Nafas Kehidupan Nelayan Kompresor Teluk Jakarta

  • 26 Apr 2025 11:19 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Tokotokkotokotok....tok..tokk...’ suara gaduh dari cerobong asap mesin diesel 24pk mulai terdengar, memulai aktifitas para nelayan pesisir Cilincing, Jakarta Utara. Pagi-pagi selepas subuh para nelayan mengunduh rezekinya di antara deru pembangunan dan deretan kapal-kapal besi yang banyak berjejal di Teluk Jakarta. Nelayan kijing (kerang hijau) begitulah julukan sebagian warga yang telah terbiasa melihat aktifitas mereka. Sejak tahun 60-an Cilincing telah dikenal sebagai nelayan yang bermata pencaharian kerang hijau.

Cilincing memiliki rekam jejak sejarah yang panjang, tentang alam, manusia, dan warisan budaya yang masih melekat hingga kini. Meski keindahan pantainya sudah tidak sepopuler masa lalunya, namun, warisan budaya sebagai masyarakat nelayan hingga kini masih terlihat. Pantai pesisir yang berada di Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, memiliki garis pantai 5 km, terdiri dari 14 RW, saat ini dihuni oleh 72.077 jiwa. Masing-masing RW yang berbatasan dengan pessisir, memiliki karekteristik tersendiri dalam menjala ikan. Seperti di RW 01, hampir 70% masyarakatnya menjadi nelayan Kerang Hijau.

Budidaya kerang hijau di pesisir Cilincing sudah dicanangkan sejak era Gubernur Ali Sadikin menjabat. Kala itu perkembangan pelabuhan Tanjung Priok belum masif, bagan-bagan ikan dan ternak kerang hijau hasil budidaya masyarakat Cilincing sangat dikenal luas sebagai konsumsi utama warga Jakarta hingga luar Jakarta. Kerang hijau sendiri merupakan organisme yang termasuk kelas Pelecypoda, dizamannya banyak tersaji di restoran-restoran ternama di Ibu Kota, lezat dan banyak mengandung protein.

Zaman berganti, pelabuhan mulai melebarkan areanya hingga menjamah pesisir Cilincing. Bagan dan ternak-ternak nelayan mulai dikebiri, dengan alasan menghambat laju kapal-kapal besar yang ingin bersandar. Belum lagi limbah di Teluk Jakarta menjadi salah satu penyebabnya. Tingkat pencemaran logam berat di Teluk Jakarta tinggi karena perairan ini menjadi muara 13 sungai yang tercemar bahan toksik. Tangkapan nelayan mulai berkurang, hingga mempengaruhi cara tangkap nelayan kerang, yang awalnya hanya dari rumpon bambu.

Muncullah era baru, nelayan kompresor mulai menjamah pesisir Cilincing, sebab berternak dengan rumpon bambu telah mengalami kemunduran, selain memakan biaya yang mahal. Cara tangkap nelayanpun cenderung ekstream, untuk seorang nelayan pesisir yang telah menginjakkan kakinya di teluk Jakarta sebelum mesin industri bergaung. Dalam penyelaman, nelayan mengunakan kompresor dikedalaman 6-8 meter di laut, rata-rata para nelayan dapat menyelam bisa mencapai 30 menit dengan bantuan kompresor, semakin baik tekanan kompresornya semakin lama nelayan menyelam.

Iyus (49) salah satu penyelam kompresor, menceritakan suka dukanya yang telah menyelam selama 20 tahun dengan mesin kompresor, meskipun adiknya yang juga sebagai nelayan kompresor telah lebih dulu menghadap sang pencipta, Iyus masih tetap menjalani sebagai nelayan kompresor meskipun mesin ini sudah banyak memakan korban, namun, tuntutan perutlah yang membuatnya bertahan menjalani hidup dengan mesin pembunuh ini. Penyelaman yang dilakukan oleh nelayan kerang hijau dengan menggunakan kompresor sangat berbahaya karena sering kali kompresor yang digunakan tidak sesuai standar keamanan, sebab oksigen yang dihasilkan kompresor bisa tercampur gas C02 hasil pembuangan mesin diesel yang menggerakan kompresor.

‘Kompresor memang berbahaya, namun lebih berbahaya jika perut dan pendaringan kosong,’ ujar Iyus.

Dari tahun ke tahun, satu-persatu nelayan kompresor di Cilincing mulai berguguran. Data menyebut dalam kurun waktu 5 tahun, 8-10 nelayan kompresor meninggal, baik meninggal dengan cepat maupun perlahan. Meskipun penggunaan kompresor telah dilarang oleh pemerintah, aturan tersebut tercantum pada pasal 9 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tetang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Sayangnya, nelayan Cilincing sudah tergantung menggunakannya. Karena itu menurut Iyus harus ada pengganti dari kompresor yang lebih aman dan ramah lingkungan, jika nelayan ingin meninggalkannya.

‘Kepada yang masih menggunakan kompresor, setiap datang penyuluhan ‘jangan pakai kompresor’, mereka katakan, ‘ini demi kehidupan’ jika sudah soal perut siapa yang dapat melarang?’, ujar Iyus.

Terik mentari mulai menyengat, satu karung kerang hijau siap jual sudah didapat, dalam sehari mereka dapat meraih penghasilan Rp 100.000,- hingga Rp 200.000,-. Usai mengunduh nasib dilautan, bergegas para nelayan mengangkat sauh untuk kembali ke daratan. Di tengah kondisi teluk Jakarta yang kian hari kian memprihatinkan, masih ada nelayan yang setia mencari kerang-kerang sebagai makanan laut yang mengandung banyak gizi dan protein, meskipun harus bertaruh nyawa.

“ Saya berharap nelayan bisa berternak kijing lagi kaya dulu, biar nelayan ga susah nyari kerangnya, kasiankan kami juga butuh makan.” Keluh Iyus seperti mewakili para nelayan pesisir pantai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....