Potret Biduan Lampu Merah di Simpang Jalan Ibu Kota
- 29 Mar 2025 09:38 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Lampu merah sebagai alat pengatur lalu lintas, acapkali menjadi ruang bagi seniman untuk menyampaikan aspirasi. Asal tidak mengganggu aktifitas pengendara, kegiatan berkesenian menjadi lumrah dipandang mata, terlebih bagi mereka yang mencari pundi rupiah.
Seperti pengamen atau para biduan jalanan, hingga manusia silver yang saat ini menjadi kontroversi acapkali menggunakan lampu merah sebagai ruang tidak hanya untuk berekspresi namun lebih dari itu mencari rupiah untuk kebutuhan hidup.
Seperti Suryani asal Ambon, Maluku Tengah, usianya mendekati 50 tahun, ia menjadi biduan lampu merah sejak memilih kota Jakarta menjadi tempat singgah 27 tahun silam.
Seperti kaum urban lainnya yang mencari nafkah di Ibu Kota, dengan merintis berbagai keahliannya, Suryani memberanikan diri menjual suara merdunya menjadi biduan lampu merah.
"Karena saya suka menyanyi, " ujar Suryani.
Beberapa lampu merah telah ia jajaki sebagai tempat berekspresi, seperti lampu merah Setia Budi, lampu merah Harmoni, hingga Pal Merah. Waktu tidak terasa, 15 tahun sudah Suryani menjadi biduan lampu merah.
Pilihan hidup memang sulit, namun tidak ada yang dapat menyanggah hadirnya takdir. Panas terik, cemooh pengendara, hingga ditangkap dinas sosial, menjadi pembelajaran berharga bagi mereka para pencari rupiah di ibu kota.
Suryani bercerita sebelum dirinya berkutat sebagai biduan jalanan lampu merah, ia pernah menjadi TKW di Arab Saudi, dan Dubai, namun menjadi TKW tidak selalu memiliki kesuksesan dengan gaji besar seperti tanggapan banyak orang. Suryani prustasi lantaran gajinya selama mejadi TKW entah kemana. Hingga ia merantau untuk mengadu nasib di Ibu Kota.
Di ibu kota, Suryani tidak memiliki siapa-siapa, sebagai modal dasar untuk memulai harapan baru, ia memilih menjadi pengamen jalan yang mangkal di lampu merah.
"Saya cuma bisa menyanyi, tali engga bisa musik, " kata Suryani.
Suryani menjelaskan suka duka hingga penghasilannya selama memilih jalan menjadi biduan jalan. Ia mengatakan dalam sehari mengamen bisa mencapai Rp 100.000,- . Dalam mengamen pun Suryani tidak sendiri, ia membaur dengan pengamen lainnya di tepat yang ia singgahi.
Di bulan Ramadhan ini sejujurnya tak banyak ia menjadi ibadah puasa hal ini lantaran beratnya perjalanan hidup menjadi biduan jalanan. Hidup dari lampu merah ke lampu merah lainnya, membuat dirinya lelah, hingga rasa haus menguras tenaga. Meski demian ia tidak lupa menyisakan untuk membelikan pakean baru anak-anak nya untuk lebaran.
Menjadi ibu sekaligus bapak untuk ke empat anaknya yang tinggal bersama di kota Jakarta merupakan ujian terberat baginya. Terlebih dirinya hanya memiliki penghasil pas-pasan dan rumah untuk hidup adalah kolong jembatan. Suryani anggap ini adalah ujian Tuhan, syukurnya ia masih dapat bertahan dari terpaan ujian.
Surya berkata, ia masih diberi harapan kepada meraka yang suka memberi imbalan atas jasa suaranya. Namun hal ini tidak selalu membawa bahagia, terkadang ia bersama pengamen jalan lainnya menjadi incaran dinas sosial yang dianggap sebagai pengemis jalanan.
"Saya pernah ketangkap dinas sosial 3 kali, " ujar Suryani.
Meski menjadi incaran dinas sosial, ia tak patah arang untuk menyuarakan rintihan hidupnya di jalan, bukan untuk mengharap belas kasihan, apa lagi hanya menengadah kan tangan.
Sebagai Ibu dan ayah dari 4 anak-anak nya, Suryani berharap berkah dan kemudahan untuk penghidupan yang lebih baik dan layak. Ia juga berharap semiga Tuhan memberikan jodoh terbaik untuk dapat melangkah ke depan.
Yah, inilah sekelumit kisah para pencari nafkah di Jakarta, pria wanita, anak-anak hingga tua renta, mencari pengharapan untuk bertahan dari kerasnya kota Metropolitan. Seperti Suryani biduan disimpang jalan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....