sebelum mereka menjalani 'hidup kedua'.
"Kalau untuk kesiapan elangnya, siap atau tidak, ada yang direhabilitasi hanya butuh cuma tiga bulan yang bisa dilepasliarkan. Tetapi ada hasil penyitaan dari anakan itu sampai sekarang enggak bisa terbang. Yang sulit itu adalah (elang) cacat mental plus cacatnya sudah fatal," kata Mirzan.
Mirzan, seorang perawat hewan yang sudah 10 tahun menjadi relawan untuk proyek konservasi JAAN, menjelaskan bahwa burung-burung tersebut harus dijauhkan dari manusia sebelum dilepasliarkan.
"Penting bagi mereka untuk tidak terlalu sering berinteraksi dengan manusia agar tidak terbiasa dengan kehadiran kita lagi,"* ucapnya. "Ini akan memudahkan proses pelepasliaran ke alam liar."
Selain elang bondol, di pulau Kotok juga dilakukan rehabilitasi elang laut yang juga tergolong satwa langka. Burung-burung ini diberi nama, dengan nama yang unik-unik.
Benfika, yang bekerja sama dengan Taman Nasional dalam program rehabilitasi Elang Bondol, telah melakukan pelepasliaran burung di berbagai lokasi.
"Setelah 20 tahun menjalankan program ini, kami bisa mengatakan bahwa program ini berhasil. Burung-burung yang telah dilepasliarkan kini berkembang biak di alam liar, yang menunjukkan bahwa mereka bisa hidup mandiri dan memiliki masa depan setelah rehabilitasi,"ujarnya.
Kabar ini pun sampai ke telinga Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno. Dalam wawancara singkat dengan wartawan Radio Republik Indonesia atau RRI Jakarta Rano menyampaikan perhatiannya.
“Saya belum pernah liat. Kamu harus antar saya kesana melihatya. Ini menarik,” Kata Rano Karno.
Rano berharap, rehabilitasi Elang Bondol di Pulau Kotok tetap berlanjut, atau mungkin dengan mencari suaka baru di lokasi lain.
“Mudah-mudahan elangnya nanti pindah ke Taman Mangrove kita,”ujarnya.

Selama satu dekade, Mirzan setia merawat para elang yang tak bisa kembali ke langit. (Foto: RRI/Yanti Yusfid)
Konservasi Berkelanjutan
Tanah untuk proyek ini merupakan pinjaman dari seorang pecinta alam yang, bersama keluarganya, memiliki bagian timur Pulau Kotok.
"Selama kami menggunakan pulau ini untuk melindungi alam, membantu burung pemangsa, dan merawat ekosistemnya, dia sepenuhnya mendukung kami," kata Benfika.

Kandang sosialisasi untuk sang elang. (Foto: RRI/Yanti Yusfid)
Maskot Hidup Kota Jakarta
Keberadaan burung elang bondol di wilayah DKI Jakarta dari waktu ke waktu dinilai semakin sulit dijumpai. Salah satu penyebabnya menurut dosen Biologi di Universitas Nasional atau UNAS Jakarta, Dr Tatang Mitra yaitu tempatnya untuk beristirahat dan berkembang biak semakin menyusut karena berganti menjadi pemukiman-pemukiman yang semakin padat penduduk.
Selain ruang hidupnya kian menyusut, ujarnya, menurunnya populasi burung elang bondol di Ibukota Indonesia itu juga dinilai karena perburuan liar masih marak.
Kondisi tersebut, lanjut dia, berbeda dengan saat dia masih kuliah. Ketika itu, pada saat dia melakukan pengamatan di pesisir Jakarta, ia masih kerapkali menjumpai burung dari subfilum vertebarata dari famili Accipitridae ini. Namun, seiring berjalannya waktu burung bersayap lebar ini semakin sulit ditemukan.
“Keberadaan elang bondol ini kan salah satunya bergantung pada pohon bakau. Jika pohon bakaunya berkurang karena tergantikan oleh pembangunan-pembangunan. Maka, dimana mereka akan tinggal? Bisa jadi mereka bergeser ke pulau-pulau yang minim dengan aktifitas manusia,” kata Tatang, akhir bulan April 2025 lalu.
Tatang pun menyayangkan kian asingnya burung elang bondol di provinsi yang memiliki sebelas pulau itu. Sebab, jika dilihat dari segi peranannya, di alam burung elang bondol mempunyai tugas yang signifikan sebagai penyeimbang ekosistem yaitu sebagai puncak predator.
Sebagai City Branding
Terlebih, kata Tatang, sejak tahun 1989 burung yang memiliki nama ilmiah Haliastur indus ini bahkan sudah ditetapkan menjadi salah satu maskot kota terbesar di Indonesia itu.
Dipilihnya elang bondol sebagai city branding Jakarta ini bukan tanpa alasan, bila merujuk pada Keputusan Gubernur DKI Jakarta No.1796 Tahun 1989.
Meskipun sudah ditetapkan sebagai maskot Jakarta sejak hampir empat dekade lalu. Namun, Tatang juga menilai, di kalangan masyarakat eksistensi burung elang bondol masih minim.
Dilain sisi, kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap maskot ini bisa juga diakibatkan oleh kurangnya sosialisasi yang dilakukan melalui representasi maskot ini dalam objek desain yang dekat dengan masyarakat.
Padahal, sebelumnya eksistensi elang bondol ini pernah ditampilkan pada logo obyek yang berhubungan dengan publik, seperti transportasi umum TransJakarta Blok M - Kota. "Meski yang dipasang waktu itu bukan elang Bondol Indonesia tapi jenis dari Amerika," kata Benfika. Representasi terbaru hewan ini adalah sebagai Momo, maskot dalam perhelatan Asian Para Games 2018 lalu.
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....