Potret Akik Penjual Cobek Pasar Tanah Abang
- 27 Mar 2025 05:28 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Cobek dan ulekan sangat umum ditemukan di dapur-dapur Indonesia dan sering digunakan untuk menciptakan cita rasa autentik dalam masakan tradisional Indonesia.
Cobek biasanya terbuat dari batu atau kayu dan berbentuk bundar dengan permukaan cekung. Yah itulah definisi alat yang sering kali ditemukan di dapur-dapur untuk membuat bumbu-bumbu masakan seperti sambal, bumbu pecel, dan berbagai jenis bumbu lainnya.
Namun, pernahkah kita mendengar kisah penjual cobek keliling di kota Jakarta yang kaya akan warna-warni para pekerjanya.

Yah, seperti halnya kisah Kakek Abas, usianya mendekati 90 tahun, kakek asal Cirebon yang biasa di panggil abah ini di kenal di bilangan pasar Tanah Abang sebagai pedagang cobek didepan pintu bernuansa Chinis ini.
Tubuh yang sudah renta, jika berjalan pun Abah sudah tergopoh, terlebih ketika memikul cobek yang dijajakan kepada warga, ringkih tubuhnya seperti sudah tidak sanggup menahan beratnya beban.
Meaki sudah tidak dapat lagi berkeliling jauh untuk menjajakan dagangan cobeknya, Abah selalu menanti pelanggannya di depan pintu masuk rumah makan bernuansa Tionghoa.
Harga cobek beserta ulekannya dihargai Rp 50.000,- . Rata-rata menurut Abah para pembelinya justru berasal dari warga asing, seperti Malaysia yang ingin membeli cobek khas Indonesia sebagai koleksi di negaranya. Terkadangpun banyak pelanggan Abah berasal dari daerah seperti Sulawesi, hingga Sumatra.
Hasil yang diperoleh dalam sehari tidak seberapa dibandingkan kesabaran Abah untuk menjaga dagangan yang dititipkan kepadanya. Terkadang laku, terkadang tidak. Jika laku Abah hanya memperoleh upah 20-30 ribu rupiah, jika tidak laku, Abah hanya mendapatkan uang makan.
Usaha Abah dalam menjual cobekpun kerap menemui kendala. Salah satunya minat pembeli cobek yang semakin menurun. Apalagi cobek tergolong barang awet yang tidak rutin dibeli orang-orang. Tak jarang, tubuh renta Abah yang masih berdagang di usia renta, berakhir mendapat belas kasihan dari orang lain yang memberi nasi bungkus bukan membeli cobeknya.
Di usia yang sudah sepuh, Abah bersyukur masih diberi umur panjang dan keistikomahan sebagai penjual cobek. Ia mengalami rentetatan sejarah yang panjang.
Abah mengatakan, mengalami zaman penjajahan Belanda hingga Jepang. Ia pun mengalami masa pemerintahan baru yang dipimpin Bung Karno hingga presiden saat ini.
Pada masa mudanya Abah mengatakan hanya sebagai petani, yang bercocok tanam di kampung halamannya. Selebihnya kehidupan Abah mengalami pengembaraan yang panjang yang tak dapat dituturkan.
Sebagai orang tua yang usah sepuh Abah tidak lagi berharap pada tuntutan hidup selain untuk memakan. Sebab Abah tinggal sebatang kara, istri tiada, anakpun tak punya.
Dibulan Ramadhan Abah sudah tidak lagi kuat menahan dahaga dan haus, jerih payahnya sebagai pedagang di pasar Tanah Abang ia jadikan sebagai ladang ibadahnya disisa usia.
Abah bersama cobeknya merupakan potret kehidupan nyata para pekerja keras di Kota Jakarta. Menjalani takdir dari ketentuan yang kuasa akan memberi banyak pelajaran, hidup tidak boleh lemah, terus berjuang tanpa lelah, hingga usia menjemput raga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....